Tampilkan postingan dengan label Mikrobiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mikrobiologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 29, 2011

Dermatovirologi (Penyakit Kulit akibat virus)

1.      Penyakit : Herpes Zoster

-          Klasifikasi : Herpes Zoster Oftalmika : muncul sesuai jalannua N.Oftalmika di daerah mata, Herpes Zoster Fasialis muncul di daerah perjalanan N.VII dan N.VIII, Herpes Zoster Generalisata, muncul tidak hanya di satu tempat, kadang di dua tempat atau lebih yang memiliki perjalanan saraf berbeda, kadang juga disertai dengan varicella atau cacar. Juga ada Herpes Zoster yang menyerang neonatus, hal ini terjadi biasanya karena ibu yang mengandung si anak awalnya terkena cacar/herpes zoster juga.
-          Etiologi : Varicella zoster virus yang telah laten di susunan saraf yang sebelumnya pernah menimbulkan penyakit cacar (Varicella) pada pasien baik itu klinis maupun sub-klinis (tidak muncul secara klinis)
-          Faktor risiko : Orang dewasa yang sebelumnya pernah terkena cacar atau terpapar varicella zoster, orang lanjut usia, dewasa prevalensi lebih tinggi daripada anak, orang dengan penyakit yang menurunkan sistem imun/imunokompromise.
-          Patofisiologi : Virus Varicella zoster yang sebelumnya muncul di kulit dan menimbulkan gejala cacar sembuh, virus ini masuk ke ganglion posterior saraf dan berdiam disana pada masa latennya tanpa menimbulkan gejala apapun. Faktor predisposisi yang dapat mereaktivasi dari virus yang laten di saraf ini antara lain penurunan sistem imun, penyakit kronis atau keganasan, stress dan juga kelelahan. Herpes zoster akan muncul dan menimbulkan efek klinis pada sistem saraf dari yang ditinggalinya, karena itulah herpes zoster juga terasa nyeri. Keberadaan herpes zoster juga menimbulkan edem pada sel-sel sehingga terjadi kebocoran sel yang mengakibatkan munculnya vesikel-vesikel, cairan akan menjadi keruh, lalu pecah dan meninggalkan krusta (koreng). Jika terjadi infeksi sekunder tidak jarang muncul juga pustule yaitu vesikel berisi nanah.
-          Tanda dan Gejala : UKK berupa macula eritem yang diatasnya kemudian muncul papul eritem yang selanjutnya menjadi vesikel yang muncul sesuai dermaton nervus yang dikenai, paling sering daerah thorakal dan wajah. Kadang juga muncul pustule. Setelah beberapa saat cairan vesikel mengeruh dan pecah meninggalkan krusta, biasanya lesi hieperestesi dan unilateral. Juga terjadi pembesaran KGB. Untuk gejala sistemik yaitu demam, pusing, malaise dan nafsu makan menurun. Gejala lokal yang sering ditimbulkan ialah  nyeri tulang, nyeri otot, dan pegal-pegal. Pada Herpes zoster oftalmikus bisa sampai ke kornea menyebabkan munculnya vesikel di kornea yang pecah dan menjadi ulkus kornea, pada herpes zoster fasialis kadang terjadi nausea, vertigo, nistagmus, tinnitus, gangguan pendengaran dan pengecapan.
-          Prognosis : Baik, jika ditangani dengan segera, kadang juga terjadi residif atau berulang (kambuh)
-          Komplikasi : pada penderita lanjut usia dapat terjadi neuralgia pasca herpetic, juga dapat terjadi infeksi sekunder, Sindrom Ramsay hunt pada N.VII dan N.VIII, uveitis, skleritis, neuritis optic.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
Hal yanga ditanyakan : Pertanyaan anamnesis umum, yaitu keluhan utama, sejak kapan, apakah lesi yang dihasilkan produktif, apa cairan yang keluar, yang harus diperhatikan pada kasus ini adalah riwayat penyakit apakah pernah terkena varicella sebelumnya (waktu anak-anak biasanya) atau sedang sakit kronis, pernah terpapar varicella zoster (anak, keponakan, saudara kena cacar dan pernah berdekatan, kali aja cacarnya sub klinis jadi tiba-tiba herpes zoster yang keluar), pastikan keluhan lain seperti nyeri, takutnya ketuker sama herpes simplex, trus tanya apakah ada sakit yang menyertai, gejala prodormal sebelum muncul kayak demam, nafsu makan menurun, dan sebagainya.
·         Fisik : Periksa lesi, lihat ada atau tidak nyeri (atau malah masti rasa di lesinya), perjalanan lesi dari pertama muncul, lesi yang lama gimana keadaannya apakah tambah parah, atau justru menyembuh, lihat jenis lesi apakah monomorf atau polimorf, pastikan jenis dari herpes, liat seluruh tubuh bahkan yang pasien yang gak bisa liat kayak punggug, kali aja ternyata herpes zosternya generalisata lebih dari satu flexus saraf, supaya bisa segera mengatasi kemungkinan komplikasi, periksa daerah yang rawan komplikasi misalnya kalo lesinya di wajah, lihat mata sama palpebra mungkin ada komplikasi, ulkus kornea dan sebagainya, pastikan belum ada neuralgia pasca herpetic kalo pasiennya orang lanjut usia (<60th), pembesaran organ sama KGB di cek juga, tanda vital wajib, reflek fisiologi sama patologi juga.
·         Penunjang :
a.       Tzanck smear : tujuan untuk memastikan diagnosis, jika ada sel datia multi neklotid maka herpes zoster positif. Objek diambil dari lesi.
b.      Histopatologi, pastikan adanya sel balon yaitu sel stratum spinosum yang mengalami degenerasi dan pembesaran.
c.        Pada dermis terdapat dilatasi pembuluh darah dan sebukan limfosit
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Istirahat secukupnya, jaga daya tahan, dan jaga kebersihan.
·         Farmakokinetik :
ü  Obat : Antivirus
ü  Acyclovir : 5 x 800 mg/hari ~ 7 hari
ü  Valcyclovir : 3 x 1000 mg/hari ~ 5 - 7 hari
ü  Simptomatik, berupa analgesic, antibiotic, topical kayak krem atau kompres pada lesi. Obat simptomatik ini sebenarnya pro renata, kalo perlu aja, kadang malah gak perlu sama sekali apalagi kalo yang muncul adalah rasa sakit rasa terbakar, nyerinya juga menyerang saraf, kadang analgetik ringan kayak acetaminophen gak terlalu berpengaruh banyak.
ü  Preednison, tapering off (Pro renata)
ü  Neurotropik
-          Follow up :
·         Anastesi : kalo nyerinya tidak dapat ditahan oleh pasien dan memang sebaiknya dianastesi. Dikasih analgetik atau pain relief.
·         Penanganan rawat jalan : dikasih obat antivirus aja, sama simptomatik kalo ada, diedukasi pasiennya supaya paham gimana penyakitnya, gimana cara konsumsi obatnya, trus minta pasiennya kontrol setelah beberapa hari (7 hari misalnya)
·         Pencegahan : Jaga daya tahan tubuh, kebersihan, jangan terlalu lelah dan stress terutama pada pasien lanjut usia.

2.      Penyakit : Varicella/cacar air

-          Klasifikasi : -
-          Etiologi : Oleh virus Varicella zoster (paparan pertama kali)
-          Faktor risiko : Anak-anak, lingkungan (ada pembawa), penyakit imunokompromise. Penyebaran penyakit aerogen dan plasenta.
-          Patofisiologi : kulit terpapar oleh virus cacar lalu masa tunas 2-3 minggu, muncul inflamasi berupa macula eritem yang kemudian diatasnya muncul papul yang berubah menjadi vesikel dengan cepat, cairan khas seperti air mata (vesikel muncul karena terjadi edem dan kebocoran plasma), cairan berubah keruh dan akhirnya muncul krusta.
-          Tanda dan Gejala : Gejala prodormal berupa demam, nyeri kepala dan malaise. Lalu terjadi lesi dengan predileksi di kulit, mukosa mulut, mata, saluran nafas atas, daerah-daerah sentral dengan UKK yang tampak berupa macula eritem, diatasnya terdapat papul, vesikel, dan krusta, vesikel khas menyerupai air mata(teardrops), perubahan UKK ini cepat kadang hanya dalam waktu beberapa jam, penyebaran lesi dari sentral tubuh ke bagian sisi akral, lesi soliter dan bersifat polimorfik (lebih dari satu macam UKK primer/sekunder), gatal, jika terjadi infeksi sekunder juga akan muncul pustule dan adanya pembesaran KGB.
-          Prognosis : Baik jika ditangani dengan cepat dan tidak terjadi komplikasi
-          Komplikasi : Komplikasi yang mungkin terjadi pertama adalah infeksi sekunder, pneumonia, ensefalitis, konjungtivitis, hepatitis, keratitis, otitis, dan penyakit infeksi lainnya.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
Hal yang ditanyakan : tempat pertama kali muncul (predileksi, penting banget nih), gejala prodormal sebelum muncul, pernah atau tidak terkena sebelumnya, rata-rata orang awam mengenali kalo lagi kena cacar jadi gak terlalu susah diagnosanya.
·         Fisik : Lihat betul-betul penyebaran lesi, sifat lesi, bedakan dengan herpes zoster (penting dianamnesis), bedakan juga dengan variola (cacar besifat polimorf sedangkan variola monomorf dan cenderung lebih parah, tapi jaman sekarang variola kayaknya dah hampir gak pernah ada lagi deh), lihat juga ada pembesaran KGB apa tidak, sifat cairan yang keluar, UKK apa aja yang muncul, perhatikan adanya infeksi lain kayak dimata, ada atau tidak pembesaran organ, tanda vital, cek nyeri, reflek fisiologis dan patologis.
·         Penunjang/lab :
a.       Tzanck smear, sama kayak herpes zoster, nge cek ada tidak sel datia multi neukleotid, kalo positif kemungkinan penyebab penyakit adalah varicella, tinggal dibedakan apakah itu cacar atau herpes zoster.
b.      Pemeriksaan histopatologi, objeknya adalah si lesi, lihat adanya ‘sel balon’. Dalam pemeriksaan lab biasanya cacar, herpes zoster, herpes simplex rada susah dibedakan, jadi waktu anamnesis sama pemeriksaan fisik dah harus ada modal diagnose sementara yang cukup meyakinkan.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Jaga kebersihan, istirahat dirumah aja.
·         Farmakokinetik :
ü  Obat : Antivirus
ü  Acyclovir 5x800 mg selama 7 hari
ü  Valacyclovir 3x1 gr selama 7 hari
ü  Varicella zoster immunoglobulin à Im
ü  Obat : simptomatik berupa analgetik, antipiretik, anti pruritus, tergantung keluhan tambahan dari pasien.
ü  Obat topical untuk infeksi sekunder seperti krem AB (antibiotic), T.S 1%, kompres.
ü  Profilaksis berupa vaksinasi :
ü  Usia 12 bln – 12 thn àinjeksi s.c–0,5 ml àbooster 4 – 6 tahun setelah pemberian pertama. > 12 tahun à0,5 ml à4 – 8 mg diulang dengan dosis yang sama. Serokonversi 97% - 99%.
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : edukasi pasien dalam membersihkan lesi, konsumsi obat, jaga kebersihan, biasanya sembuh sendiri, hanya saja lesi sisa dikulit dan kadang jika terjadi infeksi sekunder atau komplikasi lain barulah perlu penanganan lebih
·         Pencegahan : Vaksin, jaga kebersihan (selalu).

3.      Penyakit : Variola

-          Klasifikasi : Variola mayor dan variola minor, perbedaannya adalah, masa inkubasi variola minor lebih pendek, gejala lebih ringan dan angka mortalitas dan morbiditas lebih kecil (>1%). Pada variola mayor mortalitas bisa mencapai hingga 50%
-          Etiologi : Virus pox variola
-          Faktor risiko : anak-anak, lingkungan atau orang sekitar yang terkena variola, tidak di vaksin sebelumnya. Sangat menular, tapi sekarang sangat jarang, hampir tidak ada lagi.
-          Patofisiologi : patofisiologi dari variola terbagi 4 stadium, stadium inkubasi erupsi/prodormal, stadium macula papuler, stadium vesikulo pustulosa, dan terakhir stadium resolusi.Setelah terpapar, masa tunas kurang lebih 2-3 minggu, masa inkubasi menunjukan gejala prodormal berupa demam, selama 3-4 hari yang setelahnya muncul lesi berupa macula eritem yang diikuti dengan munculnya papula, kemudian ada vesikel berisi cairan yang lama kelamaan menjadi krusta (mirip varicela ni), pada umumnya hampir semua dermatovirologi yang memunculkan gejala UKK berupa macula eritem, papula, vesikel, pustule dan akhirnya krusta merupakan proses yang sama satu sama lain, pada masa macula eritem terjadi inflamasi awal oleh karena paparan virus juga terjadi vasodilatasi pembuluh darah sehingga permukaan kulit menjadi eritem, lalu muncul papula yang menunjukan terjadinya edem intrasel, kebocoran plasma dari edem ini akhirnya memunculkan UKK berupa vesikel, benjolan berisi plasma yang jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri dan ditempat lesi terjadi perlawanan oleh makrofag, maka hasil sel-sel yang telah mati akan menjadi nanah dan munculah pustule. Vesikel dan pustule yang pecah akhirnya akan membentuk krusta atau sering disebut sebagai koreng, tidak jarang juga menimbulkan ulkus pada daerah lesi. Pada akhirnya penyakit akan melakukan penyembuhan dengan sendirinya dan menyisakan bekas-bekas krusta berupa sikatrik-sikatrik pada kulit.
-          Tanda dan Gejala : pada stadium prodormal akan ditemukan adanya gejala seperti demam, suhu tubuh meningkat, nyeri kepala, nyeri tulang, nyeri sendi, muntah, dan menggigil selama 3-4 hari kemudian sampai pada stadium macula popular, yaitu munculnya papul-papul pada permukaan kulit yang eritem, pada stadium ini suhu tubuh menurun, predileksi terjadi di wajah dan telapak tangan. Selanjutnya 5-10 hari lesi menjadi vesikel pada stadium vesikulo pustulosa, suhu tubuh kembali meningkat dan terjadi lesi umbilikasi. Pada stadium resolusi suhu tubuh menurun lagi, lesi menjadi krusta-krusta dan menimbulkan sikatrik-sikatrik atropi. Kadang dapat terjadi perdarahan, ketika depresi hematopoetik dan menimbulkan black variola yang berbahaya.
-          Prognosis : tergantung dari penanganan, jika ditangani baik maka prognosis baik, mortalitas 1%-50%
-          Komplikasi : dapat terjadi infeksi sekunder, bronkopneumonia, ulkus kornea, telogen, ensefalitis.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
Hal yang ditanyakan, idem diatas
·         Fisik : Lihat penyebarannya dan sifatnya, bedakan dengan cacar varicella, tingkat keparahan, ada atau tidak perdarahan, warna dari lesi, tanda vital, pembesaran KGB, kemungkinan komplikasi, rasa nyeri, dll
·         Penunjang/lab :
a.       Inokulasi pada korioalantoik
b.      Histopatologis
c.       Tes Antigen, deteksi antigen virus pada agar gel.
d.      Tes Serologis (tes ikatan komplemen)
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Karantina, jaga higien
·         Farmakokinetik :
ü  Obat : Antivirus
ü  Acyclovir
ü  Valacyclovir
ü  Simptomatik : Analgetik, antipiretik, antibiotic (krem/oral), kompres
ü  Profilaksis : vaksin dengan virus vaccinia dengan tehnik multiple puncture
ü  KI profilaksis, sedang terapi kortikosteroid, dan mengalami defisiensi imunologi, atopi.
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : edukasi
·         Pencegahan : karantina dan rawat dengan baik anak yang terkena variola, jaga kebersihan, jaga kesehatan.

4.      Penyakit : Veruka (kutil)

-          Klasifikasi : Veruka vulgaris, veruka plana juvenile, veruka plantar, veruka akuminata (condyloma akuminata. PMS)
-          Etiologi : Human papiloma virus > virus DNA
-          Faktor risiko : semua orang berpeluang terkena, untuk condyloma acuminate karena termasuk dalam penyakit menular seks maka prevalensi lebih banyak orang dewasa, untuk veruka vulgaris lebih banyak anak-anak.
-          Patofisiologi; tanda dan gejala :
ü  Veruka vulgaris : berawal dari lesi papular berwarna abu-abu, kemudian berkonfluen, membentuk plakat, permukaan verukosa. Terdapat kutil yang disebut kutil induk yang nantinya akan menghasilkan banyak kutil yang lebih kecil disekitarnya. Kebanyakan muncul di daerah ekstensor. Untuk varian veruka filiformis muncul biasanya di wajah atau kepala dengan lesi berupa papul yang muncul tegak luruk dengan kulit tempat muncul, permukaan verukosa. Terjadi fenomena koebner, ketika lesi digores maka sepanjang goresan akan terjadi autoinokulasi
ü  Veruka Plana Juvenil : berwarna senada dengan warna kulit atau kecoklatan, muncul biasanya di wajah atau daerah leher, dorsum manus et pedis, pergelangan tangan dan lutut. Ukuran miliar – lentikular, permukaan rata atau plate. Juga terjadi fenomena koebner.
ü  Veruka Plantaris : berbentuk seperti cincin, mengeras disisi dan melunak ditengahnya, licin dan berwarna kekuningan. Predileksi biasanya di telapak kaki atau daerah yang sering mendapat tekanan. Akan terasa tidak nyaman dan nyeri ketika tertekan sewaktu berjalan. Jika berkumpul akan menampakan wujud seperti mozaik.
ü  Kondiloma akuminata : termasuk dalam penyakit menular seksual, penyebaran melalui kontak kulit langsung, terutama berada di daerah lipatan yang lembab seperti area genitalia eksterna. Kelainan kulit berupa vegetasi kulit yang bertangkai berwarna kemerahan jika masih baru dan kehitaman jika sudah lama. Permukaannya papilomatosa.
-          Prognosis : Baik namun kadang recidif
-          Komplikasi : Dapat menjadi keganasan atau degenerasi maligna.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
Hal yang ditanyakan : sejak kapan munculnya, tempat pertama kali muncul, bentuk dari lesi apakah menonjol atau cuma perubahan warna, perubahan warna seperti apa, penonjolan seperti apa, berupa sisik atau penonjolan papul atau vesikel, ukuran dan jumlah dari lesi, ada atau tidaknya nyeri, riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit dahulu, usaha untuk mengurangi keluhan sebelumnya, riwayat alergi, dll
·         Fisik :
Yang paling penting lihat bentuk UKK yang dikeluhkan pasien, predileksi, sifat penyebaran, tempat penyebaran, kemungkinan keganasan atau tidak, pemeriksaan tanda vital, nyeri, pembesaran organ dan KGB, keadaan fisik pasien, kemungkinan gangguan pada saraf, dll
·         Penunjang/lab :
a.       Histopatologi untuk membedakan bentukan dari papiloma apakah berupa keganasan atau bukan. Lihat keadaan dermis (pelebaran pembuluh darah dan adanya sebukan sel radang) dan epidermis (hyperkeratosis, akantosis, parakeratosis, papilomatosis).
b.      Biopsi kulit. Sama dengan histopatologi.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Jaga higien, kebersihan individu dan lingkungan, jaga kesehatan, banyak istirahat.
·         Farmakokinetik :
ü  Bahan kaustik (mis : AgNO3 25%, asa, trikloroasetat 50% dan fenol likuifaktum.
ü  Bedah : beku, scalpel, laser, listrik
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : edukasi untuk pemakaian obat, atau penjelasan jika memang memerlukan terapi bedah. Biasanya residif jadi jelaskan juga ke pasien kemungkinan muncul kembali veruka tersebut.
·         Pencegahan : Hindari faktor munculnya penyakit, jaga kebersihan, tidak melakukan seks sembarangan (nukar pentol kalo lah, sembarangan wkwkwk)


5.      Penyakit : Moluscum Contagiosum

-          Klasifikasi : -
-          Etiologi : Pox virus
-          Faktor risiko : lebih sering terjadi pada anak-anak, tidak membedakan ras ataupun jenis kelamin, pada orang dewasa biasanya terjadi oleh karena penyakit menular seksual
-          Patofisiologi : Predileksi biasanya di wajah, ekstrimitas, badan, jika pada orang dewasa didaerah pubis, genitalia eksterna. Masa putih seperti nasi terbentuk karena terjadinya degenerasi keratohialin pada sel-sel lonjong didaerah lesi. Penyebaran penyakit biasanya lewat kontak langsung, autoinokulasi dan pada orang dewasa biasanya melalui hubungan seksual. Masa tunas berjalan mulai dari 1 minggu hingga beberapa minggu.
-          Tanda dan Gejala : Terdapat lesi berupa papul kadang lentikular, licin seperti lilin/bening, bentuk kubah ditengah-tengah delle, ketika dipijat keluar masa berwarna putih seperti nasi yang disebut “Moluscum body”. Jika ada sekunder infeksi maka akan terbentuk supurasi.
-          Prognosis : Baik, jarang residif
-          Komplikasi : -
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
Hal yang ditanyakan : idem diatas. Tambahan, apakah lesi mengeluarkan produk (perusahaan kali ya) berupa cairan atau masa, bentuk dari cairan/masa tersebut, warnanya, konsistensinya, berbau atau tidak, berupa pus atau bukan, dll.
·         Fisik : -idem-
·         Penunjang/lab :
a.       Histopatologi : untuk mengamati epidermis (proliferasi sel stratum spinosum membentuk lobuli. Melihat adanya masa putih disebut moluscum bodies berupa sel-sel bulat/lonjong yang mengalami degenarasi keratohialin
-          Tatalaksana :
·         Tatalaksana pada umumnya adalah berpatokan pada prinsip mengeluarkan moluscum bodies.
a.       Komedo ekstraktor
b.      Jarum suntik
c.       Kuretage
d.      Elektrocauter
e.      Bedah beku
·         Partner sex diperiksa dan diterapi
-          Follow up :
·         Anastesi -
·         Penanganan rawat jalan : dengan menghilangkan moluscum bodies dan lesi yan ada maka tidak ada penanganan rawat jalan karena penyakit inipun jaran residif
·         Pencegahan : Jaga kesehatan dan sistem imun agar tetap normal, jaga kebersihan, hindari kontak langsung pada lingkungan yang rawan atau individu suspek dari penyakit ini atau penyakit lain yang membawa virus pox.


Sabtu, Juni 25, 2011

Zoonosis

1.      Penyakit : Zoonosis (Skabies)

-          Etiologi : oleh familia Sarcoptidae , spesies Sarcoptes scabiei, peredaran cosmopolitan di seluruh dunia. Disebut juga tungau. Hidup di terowongan kulit yang terbatas pada lapisan tanduk dengan daur hidup bisa sampai 8-15 hari.
-          Faktor risiko : orang dengan higien kurang, lingkungan atau orang sekitar ada yang terinfeksi, tinggal di asrama, boarding school, tentara, kos, dan sejenisnya. Tidak membedakan gender, ras, tingkat sosial, namun lebih pada keadaan lingkungannya dan higien per-orang nya.
-          Patofisiologi : tungau dapat berpindah melalui kontak langsung (bersalaman, bersentuhan tangan), tidak langsung (lewat pakaian, handuk) dan cairan tubuh seperti muntah atau pakaian kotor juga. Sering ditemukan di permukaan tangan, lipatan paha, dada, dll. Masuk dia membentuk terowongan lalu bertelur, telurnya menetas setelah sekitar 3-10 hari lalu menjadi larva, nymfa, dewasa. Betina mempunyai dua stadium larva sedangkan jantan hanya satu.
-          Tanda dan Gejala : lokasi terkena daerah fleksor dan tertutup pakaian, lipat paha, lutut, penis, ketiak, perut.UKK nya kanalikuli (membentuk seperti terowongan abu-abu pendek), papul eritem, ekskoriasi. Tersangka scabies, gatal malam hari, mengenai satu keluarga di rumah yang sama, terdapat lesi berupa terowongan di tempat predileksi, sembuh dengan pengobatan spesifik.
-          Prognosis : baik
-          Komplikasi : Infeksi sekunder dan eksema.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
a.       Hal yang ditanyakan
ü  Apa keluhan utama : gatal dan ada lesi berupa terowongan di kulit
ü  Lokasi, predileksi fleksor dan daerah tertutup pakaian
ü  Pertama kali muncul dimana?(predileksi), penyebarannya kemana saja?
ü  Sejak kapan? Sudah berapa lama?
ü  Adakah cairan, nanah, darah, atau sesuatu yang dihasilkan dari lesi?
ü  Keluhan lain?
ü  Usaha yang sudah dilakukan untuk keluhan tersebut? Berobat di dokter lain sebelumnya? Konsumsi obat atau memakai salep, bedak, dan sejenisnya? Adakah hasilnya setelah dilakukan usaha? Apa obat yang dipakai?
ü  Dll
·         Fisik : Untuk menemukan keberadaan terowongan, penyebarannya, keparahan penyakitnya, dan keberadaan tungau, telur, dan larva dari tungau itu sendiri.
·         Penunjang : Kuretase
a.       Tujuan : Mencari keberadaan tungau, telur, larva, atau bagian tubuh dari tungau tersebut
b.      Manfaat : Memastikan diagnosa
c.       Risiko : Harus dilakukan oleh yang ahlinya (jika kuretase) atau hanya dengan dikerok karena melakukan kuretase dapat melukai pasien jika tidak hati-hati dan saat mencari belum tentu langsung ditemukan objek yang dicari.
·         Laboratorium : Sediaan mikroskopik
a.       Objek : Kerokan kulit
b.      Tujuan : Untuk melihat ada atau tidak tungau di kerokan kulit
c.       Interpretasi : Diagnosis positif jika ditemukan Sarcoptes scabei , larvanya, telurnya, atau bagian tubuhnya.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Menjaga kebersihan per-orang, tempat tidur disterilkan
·         Farmakokinetik : Digunakan obat topical yang dipakai di kulit
ü  Obat : Pirmetrin 5%
a.       Dosis : -
b.      Tujuan tatalaksana : menghilangkan etiologi skabies
c.       Penjelasan : dioleskan tiap 10 jam, dapat diulang hingga satu minggu
d.      Rasionalitas : baik
e.      KI  : Tidak boleh pada bayi di bawah 2 bulan
ü  Lindane 1%
a.       Dosis : -
b.      Tujuan : Menghilangkan etiologi
c.       Penjelasan : Dioles selama 8 jam?? (tiap 8 jam kali?)
d.      KI : tidak boleh pada ibu hamil, menyusui, pada anak/bayi
e.      Efek samping : Neurotoksik
ü  Sulfur (6%)
a.       Dosis : -
b.      Tujuan : menghilangkan etiologi
c.       Penjelasan : dioles 3 kali 12 jam dan 1 kali 24 jam, aman pada ibu hamil, menyusui, anak dan bayi
d.      KI : -
e.      Efek samping : -
ü  Kromatin
a.       Penjelasan : Dioles 5 kali sehari
ü  Invermectin
a.       Penjelasan : Adanya oral, sistemik nih ….
b.      Dosis : 200 ug/KgBB
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : Jika ada komplikasi, maka tangani juga komplikasinya, jika sembuh, hanya perlu perawatan untuk mengurangi lesi sisa dari kanalikuli yang terjadi akibat tungau.
·         Pencegahan : Memperbaiki higien, memeriksakan semua keluarga (jika serumah) atau teman-teman serumah.

2.      Penyakit : Zoonosis (Pediculosis)

-          Etiologi : ordo Anoplura, spesies Pediculus humanus dan Pthirus pubis. Paling sering Pediculus humanus var. capitis (Kutu kepala/Kutu rambut) dan Pediculus humanus var. corporis (kutu badan)
-          Faktor risiko : Bisa mengenai siapapun, dengan higien kurang dan orang di lingkungan sebagai pembawa awal ‘pediculosis’. Epidemiologinya ketika kontak langsung dan orang-orang yang suka saling tukar pinjam alat pribadi seperti baju, handuk, celana, celana dalam, sisir, dll (Hayo). Untuk Phthirus pubis biasanya tertular oleh aktivitas seksual.
-          Patofisiologi : Telur, larva, atau kutu dewasa berpindah ke badan atau kepala dan terus berkembang biak (kayak biasa, telur, nimfa, dewasa, dan begitu seterusnya)
-          Tanda dan Gejala : Untuk pediculus capitis/corporis biasanya terdapat papul yang gatal di kepala, belakang leher, dada dan perut. Untuk Phthius pubis biasanya khas terdapat macula caerulae (bintik biru) pada badan dan paha. Gatal banget -__-“
-          Prognosis : asalkan diobati dengan rajin, prognosis masih bonam alias baik J, cuma estetikanya aja, kalo orang kutuan gak diobati rasanya gimanaaaa…. Gitu, he… :p. Jangan harap bisa tiba-tiba sembuh sendiri tu kutu tiba-tiba punah dari kepala anda tanpa ada usaha untuk menghilangkan, kutunya cuma bakal bilang “Oooo tidak bisa…”
-          Komplikasi : Kutuan aja sih, tapi kutu nya bisa menjadi vector berbagai penyakit juga, seperti trench fever dan penyakit yang disebar oleh Ricketsia. Misalkan : louse borne epidemic typhus, penyebab Ricketsia prowazelci. Trench fever, penyebab Ricketsia Quintana. Louse borne epidemic relapsing fever, penyebab Borrelia recurentis.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
a.       Hal yang ditanyakan : Idem penyakit atas, biasanya kalo kutuan lebih gampang diidentifikasi soalnya kutunya bisa dilihat dengan mata telanjang, (Kata dr Nelly, dokter yang ngajar Mikrobiologi) bahkan ada yang ekstrim tu kutu sampai baris di belakang leher ampe baju, kayaknya udah terorganisir dan membentuk kesatuan yang lagi latian buat wajib militer tuh kutu -_-“
·         Fisik : Utamakan memeriksa kepala atau daerah badan yang terasa gatal (sebagai predileksi juga, kali aja bukan pediculosis), dan kalo di pubis, ya dicek juga sekalian tanya pekerjaan mbaknya (yakin banget korbannya cewek) atau masnya he, kalo positif sekalian partner seks nya diperiksa (suami atau istri gitu maksudnya, atau yahhh partner seks lahhh)
·         Penunjang : Gak perlu CT Scan atau rontgen. Lebih ke pemeriksaan fisik sebenarnya
·         Laboratorium : Cabut rambut periksa mikroskopis
a.       Tujuan : Memastikan diagnosis. Ada larva, telur atau bahkan pediculus di rambut, biasanya kalo nempel di rambut tu telurnya, kalo kutunya jalan-jalan dikepala.
b.      Interpretasi : Kalo ada berarti positif. Penampakannya, kalo pediculus itu bersegmen (9 segmen), pipih dorso ventral, mata di sisi kiri kanan, ada antenna, dan begitulah bentuk kutu.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Rajin mandi, jaga kebersihan, jangan nge-seks sembarangan (higien orang kan kita belum tahu, yah kalo suami/istri kan minimal udah tau keadaan kesehatannya), jangan suka tukar-tukar barang pribadi kaya baju, sisir, handuk, apalagi kalo tinggal tidak dirumah tapi di asrama, kos, atau sejenisnya, biar dibilang pelit, daripada rentan kutuan, kalo masih kutuan sembuhkan dan punahkan dulu kutu di kepala/badan/pubis anda, jangan disebar, jangan mengibaskan rambut hitam berkilau anda kesegala arah (Heh, dibilang ngelawak, jangan salah, tu kutu bisa kelempar kekepala orang sebelah lo!)
·         Farmakokinetik :
ü  Obat : Permetrin 10%
a.       Tujuan tatalaksana : memunahkan etiologinya
b.      Penjelasan : Cucilah rambut anda, keringkan, oleskan krim, trus cuci lagi. Dapat diulang seminggu kemudian.
ü  Shampo Lindane
a.       Dipakai sampoan trus diamkan selama 4-5 menit, banyaknya sekitar 30-40 ml. Bersifat toksis (buat kutu nya kayaknya)
ü  Shampo Selenium sulfide : Pakai trus diemin kurang lebih semenit trus cuci (Yang ampuh biasanya shampoo Selsun, banyak di supermarket)
ü  Kapur ajaib -_-“ : Ini resep gak rasional tapi ampuh, kapur ajaib pembunuh serangga di coreng-moreng diatas kepala anda seakan kepala anda adalah lantai yang harus terhindar dari semut, alhasil semua kutu keracunan. Ingat, ini adalah cara kepepet, ga relevan, ga ada eviden base, belum teruji keamanan, bisa menyebabkan iritasi kulit kepala dan 100% sesat (tapi ampuh errr -_-“)
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : Ga ada, rajin bersihin kepala/badan/pubis
·         Pencegahan : Jaga kebersihan intinya. Rajin mandi dan keramas, jangan keramas cuma ketika keramas itu wajib, kalo bisa setiap hari atau sesuaikan sama aktifitas, jika anda berjilbab dan berkeringat maka bagusnya tiap hari, kalo rambut anda sering terpapar matahari juga (eh kok jadi kayak saran perawatan rambut sih …)


3.      Penyakit : Zoonosis (Cutaneus Larva Migran dan Vicera Larva Migran)

-          Etiologi : Ada banyak larva cacing penyebab penyakit ini namun yang paling sering adalah larva Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum (CLM). Toxocora canis, Toxocora cati, Ancylostoma sp, dll (VLM)
-          Faktor risiko : Anak-anak terumtama yang seneng kotor-kotor sama main di pasir, orang-orang yang suka hewan atau pelihara hewan kayak anjing, kucing, kelinci, harimau (kali ae), lingkungan dengan higien yang kurang baik kayak asrama tentara atau pondok pesantren (apalagi asrama cowok paling sering, gak semua orang bersih, kebersihan tu individu), suka jalan gak pake alas kaki atau pegang-pegang barang kotor sembarang, gak suka cuci tangan (Lol banget).
-          Patofisiologi : Untuk CLM : Pertama cacing dewasa dalam usus anjing atau kucing, betelur, telur dikeluarkan melalui tinja, menetas jadi larva rabditiform, trus larva filariform, eh kepegang gak sengaja atau kena sini-situ, masuk deh melalui kulit, merangsang reaksi inflamasi eosinofilik lokal, bikin terowongan trus jadi creeping eruption, setelah beberapa waktu (karena memang kulit bukan habitatnya si larva tidak bisa berkembang jadi dewasa di situ dan mati) siklus berakhir (tidak bisa menembus lebih dari kulit karena tidak ada enzim kolagenase, kalo VLM kemungkinan masuk lewat mata), selain itu larva bisa menembus kulit hewan kayak anjing dan kucing trus masuk ke dalam tubuh mereka dan jadi cacing dewasa lagi, jadi habitatnya tu sebenarnya di anjing sama kucing. Untuk VLM sama aja cara masuknya, jadi larva dulu trus masuk melalui kulit dan mereka masuk semakin dalam ke daerah visera dalam tubuh termasuk mata, siklus akan berakhir pada akhirnya, tapi kalo VLM ni lebih bahaya dari CLM, soalnya dia masuk ke organ dalam, sampai mata bahkan otak.
-          Tanda dan Gejala : Sangat gatal sekali, terbentuk terowongan (creeping eruption) serupa kanalikuli berwarna kemerahan, garis eritem meninggi, berkelok-kelok, kadang vesikuler, lebar 3mm, panjang 15-20 cm, lesi tunggal/multiple, tidak sakit (Yang liat kali aja sakit bergidik ngebayangin ada larva cacing jalan-jalan sore di bawah kulit)(CLM), bisa sampai terjadi demam, infiltrate paru dan batuk, endoftalmitis (kalo sampai kemata), gangguan neurologic (VLM)
-          Prognosis : Baik. Karena tubuh manusia bukan habitat alami, mereka tidak akan berkembang biak dan pada akhirnya sembuh sendiri, tapi keluhan selama ada larva itu dan komplikasi dari VLM yang biasanya bikin khawatir. Selain itu gak ada masalah, cuma estetika aja setelah terbentuk lesi dan creeping eruption, kulit jadi jelek.
-          Komplikasi : kalo CLM kayaknya cuma penyakit ringan, paling infeksi sekunder karena garukan dari gatal yang amat sangat, kalo VLM bisa sampai menyerang paru dan terbentuk infiltrate, ke mata dan terjadi endoftalmitis, ke otak bisa terjadi gangguan neurologis.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
Hal yang ditanyakan : semua anamnesis tu sama, tambahan aja kalo kasus ini perlu ditanya lebih mendalam tentang kebiasaan, keadaan tempat tinggal, punya binatang peliharaan, tempat main (kalo anak-anak, kalo bapak-bapak kayaknya tempat mainnya tidak mengandung larva deh), jangan remehkan setiap informasi, tapi jangan juga melenceng ke pembicaraan seputar kehidupan sekolah, percintaan, dan rumah tangga.
·         Fisik : Perhatikan daerah-daerah lesi, apakah memang terowongannya adalah hasil perbuatan larva migrant, perhatikan juga bagian tubuh lain yang bisa terlihat kayak mata, tanda vital jangan lupa, kalo si pasien menampakan keanehan periksa juga neurologisnya, periksa apakah dia hepatomegali atau tidak, VLM biasanya terjadi hepatomegali, dicek juga apakah beliau ini hiperglobinemia.
·         Penunjang :
a.       Darah : pada VLM terdapat eosinofilia primer, dan hiperglobinemia, pada CLM terdapata leukositosis dan eosinofilia.
b.      Biopsi : Untuk melihat ada atau tidak larvanya, tapi ni agak sulit, bahkan di lesi bekas terowongan aja kadang gak diketemukan larva
c.       ELISA, untuk mengecek aja, sekalian memastikan apakah memang CLM/VLM atau bukan, tapi kalo emang dah bisa dipastikan, yang beginian gak terlalu perlu sebenarnya.
·         Laboratorium :
a.       Tes Serologi : bedanya sama tes darah? Lol, yeah liat ada atau gak si leukositosis, eusinofilia, dan teman-temannya.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Kayak biasa jaga higien, jangan terpapar yang kotor terlalu sering.
·         Farmakokinetik :
ü  (CLM) lokal : semprot klor-etil. Suhunya dapat membekukan si larva, tapi katanya si klor-etil ni sebenarnya gak mematikan larva cuma ‘melumpuhkan’ yang pasti pengobatan ini masih dipakai sampai sekarang
ü  (CLM) : Tiabendazol oral ataupun topical : 25-50 mg/kgBB/hari, 2kali/hari selama 2-5 hari. Tidak diperkenankan melebihi 3 gram perhari. Topikal, 10-15% dalam larutan.
ü  (CLM) : Cryosurgery, yang ini harusnya dilakukan sama dokter bedah, dokter umum ngerjain ini –menurut saya- nekat, walaupun ini cuma surgery sederhana tapi belum tentu daerah yang diinsisi itu masih ada larvanya, kali cuma tinggal terowongan aja, mau apa sama sisa lukanya, luka sekecil apapun kalo menyakiti pasien dan tidak ditangani oleh dokter yang –bukan bisa, tapi- berkompeten sama juga dengan membahayakan pasien.
ü  (VLM) : Tiabendazol oral (sama kayak CLM pakainya)
ü  (VLM) : Dietilkarbamazepin
ü  (VLM) : Fotokoagulasi
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : Cuma kasih edukasi aja sama pasien supaya dipake obatnya sesuai aturan dan jaga higien, hindari hal-hal yang memicu larva itu menyerang lagi.
·         Pencegahan : Jaga kebersihan paling penting tempat tinggal dan binatang peliharaan kita, kalo suka ubek-ubek kucing atau anjing tetangga pastikan dia bersih dan tidak suka esek-esek badan disembarang tempat, usahakan jangan bermain didaerah lembab dan berpasir (untuk anak kecil) atau kalo emang main disana, sehabis main bersihkan benar-benar seluruh tubuh, jangan sampai tidurpun diatas kotak pasir (ingat, kucing suka boker dipasir dan bisa aja bokernya mengandung telur dan larva cacing), oh iya karena menghindari cacing jadi jangan lupa, makan daging, dan ikan harus yang sudah benar-benar matang yaaa ….