Tampilkan postingan dengan label Keluhan Digestif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluhan Digestif. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 24, 2011

Ca. Colon


Colorectal Cancer atau dikenal sebagai Ca. Colon atau Kanker Usus Besar adalah suatu bentuk keganasan yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix (usus buntu). Di negara maju, kanker ini menduduki peringkat ke tiga yang paling sering terjadi, dan menjadi penyebab kematian yang utama di dunia barat. Untuk menemukannya diperlukan suatu tindakan yang disebut sebagai kolonoskopi, sedangkan untuk terapinya adalah melalui pembedahan diikuti kemoterapi.

Gejala

Mula-mula gejalanya tidak jelas, seperti berat badan menurun (sebagai gejala umum keganasan) dan kelelahan yang tidak jelas sebabnya. Setelah berlangsung beberapa waktu barulah muncul gejala-gejala lain yang berhubungan dengan keberadaan tumor dalam ukuran yang bermakna di usus besar. Makin dekat lokasi tumor dengan anus biasanya gejalanya makin banyak. Bila kita berbicara tentang gejala tumor usus besar, gejala tersebut terbagi tiga, yaitugejala lokal, gejala umum, dan gejala penyebaran (metastasis).
Gejala lokalnya adalah :
  • Perubahan kebiasaan buang air
    • Perubahan frekuensi buang air, berkurang (konstipasi) atau bertambah (diare)
    • Sensasi seperti belum selesai buang air, (masih ingin  tapi sudah tidak bisa keluar) dan perubahan diameter serta ukuran kotoran (feses). Keduanya adalah ciri khas dari kanker kolorektal
    • Perubahan wujud fisik kotoran/feses
      • Feses bercampur darah atau keluar darah dari lubang pembuangan saat buang air besar
      • Feses bercampur lendir
      • Feses berwarna kehitaman, biasanya berhubungan dengan terjadinya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas
  • Timbul rasa nyeri disertai mual dan muntah saat buang air besar, terjadi akibat sumbatan saluran pembuangan kotoran oleh massa tumor
  • Adanya benjolan pada perut yang mungkin dirasakan oleh penderita
  • Timbul gejala-gejala lainnya di sekitar lokasi tumor, karena kanker dapat tumbuh mengenai organ dan jaringan sekitar tumor tersebut, seperti kandung kemih (timbul darah pada air seni, timbul gelembung udara, dll), vagina (keputihan yang berbau, muncul lendir berlebihan, dll). Gejala-gejala ini terjadi belakangan, menunjukkan semakin besar tumor dan semakin luas penyebarannya
Gejala umumnya adalah :
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas (ini adalah gejala yang paling umum di semua jenis keganasan)
  • Hilangnya nafsu makan
  • Anemia, pasien tampak pucat
  • Sering merasa lelah
  • Kadang-kadang mengalami sensasi seperti melayang
Gejala penyebarannya adalah :
  • Penyebaran ke Hati, menimbulkan gejala :
    • Penderita tampak kuning
    • Nyeri pada perut, lebih sering pada bagian kanan atas, di sekitar lokasi hati
    • Pembesaran hati, biasa tampak pada pemeriksaan fisik oleh dokter
  • Timbul suatu gejala lain yang disebut paraneoplastik, berhubungan dengan peningkatan kekentalan darah akibat penyebaran kanker.

Tingkatan / Staging / Stadium Kanker Kolon

Terdapat beberapa macam klasifikasi staging pada kanker kolon, ada klasifikasi TNM, klasifikasi Dukes, namun yang akan saya jabarkan klasifikasinya adalah sebagai berikut (mirip dengan klasifikasi Dukes) :
  • Stadium 1 : Kanker terjadi di dalam dinding kolon
  • Stadium 2 : Kanker telah menyebar hingga ke lapisan otot kolon
  • Stadium 3 : Kanker telah menyebar ke kelenjar-kelenjar limfa
  • Stadium 4 : Kanker telah menyebar ke organ-organ lain

Faktor Resiko

Siapa saja yang bisa terkena kanker kolon ini ? Berikut adalah faktor-faktor yang meningkatkan resiko seseorang terkena kanker kolon :
  1. Usia. Resiko meningkat dengan bertambahnya usia. Kebanyakan kasus terjadi pada usia 60 – 70 an, dan jarang di bawah usia 50 kecuali dalam sejarah keluarga ada yang terkena kanker kolon ini.
  2. Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. Dengan dihilangkannya polip pada saat ditemukan turut mengurangi resiko terjadinya kanker kolon di kemudian hari.
  3. Riwayat kanker. Seseorang yang pernah terdiagnosis mengidap atau pernah dirawat untuk kanker kolon beresiko untuk mengidap kanker kolon di kemudian hari. Wanita yang pernah mengidap kanker ovarium (indung telur), kanker uterus, dan kanker payudara memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena kanker kolorektal.
  4. Faktor keturunan :
    1. Sejarah adanya kanker kolon khususnya pada keluarga dekat.
    2. Penyakit FAP (Familial Adenomatous Polyposis) – Polip adenomatosa familial (terjadi dalam keluarga); memiliki resiko 100% untuk terjadi kanker kolorektal sebelum usia 40 tahun, bila tidak diobati.
    3. Penyakit lain dalam keluarga, seperti HNPCC (Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer) – penyakit kanker kolorektal non polip yang menurun dalam keluarga, atau sindroma Lynch
  5. Penyakit kolitis (radang kolon) ulseratif yang tidak diobati.
  6. Kebiasaan merokok. Perokok memiliki resiko jauh lebih besar untuk terkena kanker kolorektal dibandingkan bukan perokok.
  7. Kebiasaan makan. Pernah di teliti bahwa kebiasaan makan banyak daging dan sedikitbuah, sayuran, serta ikan turut meningkatkan resiko terjadinya kanker kolorektal.
  8. Sedikit beraktivitas. Orang yang beraktivitas fisik lebih banyak memiliki resiko lebih rendah untuk terbentuk kanker kolorektal.
  9. Inveksi Virus. Virus tertentu seperti HPV (Human Papilloma Virus) turut andil dalam terjadinya kanker kolorektal.

Bagaimana Mendeteksinya ?

Kanker kolorektal dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang, sehingga deteksi dini sangat berpengaruh terhadap kemungkinan sembuhnya. Bila Anda termasuk seseorang yang beresiko untuk terkena, ada baiknya Anda melakukan pemeriksaan screening. Pemeriksaan itu adalah :
  • Pemeriksaan rektal dengan jari (Digital Rectal Exam), di mana dokter memeriksa keadaan dinding rektum sejauh mungkin dengan jari; pemeriksaan ini tidak selalu menemukan adanya kelainan, khususnya kanker yang terjadi di kolon saja dan belum menyebar hingga rektum.
  • Pemeriksaan darah dalam tinja.
  • Endoskopi. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat karena selain melihat keadaan dalam kolon juga bisa bertindak, misalnya ketika menemukan polip endoskopi ini dapat sekaligus mengambilnya untuk kemudian dilakukan biopsi.
  • Pemeriksaan barium enema dengan double contrast.
  • Virtual Colonoscopy.
  • CAT Scan.
  • Pemeriksaan kadar CEA (Carcino Embryonic Antigent) darah.
  • Whole-body PET Scan Imaging. Sementara ini adalah pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorektal rekuren (yang timbul kembali).
  • Pemeriksaan DNA Tinja.

Bagaimana Perawatannya ?

Perawatan penderita tergantung pada tingkat staging kanker itu sendiri. Terapi akan jauh lebih mudah bila kanker ditemukan pada stadium dini. Tingkat kesembuhan kanker stadium 1 dan 2 masih sangat baik. Namun bila kanker ditemukan pada stadium yang lanjut, atau ditemukan pada stadium dini dan tidak diobati, maka kemungkinan sembuhnya pun akan jauh lebih sulit.
Di antara pilihan terapi untuk penderitanya, opsi Operasi masih menduduki peringkat pertama, dengan ditunjang oleh kemoterapi dan/atau radioterapi (mungkin diperlukan).

Pembedahan

Tindakan ini dibagi menjadi Curative, Palliative, Bypass, Fecal diversion, dan Open-and-close.Bedah Curative dikerjakan apabila tumor ditemukan pada daerah yang terlokalisir. Intinya adalah membuang bagian yang terkena tumor dan sekelilingnya. Pada keadaan ini mungkin diperlukan suatu tindakan yang disebut TME (Total Mesorectal Excision), yaitu suatu tindakan yang membuang usus dalam jumlah yang signifikan. Akibatnya kedua ujung usus yang tersisa harus dijahit kembali. Biasanya pada keadaan ini diperlukan suatu kantong kolostomi, sehingga kotoran yang melalui usus besar dapat dibuang melalui jalur lain. Pilihan ini bukanlah suatu pilihan yang enak akan tetapi merupakan langkah yang diperlukan untuk tetap hidup, mengingat pasien tidak mungkin tidak makan sehingga usus juga tidak mungkin tidak terisi makanan / kotoran; sementara ada bagian yang sedang memerlukan penyembuhan. Apa dan bagaimana kelanjutan dari kolostomi ini adalah kondisional dan individual, tiap pasien memiliki keadaan yang berbeda-beda sehingga penanganannya tidak sama.
Bedah paliatif dikerjakan pada kasus terjadi penyebaran tumor yang banyak, dengan tujuan membuang tumor primernya untuk menghindari kematian penderita akibat ulah tumor primer tersebut. Terkadang tindakan ini ditunjang kemoterapi dapat menyelamatkan jiwa. Bila penyebaran tumor mengenai organ-organ vital maka pembedahan pun secara teknis menjadi sulit, sehingga dokter mungkin memilih teknik bedah bypass atau fecal diversion (pengalihan tinja) melalui lubang. Pilihan terakhir pada kondisi terburuk adalah  open-and-close, di mana dokter membuka daerah operasinya, kemudian secara de facto melihat keadaan sudah sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dilakukan apa-apa lagi atau tindakan yang akan dilakukan tidak memberikan manfaat bagi keadaan pasien, kemudian di tutup kembali. Tindakan ini sepertinya sudah tidak pernah dilakukan lagi mengingat sekarang sudah banyak tersedia laparoskopi dan radiografi canggih untuk mendeteksi keberadaan dan kondisi kanker jauh sebelum diperlukan operasi.

Terapi Non Bedah

Kemoterapi dilakukan sebagai suatu tindakan untuk mengurangi terjadinya metastasis (penyebaran), perkembangan sel tumor, mengecilkan ukurannya, atau memperlambat pertumbuhannya. Radioterapi jarang digunakan untuk kanker kolon karena memiliki efek samping dan sulit untuk ditembakkan ke bagian yang spesifik pada kolon. Radioterapi lebih sering pada kanker rektal saja. Imunoterapi sedang dikembangkan sebagai terapi tambahan untuk kanker kolorektal. Terapi lain yang telah diujicoba dan memberikan hasil yang sangat menjanjikan adalah terapi Vaksin. Ditemukan pada November 2006 lalu sebuah vaksin bermerek TroVax yang terbukti secara efektif mengatasi berbagai macam kanker. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan sistem imun penderita untuk melawan penyakitnya. Fase ujicobanya saat ini sedang ditujukan bagi kanker ginjal dan direncanakan untuk kanker kolon. Terapi lainnya adalah pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi metastasisnya(penyebaran tumornya).
Nah selain dari terapi non bedah di atas, yang juga tak kalah pentingnya adalah Terapi Suportif. Diagnosis kanker sangat sering menimbulkan pengaruh yang sangat besar pada kejiwaan penderitanya. Karenanya dorongan dari rumah sakit, dokter, suami/istri, kerabat, keluarga, social support group sangat penting bagi penderitanya.

Rabu, Maret 23, 2011

DIARE


Kuliah oleh : dr Djalalludin Sp.Pd
Bag Ilmu Penyakit Dalam FK UNLAM/RSUD ULIN Banjarmasin



Pendahuluan
n  Diare merupakan respon tubuh terhadap keadaan tidak normal.
n  Terapi kausal penting
n  Definisi: Diare akut atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses yang tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekwensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam, dan berlangsung kurang dari 2 minggu (Lebih dari 2 minggu masuk diare kronik).
n  Pada feses dapat dengan atau tanpa lendir, darah, atau pus.
n  Gejala ikutan dapat berupa mual, muntah, nyeri abdominal, mulas, tenesmus, demam dan tanda-tanda dehidrasi.  

Klasifikasi dan Patofisiologi
n  Lama diare: akut/kronik
n  Berat ringan
n  Etiologi:  infeksi, intoksikasi (poisoning), alergi, reaksi obat-obatan, dan juga faktor psikis.
n  Pendekatan Klinik:
•          Inflamatory (proses invasion dan cytotoxin)
•          Non inflammatory (adanya enterotoksin)
•          Penetrating (demam disertai diare)

Diare Akut
Karakteristik Diare Akut

Epidemiologi
n  Gambaran klinis diare akut acapkali tidak spesifik.
n  Riwayat traveling (domestik atau internasional)
n  Kontak personal.
n  Adanya sangkaan food-borne transmisi dengan masa inkubasi yang pendek.
n  Jika tidak ada demam, menunjukkan adanya proses mekanisme enterotoksisn.
n  Sebaliknya, bila ada demam dan masa inkubasi yang lebih panjang, ini karakteristik suatu etiologi infeksi.

Etiologi Infeksi
Virus :
n  Rotavirus
n  Norwalk virus
n  Astrovirus
n  Adenovirus
n  Small bowel structured virus
n  Cytomegalovirus
Bakteri :
n  Enterotoxigenic E.coli (ETEC).
n  Enterophatogenic E.coli (EPEC).
n  Enteroaggregative E.coli (EAggEC).
n  Enteroinvasive E.coli (EIEC).
n  Enterohemorrhagic E.coli (EHEC).
n  Shigella spp.
n  Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni).
n  Vibrio cholerae 01 dan V.choleare 0139.
n  Salmonella (non thypoid)
Protozoa
n  Giardia lamblia.
n  Entamoeba histolytica.
n  Cryptosporidium.
n  Microsporidium spp
n  Isospora belli
n  Cyclospora cayatanensis
Helminths :
n  Strongyloides stercoralis.
n  Schistosoma spp.
n  Capilaria philippinensis
n  Trichuris trichuria.

Diagnosis
n  Anamnesis
n  Fisik
n  Penunjang

Penentuan Derajat Dehidrasi
n  Klinis
n  BJ Plasma:
•          Berat 1,032-1,040
•          Sedang 1,028-1,032
•          Ringan 1,025-1,028
n  CVP (N =4-11 cm H2O)

Derajat Dehidrasi
n  Ringan (hilang cairan 2-5 % BB)
n  Sedang (hilang cairan 5-8 % BB)
n  Berat  (hilang cairan 8-10 % BB)

Pemeriksaan Penunjang
n  feses rutin
n  kultur feses
n  Indikasi pemeriksaan kultur feses antara lain, diare berat, suhu tubuh > 38,50C, adanya darah dan/atau lender pada feses, ditemukan leukosit pada feses, laktoferin, dan diare persisten yang belum mendapat antibiotik.

Terapi
n  Kadang sembuh sendiri meskipun tanpa pengobatan.
n  Prinsip pengobatan adalah menghilangkan kausa diare dengan memberikan antimikroba yang sesuai dengan etiologi
n  Terapi supportive atau fluid replacement dengan intake cairan yang cukup atau dengan Oral Rehidration Solution (ORS).
n  Terapi simtomatik?

Tatalaksana
n  Rehidrasi
n  Diet
n  Obat anti diare?
n  Antimikroba

Pengelolaan
n  Keseimbangan cairan
n  Keseimbangan elektrolit
n  Makanan
n  Hati-hati pada pemberian anti diare
n  Sesuai penyebab
n  BJ Plasma
Kebutuhan cairan = BJ Plasma-1,025
 0,001
X BB X 4 ml
                                               
Daldiyono
Kebutuhan cairan= Skor X 10% X
                                        15
kgBBx 1 liter

Skor Daldiyono


klinis
skor
haus/muntah
1
sistolik 60-90 mmHg
1
sistolik< 60 mmHg
2
Nadi >120 x/menit
1
apati
1
somnolen, sopor atau koma
2
Nafas > 30x/menit
1
facies cholerica
2
vox cholerica
2
turgor kulit turun
1
washer woman's hand
1
ekstremitas dingin
1
sianosis
2
umur 50-60
1
umur > 60 tahun
2

n  2 jam rehidrasi sesuai jumlah kekurangan
n  1 jam berikutnya berikan sejumlah kehilangan cairan 2 jam. Bila skor kurang dari 3 bisa po
n  Jam berikutnya IWL dan tinja


Indikasi Pemberian Antibiotik
Pilihan Antibiotik
Demam (suhu oral >38,50C), bloody stools,leukosit, laktoferin, hemoccult, sindroma disentri
Kuinolon 3 – 5 hari
Kotrimoksazole 3 – 5 hari
Traveler’s diarrhea
Kuinolon 1 – 5 hari
Diare persisten (kemungkinan Giardiasis)
Tinidazole 1x 2 g 3 hari
Metronidazole 3x500 mg selama 7 hari
Shigellosis
Kotrimoksazole selama 3 hari
Kuinolon selama 3 hari
Intestinal Salmonellosis
Kloramfenikol/Kotrimoksazole/Kuinolon selama 7 hari
Campylobacteriosis
Eritromisin selama 5 hari
Klaritromisin 4x250 mg 5 hari
EPEC
Terapi sebagai Febrile Dysentry
ETEC
Terapi sebagai Traveler’s diarrhea
EIEC
Terapi sebagai Shigellosis
EHEC
Peranan antibiotik belum jelas
Vibrio non kolera
Terapi sebagai febrile dysentery
Aeromonas diarrhea
Terapi sebagai febrile dysentery
Yersiniosis
Umumnya dapat di terapi sebagai febrile dysentri.Pada kasus berat : Ceftriaxon IV 1 g/6 jam selama 5 hari
Giardiasis
Atau Tinidazole 1x 2 g 3 hari atau
Metronidazole 4 x 250 mg selama 7 hari.
Intestinal Amebiasis
Tinidazole 1x2 g (3 hari) pilihan 1
Metronidazole 3 x 750 mg 5 – 10 hari + pengobatan kista untuk mencegah relaps:
Diloxanide furoate 3 x 500 mg 10 hari
Cryptosporidiosis
Paromisin 3x500-1000mg (14 hari)
Azitromisin 1x500 mg (3 hari)
Untuk kasus berat atau immunocompromised :

Diare Kronik
n  Diare yang berlangsung lebih dari 15 hari
n  BAB> 3 x/hari
n  Berat tinja >250 gram
n  Tinja > encer

Penyebab
n  Kolitis
n  Crohn
n  Radiasi
n  AIDS
n  Bakteri,
n  cacing,
n  amuba,
n  giardia lamblia,
n  jamur
n  Intoleransi
n  Gastroktomi
n  Defisiensi laktase
n  Laksansia
n  Insufisiensi pankreas
n  Hipertiroid
n  DM
n  IBS
n  Mal absorbsi

Pemeriksaan
n  Anamnesis
n  Fisik
n  Laboratorium: darah, feses
n  Pemeriksaan lanjutan 

DEMAM TIFOID



Kuliah oleh : dr Djalalludin Sp.Pd
Bag. Ilmu Penyakit Dalam  FK UNLAM/RSUD ULIN Banjarmasin

n  Pengertian          : penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi.
n  Tersebar di seluruh dunia
n  Insidensi tinggi tergantung berbagai faktor risiko.
n  Insidensi di Indonesia 350-810/100000/tahun
n  Kematian tetap tinggi oleh komplikasi
n  Problem post kloramfenikol: relaps, resistensi, gambaran klinik insidious, komplikasi

Epidemiologi
n  Seluruh dunia
n  Paratifoid (10-30%)
n  Cuaca berhubungan dengan penularan
n  Tidak ada peran genetik
n  Insidensi tinggi pada usia paruh baya
n  Insidensi Laki dan perempuan tidak berbeda

Etiologi
n  Pertama Ebert (1880) – erbethella typhosa
n  William Bud (1886) Salmonella typhi
n  Acard dan Besandi (1896) Salmonella paratyphi
n  S typhi dan S paratyphi→ Salmonella group → enteric fever
n  Paratyphoid→mild
n  Basil Gram negatif
n  Tidak berspora
n  Diameter 2-4-1/2 nm
n  Aerob, motil
n  Mati pada air mendidih dalam 15 menit
n  Di tempat kering mati dalam beberapa jam
n  Dapat di kultur
n  Bisa diidentifikasi reaksi antigen
n  Antigen H, O dan Vi

Patogenesis
n  Bakteri masuk melalui oral
n  Bakteremia (24-72 jam) berkembang dimana saja, tu di sal cerna, lien, dan empedu
n  Gejala klinik dipengaruhi oleh endotoksin

Pato-anatomi
n  Fase Bakteremia – 7 hari – hati, empedu, lien, ginjal dan sumsum
n  Plaques peyeri:
•          Mg 1 inflamasi, hiperflasi
•          Mg 2 nekrosis
•          Mg 3 ulkus
•          Mg 4 sembuh
n  Empedu: sumber bakteria
n  Pembesaran lien

Diagnosis
n  Anamnesis: demam naik secara bertangga pada minggu pertama lalu demam menetap atau remiten pada minggu ke -2.
n  Demam terutama sore atau malam hari
n  Sakit kepala.
n  Nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare.

Pemeriksaan fisik
n  Febris, kesadaran berkabut, bradikardi relatif, lidah berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah, serta tremor) hepatomegali, splenomegali, nyeri abdomen, roseola(demam tinggi dan akhirnya disertai kemunculan rash berwarna merah muda di tubuh dan ekstrimitas, sering terjadi pada anak-anak).

Laboratorium
n  Dapat ditemukan lekopeni, lekositosis, atau normal, aneosinofilia, limfopenia, peningkatan LED, anemia ringan, trombositopenia, gangguan fungsi hati
n  Kultur darah
n  Peningkatan Widal≥ 4 kali

Gejala
n  Demam
n  Sakit kepala
n  Anoreksia
n  Menggigil
n  Nyeri
n  Mual  
n  Diare
n  Obstipasi
n  Nyeri perut
n  Distensi
n  delirium

Tanda
n  Demam
n  splenomegali
n  Hepatomegali
n  Toksemia
n  Bradikardi relatif
n  Obstipasi
n  Distensi perut
n  Roseolae 

Manifestasi khusus
n  Hepatitis Tifosa: memenuhi 3  dari kriteria Khosla (1990):
•          Hepatomegali
•          Ikterus
•          Kelainan laboratorium (bil>30,6 µmol/l, peningkatan SGOT/SGPT, penurunan indeks PT)
•          kelainan histopatologi
n  Tifoid karier: Ditemukan kuman S typhi dalam biakan feses atau urin seseorang tanpa tanda klinis infeksi atau pada seseorang setelah 1 tahun paska infeksi

Diagnosis Banding
n  Infeksi virus
n  Malaria

Pemeriksaan Penunjang
n  Darah perifer lengkap
n  Test fungsi hati
n  Serologi
n  Kultur darah

Terapi
•       Non farmakologi: tirah baring, makanan lunak rendah serat
•       Farmakologi:
–      Simtomatis
–      Antimikroba
•       Pilihan utama: kloramfenikol 4x500 mg
•       Alternatif lain: Tiamfenikol ,Kotrimoksasol , Ampisilin, Fluorokuinolon: Norfloksasin, siprofloxasin, oflofloksasin, peflofloksasin, fleroksasin
Tifoid Kanker
•       Tanpa kolelitiasis
–      Ampisilin 100 mg/kgBB/hari + probenesid 30 mg/kgBB/hari
–      Amoksilin 100 mg/kgBB/hari + probenesid 30 mg/kgBB/hari
–      kotrimoksasol
•       Dengan kolelitiasis
–      Kolisistektomi + Ampisilin 100 mg/kgBB/hari + probenesid 30 mg/kgBB/hari
–      Kolisestektomi +  amoksilin100 mg/kgBB/hari + probenesid 30 mg/kgBB/hari
–      Kolisistektomi + siprofloksasin
–      Kolisistektomi + norfloksasin
•       Dengan infeksi Schistosoma haematobium pada traktus urinarius
–      Prazikuantel  40 mg/kgBB dosis tunggal
–      Metrifonat 7,5-10 mg/kgBB

Komplikasi
n  Intestinal: perdarahan intestinal, perforasi usus, ileus paralitikus, pankretitis
n  Ekstra intestinal:
•          Kardiovaskuler
•          Hematologi
•          Paru
•          Hepatobilier
•          Ginjal
•          Tulang
•          Neuropsikiatri