Tampilkan postingan dengan label delicious story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label delicious story. Tampilkan semua postingan

Selasa, April 10, 2012

TERATAI

TERATAI


From : Anjar
Ran, gmn kbr Rafael, kt Lily dy flu ya. Jgn lupa ksh obat, klo bandel bw sini aj dperiks


Kirana menutup kembali Blackberry sliding-nya setelah membaca pesan dari Anjar tanpa ada niat membalasnya. Palingan juga dia bakalan nge-ping sehabis melihat pesan yang dia kirim berubah dari ‘D’ menjadi ‘R’ tanpa ada respon. Mungkin dia akan melakukannya hingga puluhan kali seperti yang dulu selalu dia lakukan dan hanya akan berhenti setelah Kirana membalas paling tidak satu kata. Dulu dia selalu khawatir karena hal ini akan berakhir dengan pertengkaran tapi sekarang dia tidak peduli. Toh sejak dia dan Anjar bercerai, dia tidak harus lagi mengikuti sikap Anjar yang berlebihan terhadap dirinya.
Sikap berlebihan itu mungkin bisa diterima olehnya, tapi Kirana mulai tidak bisa menerima ketika Anjar menerapkan sikap itu pula pada Rafael, anak mereka satu-satunya.

Rafael harus sempurna, harus juara satu, harus nurut, harus jaga manner, harus tenang, harus diam, dan seterusnya. He such a perfectionist person, kadang Kirana tidak habis pikir, Anjar adalah seorang dokter spesialis paru yang sibuk dengan begitu banyak pasien. Dokter sempurna yang pengertian dan baik hati, motivator bagi pasiennya, then he just can’t how to motivating his own wife and son, selain membuat keduanya tertekan dengan tuntutan sana sini tanpa memenuhi tuntutan sang istri dan anak laki-lakinya yang membutuhkan kasih sayang. Bukannya request-an yang belum waktunya dibebankan pada anak berumur lima tahun.
Setelah dua puluh ‘ping’

“Iy tau ko. Dy udah baikn, td udh mnum obat jg”
“Lg dmana?”
“D RS. Ad lahiran td”
“Loh, g ad prwt lain. Rafael sp yg jg”

Kirana menghela nafas kesal, hampir mendengus “ Kenapa baru sekarang ributnya, dulu waktu masih serumah sebagai keluarga kamu kemana” bisik Kirana dalam hati.

“Lily bantuin jg”

Kirana langsung menutup aplikasi pesan blackberry-nya berharap pembicaraan sia-sia ini tidak berlanjut. Sesaat sebelum dia memencet tanda telepon merah untuk meng-off-kan hapenya, pesan baru masuk lagi.

From : Ilham
Syg, aku dah drumah, kamu g ad. Ad lahiran lg drumah skt ya?

Untunglah bukan Anjar yang mengajak bertengkar ‘lagi’. Pesan terakhir itu membuat dia lega sekaligus merasa tidak enak.

‘Iy Ham, maaf ya’
‘Iyeh g pp lg. Aku lg asik maen ma Rafael jg ni. Seneng dy ad tmen maen yg seumuran’
‘Seumuran pala mu’
‘:D’
‘Otw. Bntar lg ko’

Karina menutup kembali blackberry-nya dan memasukannya ke dalam tas. Dia meraih jaket yang tersampir di ruang perawat sambil berpesan pada Hana untuk menggantikan tugasnya menjaga bayi laki-laki seberat 3 kilo yang dirawat di ruangan opname bersama ibunya.
“Han, aku tinggal ya” ucapnya lalu menunggu anggukan Hana dan berlalu “Eh, jangan lupa diawasin ya, dokter Ridwan masih diluar, takutnya bayi tadi kenapa-kenapa. Nangisnya telat tadi soalnya”
“Iya ah, pulang sana” Hana tertawa sendiri melihat tingkah Kirana yang tidak pernah bisa berhenti khawatir “Kaya aku sendiri aja disini. Banyak dokter muda yang siap bantuin noh” tunjuknya.
Kirana berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan sangat terburu-buru. Pikirannya tercampur baur antara si bayi yang terlambat menangis setelah lahir dan anaknya sendiri yang hari ini saja bersinnya sudah puluhan kali sampai bosan menghitungnya. Dia selalu saja khawatir dengan anak-anak disekitarnya. Dia menyukai anak kecil dan jiwa keibuannya selalu saja terpanggil ketika tangisan-tangisan anak kecil merasuk telinganya. Make the baby’s crying stop is heaven for her.
Sayang sekali kecintaannya pada pekerjaan dan anaknya tidak didukung dengan keadaan keluarga yang baik. Tiga tahun sudah dia berpisah dengan suaminya, seorang dokter spesialis paru bernama Anjar, karena hal umum yang sulit ditoleransi. Sikap dan prinsip. Perjuangannya untuk tetap bertahan sendiri bersama anak satu-satunya membuat dia menjadi wanita yang kuat dan dicintai banyak orang. Cukup setimpal dengan apa yang hilang. Entahlah. Dia selalu mencamkan itu cukup setimpal, tapi hati kecilnya masih terusik ketika melihat mata Rafael yang mencari-cari sosok sejenis dia, sosok seorang laki-laki.
Ilham tiba-tiba lewat dibenaknya.
Dia mengambil blackberry-nya dan mengirim sebuah pesan sebelum memberhentikan taksi dan masuk kedalamnya.
‘Ham, maaf ya’ -D-

**

“Gimana sama hotel kamu. Udah balik lagi?”
“Udah stabil ko. Ilham gini. Jago tau” Ilham menyombongkan diri.
Ilham memiliki sebuah hotel yang dia rintis dari dasar sama-sekali hingga sekarang menjadi sebuah hotel bintang lima terkenal. Beberapa waktu yang lalu, isu kenaikan bahan bakar dan mata uang yang tidak stabil membuat usahanya terkena ombak kecil tapi seorang Ilham sangat terampil untuk merakitnya kembali.
“Bagus deh kalo gitu” Kirana beranjak dari sofa “Mau kopi lagi?”
“Ga deh” sahut Ilham. Dia memandangi Kirana yang masih berjalan menuju sofa dekat Ilham, meraih Rafael yang tertidur bersama lembaran-lembaran kertas bergambar dipangkuan Ilham “Tadi dia main apa sama kamu?”
“Ngegambar aja. Aku ada baca, katanya menggambar meningkatkan kreatifitas dan memaksimalkan kerja otak gitu, jadi tadi aku ajak dia gambar deh. Lagian Lily juga keliatan kasian banget. Anak kamu nih gak jauh beda sama ibunya, kaya bebek lari-larian sana sini” dia tertawa.
“Dasar” Kirana berpura-pura marah. Namun jauh dalam hatinya, itu adalah ucapan apa adanya yang hangat.
“Eh mau angkat Rafael? Sini biar aku” Ilham menggendong Rafael masuk ke kamarnya, menyelimutinya dan meninggalkan Kirana bersama Rafael sesaat. Memberikan waktu untuk ibu dan anak itu.
Setelah sepuluh menit, Kirana keluar dari kamar Rafael. Ilham bersiap pulang.
“Ran, besok sibuk gak?”
“Enggak, kenapa?”
“Ke Teratai mau gak? Mas Indra sama istrinya lagi liburan trus mampir gitu”
“Ke tempat kerja kamu?” Kirana mengerutkan kening. Mendengar Teratai saja, nama hotel bintang lima milik Ilham sudah membuatnya sedih, apalagi harus bertemu dengan semua orang dan Mas Indra beserta istri.
Pertama kali (dan terakhir kali) Kirana ke Teratai, semua mata menatapnya. Bisikan-bisikan halus gunjingan orang mengusiknya. Bagaimana tidak, Ilham seorang pengusaha hotel bintang lima sukses, seorang pengusaha muda yang menjadi panutan, memiliki kekasih seorang perawat rumah sakit biasa, janda, punya anak pula. Lengkap. Gimana gak gatal mulut orang untuk menggunjing.
Awalnya Kirana berusaha tahan, tapi kemudian dia sempat dengar kata-kata istrinya Mas Indra, kakak Ilham, tentang dirinya kepada suaminya.
“Kenalin, ini Kirana” ucap Ilham waktu itu. Mas Indra menyambut salaman itu dengan hangat begitu pula istrinya, Dian. Namun kemudian ketika dirinya cukup jauh, angin membawa bisikan Dian.
‘Itu ya mas. Tapi kok kasian sih si Ilham. Ga ada ya yang belum jebol. Ada bonus gitu lagi’ bisiknya.
Sakit!
‘Hush, jangan ngomong gitu. She is the best nurse, and I know she’s best for my brother
Malah makin sakit!
Kirana dipenuhi perasaan bersalah yang disadari oleh Ilham.
“Kenapa sayang?”
“Aku gak bisa”
“Kenapa? Aku jamin, Mbak Dian ga akan keceplosan lagi ko. Maafin dia ya”
“Aku gak marah sama Mbak Dian. Dia bener, aku marah sama diri aku sendiri”
“Aku seneng ko. Kenapa harus takut omongan orang lain”
“Aku udah berusaha berpikir kaya gitu Ham, tapi..”
“Coba liat sini” Ilham memaksa Kirana menatapnya. Dia menangkupkan kedua telapak tangan di kedua pipi Kirana. Hangat “Lihat aku. Si Ilham yang muda, yang berprestasi, yang ganteng” sekilas dia tersenyum sombong, lalu berujar kembali “Si Ilham yang kekanak-kanakan, yang manja, si anak bungsu yang cengeng. Kamu tahu, sebelum ini kita sama-sama bersama orang lain tapi ketika aku sama kamu. Si Kirana yang bawel, ibu-ibu yang sayang banget sama anaknya, suka cerewet apa aku udah sikat gigi apa belum, yang paling repot pas aku bersin cuma sekali, yang suka marah-marah kalo aku lupa sama jadwal rapat sama klien atau tamu luar negeri yang review hotel, yang gak pernah berhenti ngoceh kayak nenek-nenek, trus si Kirana itu punya anak, namanya Rafael, lucu, imut, pinter, nakal juga, suka maen, suka berantakin kamar, suka lempar gayung kalo lagi mandi sama sikat gigi. Both of you just lovable. Sebelum ini aku punya pacar dan mereka gak pernah sama kayak kamu. Ketika aku liat kamu, lalu aku liat Rafael, saat itu aku tahu, cuma kamu yang bisa sabar buat terus sama aku”
Kirana Speechless.
Iya, setimpal. Semua kenangan buruk itu terbayar dengan kebahagiaan Rafael, teman-teman yang mendukung dan mengerti keadaannya, dan Ilham.
Tuhan memberi lebih dari yang dia harapkan.
“Besok, ke Teratai ya” bisiknya lagi. Kirana mengangguk.

**

“Rafa, sayang. Aduh. Sini dong, makan dulu. Lepas dulu mobilnya” Kirana berlarian kesana kemari mencoba mengejar lelaki kesayangannya agar membuka mulut dan menelan sup sayur yang dia buat subuh tadi. Blackberry-nya berbunyi.
“Sayang aku jemput ya. Sama Rafael juga”
“Loh ajak Rafa juga?”
“Iyun”
Kirana mulai lemas.
“Ma” Rafael menyerah sendiri ketika mendapati ibunya berhenti mengejarnya. Dia membuka mulut pasrah membiarkan sesendok sayur terakhir masuk perutnya. Dia tersenyum, sepasang lesung pipi yang manis muncul seperti bulan dan matahari terang bersebelahan.
Kirana memeluknya erat “Mama sayang Rafa”

“Ran” kamu percaya gak? Semua orang menunggu kamu, mengharapkan kamu. Kalimat panjang itu terpotong menjadi hanya sapaan “Ran”dan sisanya terucap lewat matanya. Kirana memilih pura-pura tidak melihat dibandingkan berharap.
Berpikir semua orang mengharapkan kehadirannya, baginya itu terlalu berlebihan. Namun Ilham tidak lelah menunjukan pada Kirana dan semua orang bahwa pilihannya benar.
“Iya, Ham”
“Ayo”
“Tapi aku takut banget Ham”
“Kenapa lagi sayang?”
“Disini aja deh ya, ga usah pake kenalan dan bawa-bawa Rafael”
“Harus dong, biar mas Indra kenalan, Mbak Dian ketemu, trus cerita-cerita ke Mama dama Papa dan keluarga disana”
Lalu membuat mereka kecewa Ilham?
“Kamu tau gak Ran, dulu ada yang pernah nanya sama aku. Ham kok kamu mau sih sama Kirana, yang cantik sekarang kan banyak?”
“Coba deh kamu pikir, gimana perasaan aku mendengar pertanyaan itu. Kita sama-sama sedih dan berusaha berjuang disini, kamu gak sendirian. Aku juga merasa kaget, sekaget kamu, mungkin lebih kaget. Seperti kamu menerima dihina tetapi kamu tidak terima Rafael dihina, aku juga gitu, aku terima dihina, tapi rasanya marah banget kalo orang hina-hina kamu seakan mereka lebih kenal kamu dari aku”
“Trus kamu jawab apa?”
“Diem aja”
“Bohong” sanggah Kirana. Kamu bukan tipe yang diam setelah dibombardir pertanyaan frontal.
Ilham tersenyum lagi mendapati Kirana selalu bisa menebak.
“Yah, aku cuma nanya balik aja”

‘Kamu punya pacar gak? Secantik Kirana gak? Kalo lebih cantik, apa dia sebaik Kirana? Kalo lebih baik, apa dia pinter masak kayak Kirana? Kalo iya, Apa dia dan kamu punya kesamaan yang membuat kalian selalu bahagia kayak aku dan Kirana ketika mendengarkan Jazz dan piano bersama secangkir kopi? Apakah dia sepintar Kirana dalam merawat anak? Apakah dia sekuat Kirana yang selalu tahan mendengar orang-orang menghina dia? Apakah dia seperti Kirana yang lebih peduli pada jani-janji rapat dan pekerjaanku dibandingkan aku sendiri terhadap pekerjaanku? Apakah pacarmu mementingkan dirinya sendiri? Satu-satunya hal yang Kirana tidak pernah lakukan’

“Ada banyak hal yang tidak mereka tahu dan membuat mereka menelurkan penilaian amat mentah. Kalo orang kayak gitu jadi pengusaha atau kerja di perhotelan pasti bangkrut” selorohnya.
Keberanian itu muncul lagi, Kirana ikut Ilham sambil menggendong Rafael bersamanya. Pergi menuju Teratai.

Mata-mata menatapnya tiada henti. Tatapan senang, excited, sedih, tapi paling banyak tatapan menghakimi yang ditutupi dengan senyuman palsu. Untung mereka hanya karyawan biasa, jadi mereka tidak berani bertanya macam-macam tentang wanita dan seorang anak kecil yang dibawa Ilham.
“Ini Kirana” ucapnya spontan menyadari tatapan penuh tanya semua karyawannya “Kalian harus tahu sepertinya” dia tersenyum tegas “Dan ini Rafael, lucu kan dia?”
“Ih iya, imut banget” bisik sebuah suara.
“Eh itu ya, ada anaknya. Wah” bisikan lain.
Apa maksud ‘wah’ itu?

-----

“Itu yang aku denger Ly, gimana sama yang gak aku denger, gimana sama yang ngomong kemana-mana tapi aku gak tahu. Rasanya kayak bom waktu Ly, tiba-tiba udah mau meledak dan ngancurin perasaan aku” hanya beberapa menit setelah perkenalan itu, Kirana membiarkan Ilham menggendong Rafael dan dia pergi dari sana, bersembunyi di sebuah taman halaman belakang hotel agar Rafael tidak melihat ibunya yang bawel, sedih, tersedu. Suasana sepi saat itu, Kirana memilih duduk dikursi dekat danau dan curhat via telpon dengan Lily yang langsung memutuskan untuk menyusul Kirana kesana.

**

“Kirananya mana?” Dian mendekati Ilham, menanyakan keberadaan Kirana antusias.
“Ada apa memangnya Mbak?”
“Aku mau ketemu Kirana”
“Tumben”
“Jangan gitu ah. Mbak minta maaf soal dulu itu. Mbak gitu, itu spontan Ham, habis itu Mbak ngerasa bersalah banget juga”
“Iya, ga apa kok Mbak, ga ada yang marah” Ilham mencoba mencairkan suasana dengan senyumnya “Gimana keadaan ka Giska sama anaknya”
“Sekarang baik Ham. Makanya juga Mbak mau ketemu Kirana. Ka Giska cerita ke Mbak, anak pertamanya itu kan baru lahir padahal Ka Giska nikahnya udah lima tahun, jeda lebar kan tu, jadi kata dokter riskan banget makanya dia kesini buat perawatan, total banget. Trus dirumah sakit, selain dokter ada juga perawat yang ngerawat dia, telaten banget, Kirana Ham. Mbak langsung ngerasa bersalah banget sama Kirana”
Senyuman masih terus menempel di wajah Ilham “Iya Mbak, dia suka banget sama anak kecil”
“Ini Rafael?”
“Iya”
“Lucu, mirip mamanya” bisik Dian tulus.
Dia menatap ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Kirana.

**

“Kalo misalnya kamu kelas enam SD trus ujian dikasih soal kelas empat SD kan gampang banget, langsung lulus gitu. Kalo ujiannya susah berarti you have high grade for yourself. Luluslah, kamu bakal dapet ujian yang lebih susah lagi, susah lagi”
Kirana hanya terdiam di bangku taman, menelaah apa yang dibilang Lily sambil menatap bunga teratai yang mengapung di danau.
“Yang penting Tuhan selalu sama kita, sama kamu”
“Sok bijak kamu Ly”
“Iya dong. Lily, nih aku long distance sama laki tetep aja positif kan. Toh di Jerman dia gak bakal nemu cewek Asia tulen putih dan cantik kayak aku, baik hati, pinter ngasuh anak, bersuara merdu. Dia nyeleweng disana sama aje buang berlian buat sebongkah batu”
“Ciehhh” Kirana mulai lupa dengan penyebab dia hampir menangis
“Haha, yaudah mikir gitu juga dongs. Janda, kan ga apa apa, cantik gini, sekseh. Punya anak juga ga apa-apa, lucu gitu anaknya. Orang yang punya anak jelek aja bangga sama anaknya biarpun cuma pinter main cilukba. Biar cuma perawat, perawat itu kerjaan hebat loh, jangan remehin, bantuin orang sakit jasanya banyak. Biar digunjing orang, kamunya kan gak gunjing orang sayang. Lagian Ilham masih cakep kan, yaudah, bawa ketawa aja ya cantik” Lily mencubit pipi Kirana.
Dia kemudian iseng mengecek kembali blackberry-nya. Sepi. Dia kemudian tergerak untuk membuka akun yang sudah sangat lama tidak dibuka olehnya. Ingin melihat apakah ada sesuatu yang penting, sekedar menengok Timeline dan melihat yang sedang tren lalu kembali menutupnya. Niat awalnya.

‘Kaka Kirana. Sakit ya?’ from : @Iren
‘Kirana sayang, si bayi 3 kilo udah bisa pulang loh, sehat banget, tapi kata mamanya dia kangen kamu, cepet sembuh yah’ from : @Hana
‘Ka, ini Dewi kaka. Ponakan kesayangan om Ilham lohhh.... Kaka mau dipanggil tante kapan nih #kode’ from : @Dede_Wiwi
From : @DianIndra ‘Ran. Maaf ya’

Mata Kirana tidak berhenti membaca pesan yang seakan tidak berhenti memberinya semangat.
Lily kemudian ikut duduk sambil tersenyum kecut pada Kirana yang matanya memerah “Tuh kan. Kita semua sayang dan peduli sama kamu. Mereka ngomong gitu juga kalo gak dianggap ntar capek sendiri. Kamu punya kita semua, semua pengen jadi kamu loh Ran, si mama cantik yang bawel” Lily lalu memeluk erat Kirana penuh sayang.

“Iya, gak ajak-ajak” Ilham teriak dari seberang danau. Matanya cemburu pada Lily yang memeluk Kirana.
“Udah, cemburu sama Rafael aja, gak usah Lily juga deh”

Ilham hanya terkikik seperti anak kecil. Selucu Rafael.

***

The old quote says : Don’t judge people by the cover
The worst is, when the people judge other even without check out how the cover is
Tidak perlu saling menunjuk siapa yang benar dan yang salah. Perjuangankan, cukup. Dia akan muncul dengan sendirinya. Tuhan Maha Adil.

Minggu, Agustus 07, 2011

HUBUNGAN TANPA STATUS [Bagian 2]

Bagian 2 [Sister complex was dangerous]



Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik.
Aku percaya sama isi kitab suci, karenanya aku yakin kami memang tidak cocok

Siapa sih seorang Ladya, hanya seorang anak badung yang waktu SD suka cari gara-gara sama guru sampai mau pindah sekolah –pada akhirnya, ibu  guru yang keras kepala itulah yang pindah, jadi berurusan dengan siapa? Sudah mengerti kan?-, waktu SMP suka banget berantem sama senior cowok yang matanya jelalatan, waktu SMA suka ribut dikelas dan selalu berhasil lolos dengan wajah oh-so-diligent-girl. Aku selalu baik dimata orang lain, namun aku adalah yang paling mengenal diriku dan aku tahu aku tidak sebaik yang mereka kira.
Bukan karena aku berpakaian sopan aku tidak berani mengacungkan jari tengah dari punggung orang lain –bahkan didepan muka jika terlalu gusar-, bukan karena aku menutup aurat lantas aku beribadah dan bertaubat setiap menit dan jam ketika ada waktu, bukan karena aku selalu memuji seseorang lalu aku tidak tahu beberapa hinaan verbal yang membunuh karakter. Aku adalah musuh terhebat yang pernah dikenal, aku bisa jika aku mau. Aku hanya lebih suka ‘bersembunyi’ seperti laba-laba hitam diantara semak-semak.
Namanya Bayu, seorang anak rohis yang baik yang juga bukan kebetulan merasa nyaman bercurah hati kepadaku yang bahkan tidak mengerti apapun soal agama selain cara dan bacaan sembahyang. Entah apa daya tarikku sehingga dia –dan kupikir hampir semua teman laki-lakiku yang sudah punya pacar- merasa aman dan lega bercerita tentang pacarnya kepadaku, pacarnya yang diniatkannya untuk diputuskan karena alasan you-know-what (baca : rohis).
Dia setiap hari mengirimkan pesan pendek di jam-jam normal. Maksudku normal disini adalah sekitar pukul tiga pagi sampai subuh yang selalu aku isi dengan bergalau ria, menangis, menonton film, membuang waktu, menulis, dan ironisnya mungkin sehabis dia shalat tahajud –kita tidak pernah tahu-
Aku sudah tentu meladeni, toh dia temanku, maksudku siapapun dia dan apa statusnya, dia tetap temanku. Aku bukan penganut yang dia anut maksudku tentang you-know-what yang aku maksud sebelumnya, aku berusaha bersikap netral dan tidak mengompori, aku berusaha bijaksana ketika dia tidak bisa berbuat itu. Dia merasa lebih lega –terlihat dari matanya- dan dia telah memutuskan untuk semacam ‘break’ atau entahlah (jujur, menurutku alasannya tidak relevan karena mereka long distance dalam jarak yang tidak bisa ditempuh kendaraan bukan-pesawat, tapi sekali lagi who knows), dia memberikan semua foto kenangan mereka untuk aku simpan dan pasti aku jaga, dia memintaku mengingatkannya, terakhir dia meminta aku ‘menjaga’ dia dari wanita lain agar dia suatu hari bisa kembali pada pacarnya (mantan pacarnya maksudku) ketika saatnya tiba. Klise huh? Mari kita buktikan.
Ada dua hal yang dia tidak sadari dan satu hal yang aku juga luput untuk sadar sebelum semua itu terjadi. Pertama, dia meminta aku untuk ‘menjaganya’ dari wanita lain, namun entah dia lupa atau tidak sadar bahwa aku adalah seorang perempuan dan aku sama sekali tidak bisa ‘menjaga’ dia dari aku. Kedua, yang aku tidak sadar setelah beberapa saat dia ‘menempel’ adalah ternyata dia punya semacam ‘sister complex’ yang membuat kami seperti dua saudara kembar siam yang sulit dipisahkan –dalam arti harfiah-
Semester itu aku dapat backingan baru yang lebih berbobot tapi di satu sisi juga aku tahu, mustahil untuk kami ‘berteman’ dalam waktu lama. Terlalu klise. Secara denotasi dia terlalu baik untukku –aku benci mengatakan alasan pengecut itu, tapi ini benar- tapi mungkin dia tidak sadar siapa yang dia hadapi. Sekali dua aku suka melakukan pemancingan dan menghentikan itu sebelum terlambat karena aku sama sekali tidak ingin melukai perasaannya dengan melalui yang lebih dari ini dan membuatnya ingkar janji. Sudah cukup! Sudah cukup sering!
Kami selalu bersama, mungkin lebih tepatnya, dia selalu membuntutiku dan aku tidak menyangkal jika aku menyukainya. Teman-teman yang lain mungkin tidak peduli, tapi ada sedikit teman yang memberi perhatian lebih dan bertanya ‘ada apa?’ yang kutanggapi hanya dengan tawa. Bodohnya, dia terus bersikap seperti seorang adik kecil yang tidak sadar. Oh ayolah, seorang laki-laki yang baru putus dengan pacarnya, curhat jam tiga pagi dengan seorang perempuan, dan mentraktir makan perempuan itu tiap makan siang, ‘teman’ adalah istilah yang terlalu luas untuk hal itu. Tapi aku menolak. Maksudku, “Kali ini” hatiku yang menolak –biasanya para lelaki sialan itulah yang menolak dengan alasan yang sulit ditebak-, aku tidak terganggu, aku merasa tenang, merasa senang, tertawa, meski ada sesuatu yang mengganjal dihatiku, hingga kami berada pada jarak ‘berbahaya’ aku mulai sadar. Dia harus bangun dari mimpinya.
Pikirlah, untuk apa dia melepaskan seorang wanita baik hati tidak sombong dan solehah dengan alasan heroik ‘you-know-what’ sedangkan disini, ditempat dia kuliah dia dekat dengan perempuan yang tidak lebih baik, bahkan jauh dari baik, mempertaruhkan janjinya. Aku rasanya seperti memakan daging wanita lain –pacarnya- yang baru diputuskannya. AMIS!
Lama sekali aku berpikir, bagaimana caranya menghilangkan ‘sister complex’ nya dan membebaskan diri. Oh sungguh aku merasa bersalah dengan pikiran ini, aku tahu ini demi kebaikannya. Aku mengerti, tipe lelaki seperti dia, rohis, lumayan ganteng, tinggi, pintar, baik hati, royal, sederhana, apa adanya. Tuhan, itu adalah objek bagus untuk dipuja dan dijadikan idola tapi tidak untuk ‘lebih dari teman’. Aku membutuhkan seseorang yang ‘setara’ denganku dan itu bukan dia. Aku tidak menemukan ‘kejahatan’ dalam dirinya, sudah tentu itu indikasi kalo kami bukan jodoh.
Dia mulai paham. Dia mulai menemukan pelarian. Dia mulai menemukan orang lain sebagai pelampiasan sister complex dan akhirnya dia mulai mengerti bahwa sister complex itu harus sembuh dan kedekatan dia dengan seorang perempuan harus diperjelas.
Aku membiarkan dia dekat dengan perempuan itu, teman seangkatan kami, bahkan cenderung menjodohkan (tapi sungguh ini bukan skenario, dia yang memilih), aku menyaksikan sekarang mereka selalu bersama (dalam arti baik, bukan sesuatu yang bermasalah seperti yang beberapa orang kategorikan berpacaran) dan satu hal yang paling penting, mereka ‘setara’ dari segi brain, beauty, behavior, and believe.
Meski jujur, saat aku buka dompet dan menemukan foto dia dan mantan pacar-long-distance nya yang berada dibelakang fotoku (yang selalu sendirian) aku merasa bersalah, aku gagal melakukan janjiku untuk menjaganya dari wanita lain. Diluar dari kenyataan bahwa dia bahagia, aku memang merasa bersalah. Orang ketiga adalah masalah yang ‘bisa diatur’ dalam sebuah hubungan –dan aku ahlinya, kemampuan sejak lahir dan terasah sejak SMP- tapi jarak adalah sesuatu yang mengerikan. Jarak secara denotasi dan konotasi adalah sebuah alasan ketika kita sudah merasa orang yang kita sayang sudah tidak bisa kita kenali.
Di luar dari kenyataan dia telah terbebas dari ‘aku’ dan bahagia, aku merasa bersalah, bukan pada Bayu, tapi pada mantan pacarnya.
Terakhir aku dengar mereka berencana menikah. Semoga bahagia. Aku bahkan belum menemukan pacar. ANJING!!!

Bayu memang bukan yang paling berkesan atau paling dramatis. Namun dia memberiku pengalaman penting yang menjadi bahan pemikiran bahwa aku memang benar-benar tidak cocok dengan seseorang berkarakter “alim” seperti yang dia tunjukan, seseorang yang memutuskan pacarnya, dan mengajak menikah perempuan yang bersamanya, aku benar-benar bukan tipe yang seperti itu. Hingga sekarang kami masih berteman dan kadang aku mengejeknya telah melupakan aku karena perempuan lain.
Aku tidak pernah menyesal melepasnya karena sepersekian detika setelah terlintas pikiran tentang ‘lebih dari teman’ seluruh impuls dalam diriku mengatakan dia bukan orangnya. Meski aku sayang padanya dia bukan orangnya, aku tahu dan aku bisa membedakannya, bukan karena aku menebak, aku memang tahu karena setelah Bayu aku baru merasakan bagaimana cinta itu memaksa. Hebat dia memaksa dan aku terseret arus tepat ketepi jurang. Lain kali aku akan bercerita, dari semuanya dia yang terbaik karenanya mungkin akan aku sisakan tentang itu diakhir cerita. Tidak maksudku diakhir bab. Benar-benar diakhir.
Nah, sialannya, aku tidak tahu kapan ini berakhir karena sepertinya Ladya selalu punya cerita yang tidak pernah habis.
ANJING! Mereka selalu berkeliaran dan aku selalu saja terseret beberapa detik dalam kelucuan mereka lalu berdecak jijik ketika melihat mereka menjulurkan lidah.
Hanya satu yang bukan anjing, mungkin manusia atau anjing siluman yang bisa berubah menjadi manusia. Entahlah, persamaan dan perbedaan kadang begitu tipis batasnya dan itulah keadaan aku dan dia. Stop, aku akan stop sampai disini. Aku sudah bertindak terlalu jauh. Ladya sudah bertindak terlalu jauh. The-Quen-Bee has to stay with her fiction.

Jumat, Agustus 05, 2011

HUBUNGAN TANPA STATUS [Bagian 1]

Bagian 1
Aku menatap mafhum kelantai yang dipenuhi lautan tisu, jam weker hello kitty merah muda diatas meja sudah menunjukan jam satu pagi dan aku menangis genap tiga jam meski aku kurang paham sejak kapan tiga menjadi angka genap tapi aku hanya menarik nafas dalam karena kelelahan plus menahan perih mata.
Isshh… Besok akan jadi hari wajah-terjelek-Ladya dengan mata merah dan kantung mata sembab, ini bukan lagi seperti panda tapi seekor panda tua berumur ratusan tahun yang telah bersemedi selama ribuan tahun tanpa tidur, bahkan panda itu tidak tidur lebih dari umurnya sendiri, kebayang kan gimana bentuk kantung matanya dan seperti itulah aku sekarang.
Hening diluar dan angin sepoi menyapu kuduk, menyadarkanku bahwa aku belum menutup jendela, aku bangkit bersama pantat yang berat dan menambah tingkat kelembaman sebanyak 30% lalu menutup jendela. Sesaat setelah melihat bintang, galau menyerang. Anjrit aku lupa kenapa aku nangis dan memutuskan berhenti hingga bintang-bintang itu kembali mengingatkan.
Satu bulan yang lalu aku kenalan sama Angga, cowok manis bermuka biasa tapi baik luar biasa, temen satu kampus juga tapi sebelumnya gak notice banget karena aku punya clique sendiri yang amat setia kawan, it’s myself and my shadow, ketebak kan karakterku. Lalu dia mulai pedekate, dia sms yang isinya standar cowok yang lagi pedekate, gitu-gitu lah, nanya lagi ngapain, udah makan apa belum, apa hobiku, gimana kuliah tadi –helooo kita seangkatan, so kita ada dikuliah yang sama-, dan akhirnya nanya ‘ada waktu gak? Jalan yuk’. AMPAS!!!
Di kampus dia manja abis sama aku, kemana-mana pengennya bareng, aku seneng-seneng aja punya backingan, digosipin pula sama dia, aku senyum-senyum doang, diledekin sama temen-temen sekomplotannya yang aku yakin 99% mereka berada disamping Angga ketika si Angga ngegombal ke aku. Aku mengerti semua itu, teori basi, tapi aku suka karakternya, dia lucu, berteman dengannya adalah sesuatu yang menyenangkan. Dia romantis juga sih walaupun kadang gak konsisten. Kalo suap-suapan dan nge-date termasuk rule-friendship antar gender maka persahabatan kami sungguh erat. Until the time comes, dia bilang ke aku kalo dia sayang. That’s it, dia bahkan gak pernah nembak.
Liburan semester datang, aku pulang kampung yang jaraknya cuma 36 km dari kampus, sedangkan dia pulang kampung ke sebuah tempat di provinsi yang berbeda dari kampus. Ini sudah jaman tekhnologi, maka sms-an pun jadi jawabannya. Tiap hari sms-an, deket banget, sama aja standarnya, gak unik, aku cuma senyum kaya cumi ketelen pisang ambon waktu baca pesannya dan yeah, karena aku emang hobi, aku balas deh. Gayung bersambut semua itu berlanjut sekitar sepuluh hari.
Liburan berakhir dan kedekatan kami berakhir. Aku menyadari ada sesuatu yang aneh ketika dia mulai jarang kirim sms, balasan sms nya berubah dari yang secepat kilat menjadi secepat abunawas ngitung bulu ekor kuda sampai kudanya tewas, dia mulai tidak terbuka lagi, mulai tidak menjadi gelas kosong yang siap dituangi lelucon, tidak lagi Angga yang dulu seakan Angga telah mengalami kecelakaan pesawat dan mengalami amnesia tapi yang dilupain cuma orang yang dia sayang aja. Ketika masuk kuliah kelihatan sifatnya yang menjauh, dengan asas mulia mempertahankan sahabat aku berusaha memperjelas keadaan kami, memperjelas status kami sebagai sahabat. Lagi lagi AMPAS!!!
Setelah berbagai cara dilakukan dan tidak membuahkan hasil, aku berhenti. Aku tidak menyerah, aku hanya tahu dimana aku harus berhenti. Semuanya berakhir dengan sangat tidak jelas, kalo kata orang aku digantung, tapi aku merasa melayang bukan digantung. Aku menghabiskan banyak waktu untuk menangis, sepertiga untuk kehilangannya, dua pertiganya untuk merayakan kebebasan.
Aku menatap keatas langit kembali untuk beberapa saat lalu mengencangkan kunci pada jendela. Bintang-bintang malam itu mengingatkanku pada persahabatan yang sudah pupus. Kalo bintang bisa ngomong dia cuma bakal komentar “Salah gue, salah sodara-sodara gue… -_-“ Basi lu Tang, klasik banget.
Besoknya aku sudah kembali menjadi Ladya yang diciptakan Tuhan, seorang perempuan ceria, baik hati, tidak sombong, berjiwa mulia, paling cantik di koloninya dan sembab rutin bulanan kayak menstruasi yang bikin semua temen khawatir bikin aku rasanya hari itu Queen-Bee banget, thanks Ga. Apapun alasan kamu buat menjauh dari aku, itu cukup menyadarkan aku bahwa tanpa kamu aku lebih baik.

Untung aku gak jadi mantannya dia.

Gue juga bisa jadi ampas buat lo! –ngacunging jari tengah ke anjing pudel tetangga-
***

Berlanjut ke bagian 2 pada ..... -entah kapan-

HUBUNGAN TANPA STATUS

Udah lama banget ya aku gak nulis di "delicious story" yasudah ... hayuk mari kita ngaco bentar :))
---------------------------------------------------------------------



Prolog

Carilah di pojokkan dunia manapun, tidak akan ada perempuan yang hobinya sama denganku. Menjalin hubungan tanpa status. It’s looks fun. Seumur hidup mantan pacarku cuma satu tapi pengalamanku mungkin melebihi orang yang mantannya sepuluh. Setiap semester aku punya backingan yang beda-beda, tiap liburan selalu sms-an dengan cowok yang beda-beda, setiap temenan selalu jadi yang paling cantik karena sisanya cowok, setiap jalan selalu digiring sama lain-lain cowok bahkan kadang lebih dari satu. Mereka semua adalah teman, iya teman. Need for you to know, standardisasi teman untukku beda dengan orang pada umumnya.
I’m not such a player, aku juga bukan objek dari seorang player. Semua itu hanya terlalu menyenangkan untuk dilepaskan. Ketika kau sadar bahwa kau menyukai sesuatu tapi disisi lain kau juga sadar bahwa tidak mungkin selamanya bersama mereka apalagi menjalin sebuah hubungan dengan status jelas, hal yang ada didepan mata hanya dua, pertama menjauh, kedua tetap menjadi teman hingga suatu hari benar-benar hilang. Entah karena sebuah kebodohan atau hanya wujud dari pembuktian sebuah kekerasan hati aku selalu memilih yang kedua.
Aku begitu sering mengucapkan selamat tinggal pada setiap orang yang aku cintai. Sakit dan berlalu itulah prinsipku. Sakit, berkali-kali menangis dan berkali-kali menyesal. Jera? Bullshit, tidak ada istilah itu dalam kamus hidupku. Apa yang bagiku membahagiakan, meski akhirnya menyakitkan, aku akan jalani semua itu karena hatiku butuh perasaan bahagia.
Namun, meski aku terlihat begitu menikmati ini, jauh didalam hatiku, aku terus mengharapkan seseorang yang bisa mencintaiku dengan jelas, dalam jangka panjang, dan tidak berlindung pada kata ‘sahabat’. Di satu sisi aku menginginkannya dan di sisi lain aku tahu hal itu adalah mustahil.

-------------------------------------------------------------------

Tumben ya gue bikin yang 'bersambung' ... halah ini lagi ngaco aja, sekalian mengenang masa-masa SMP, SMA, masa-masa ancur gue sampai sekarang masih ancur juga, wkwkwk ...

Anak kelas satu SD lagi boker juga tau, ni cerita isinya curhatan -_-" #Nancep #Dalem

Jumat, Maret 04, 2011

When Falling Star ....

Well, every-time 'Time' gives me holes for thinking and being quiet here without anything to do ...
I just have big time to make everything in my mind real ...
Extremely expressive, yes I am ....
It was so .... me ...
Well ... God ... Falling star ... Moon ! everyone ...
=======================================
Fin : night, 9.40 PM
At the lonely Friday_ 4 March 2011



“Bintang-bintang kemarilah sejenak untuk malam ini… aku kesepian sekali” teriaku pada bintang terdekat yang bisa kusapa
“Mustahil aku kesana, ini siklusku, jika aku jatuh maka aku tidak bisa kembali” jawab bintang sambil berteriak
“Bintang-bintang, lalu bagaimana caranya agar aku mendapatkan seseorang untuk menemaniku malam ini?”
“Aku tidak bisa kesana, jika aku kesana maka aku tidak bisa kembali, percuma aku kesana lalu mati, tapi jika kau melihat sebuah bintang jatuh dari orbitnya, memohonlah!”
“Bintang-bintang, kenapa kau harus menjatuhkan diri dan mati dulu agar bisa memenuhi permintaan, tidakkah itu tak adil untukmu?”
“Kami bintang, tak memiliki perasaan sepertimu. Kami bintang tak merasa sepi, tak pernah merasa tak adil, tak pernah merasa iri, untuk apa kami diciptakan, untuk itulah aku melakukan segalanya. Maaf jika aku tidak pernah mendengar atau merasa kasihan kepadamu, aku tak punya perasaan semacam itu, semua bintang tak punya”
“Bintang-bintang … aku iri kepadamu”
“Jangan iri, ketika kau merasakan jadi bintang yang kosong begini, kau akan mensyukuri perasaanmu sekarang. Bersemi”
“Bintang-bintang, tidakah kau lihat sekarang sedang musim dingin? Aku tidak sedang bersemi, aku kesepian”
“Benarkah?”
“Iya iya bintang”
“Aku mau jatuh” bintang berkata padaku “Pejamkan matamu dan ucapkan sebuah permintaan”
“Bintang-bintang, berikanlah aku saran doa apa yang paling baik untuk kuucapkan?”
“Aku tidak tahu, tapi saranku, kau merasa kesepian, maka mintalah seorang teman yang bisa membuat kesepianmu hilang”
“Bintang-bintang. Teman macam apa, aku tak temukan teman macam itu”
“Kau yakin”
“Bintang-bintang, aku punya seseorang, dia teman, iya dia seorang teman, tapi sekarang sudah tidak bisa benar-benar menemaniku lagi. Terlalu sulit, diluar sana banyak hal” aku mulai murung lagi, tapi kupaksa senyum, aku merasa tidak enak bersedih didepan bintang yang hidupnya akan berakhir.
“Nah, itu dia. Mungkin kau bisa meminta dia berada disampingmu selamanya, atau kau bisa membuat semua hal yang membuat dia tak bisa disampingmu itu dilenyapkan, atau mungkin kau bisa meminta sesuatu yang mirip dengan temanmu itu untuk menggantikannya”
“Bintang-bintang, berikan aku satu saja saran, itu terlalu banyak”
“Tidak sempat sayang, aku akan segera jatuh dan mati. Cepat tutup matamu dan ucapkan sebuah permintaan. Kau mau membuat kepergianku sia-sia?”
“Bintang-bintang, aku akan ucapkan permintaanku”
Bintang itu mulai oleng, dia memejamkan mata dengan damai, lalu tersenyum manis kepadaku sebelum orbitnya hilang tertiup oleh waktu, dia kehilangan tempat berpegang, membiarkan dirinya jatuh ringan menciptakan segaris putih yang cantik dilangit yang hitam. Aku bisa rasakan semua yang ada didalam diriku berdoa setelah melihat pemandangan itu. Akupun mengikuti, aku berdoa, aku sudah memilih permintaanku sendiri.
Aku tutup mataku rapat-rapat
Aku merentangkan kedua tanganku. Kusuk
Aku bahkan berlutut, dengan dramatis agar bintang senang melihatnya
“Bintang-bintang, aku akan ucapkan permintaanku”

Tuhan. Aku memohon kepada Engkau, apapun yang terjadi nanti, setelah ini, dia dekat, dia jauh, dia bersamaku, atau tidak bersamaku, jadikan dia orang paling bahagia didunia, jadikan dia agar tidak pernah kesepian lagi, jaga dia dan terus berikan alasan agar dia tetap tertawa.

Bintang terus meluncur, kehilangan daya untuk melayang. Dia tertarik sebuah jalan, sebuah jalur, sebuah gravitasi yang membuatnya terus jatuh menyusut menjadi batu putih indah dari jauh. Dia tersenyum lagi padaku, tapi dengan wajah kebingung. Matanya penuh dengan pertanyaan.
Kau meminta saran sebuah permohonan, kenapa kau meminta jauh dari yang aku sarankan
Mengapa kau memohon begitu banyak, mintalah cukup satu
Mengapa kau menggunakan kata ‘dia’ bukan ‘aku’ … Dia yang mana? Siapa?

Aku hanya tersenyum mendengarnya, melihatnya. Wajah bintang itu ketika pergi begitu tenang, aku hanya melambaikan tangan tanpa menjawab apapun padanya. Dia tidak mengatakan bahwa aku tidak boleh meminta lebih dari satu dalam satu doa, dia tidak tahu bahwa aku punya sahabat yang sangat aku cintai, dia Rembulan, dia tidak tahu aku lebih suka memakai kata ganti ketiga daripada kesatu. Satu hal lagi, dia tak tahu bahwa aku keras kepala.

Aku melambai lagi sambil berteriak “Bintang-bintang, kapan bintang selanjutnya akan jatuh?”
Bintang menggeleng “Aku tidak tahu” jawabnya dengan suara yang semakin lama semakin kecil
“Bintang-bintang, apakah doaku tadi akan dikabulkan?”
Bintang hanya tersenyum lalu dia menghilang dalam kegelapan, meninggalkan sebuah bekas kehangatan dari tempatnya jatuh. Indahnya menjadi bintang. Tapi kosong, mungkin karena itu aku tidak cocok jadi bintang…

Baiklah, aku akan tetap berada disini, menunggu rembulan berkunjung lagi, dan menunggu bintang selanjutnya jatuh dan memohon, aku tak punya doa lain yang sangat ingin ku wujudkan jadi mungkin jika ada bintang jatuh lagi dalam waktu dekat aku akan mengucapkan doa yang sama….


Dear God ---
I just forgot for a while, about something ….
Maya peeped me then … I was afraid if Moon just knew what I’ve been said when falling star happened … I shy …. X))
I just realized for a while ago, about another thing …
Game is not over … Did Moon smile?


Jumat, Februari 25, 2011

KISAH SEPOTONG BUMI KECIL



Aku duduk sendirian di tepi jurang itu, menatap segaris oranye batas langit senja sendirian. Dengan air mata. Entahlah, tidak ada kesedihan di dalam sini, kosong, tapi tiba-tiba ada rasa sakit. Langit semakin gelap, menutup diri dari kecerahan dan warna, menyalin diri dengan baju hitam, menutup diri dengan kelambu suram. Aku tetap disana dengan tatapan kosong penuh keingintahuan. Sepotong benda kecil bernama bumi.
Langit itu terus bergulir mengujudkan diri menjadi sesuatu yang tidak tergambarkan lagi.
Seperti sebuah jam pasir yang terus-menerus bergerak namun tetap sama, tidak terlihat perubahan kecuali jika suatu masa setelah si pasir telah habis. Seonggok kegelapan melingkupi. Aku takut, merasa takut.
Ibuku tersenyum padaku, dia adalah makhluk bernama waktu, seorang yang kadang sangat sabar namun kadang juga sangat buru-buru. Aku sangatlah penurut, apa yang dia inginkan harus wajib aku ikuti. Aku berputar mengikutinya, mengikuti geraknya. Dan kini aku mengikuti dia berhenti disana, dalam lubang kegelapan langit yang kosong melompong seperti sebuah lubang neraka yang tidak ada dasarnya.
Ayahku menepuk bahuku, hangat. Dia adalah Kala, sesuatu yang besar dan berkuasa, seperti ibuku. Dan aku hanyalah anak manis yang masih meratap disini. Dipinggir jurang sang ibu, di pangkuan sang waktu, berpegang dengan kala, menatap langit gelap yang tanpa kehidupan itu. Sungguh saat-saat yang tidak berharga yang berlalu begitu lambat dan tidak berkesan, tanpa warna dan ketidakpastian.
Lalu aku lihat setitik putih disana, jauh jauh jauh, tapi aku merasa seperti bisa menggapainya…
Aku bertanya kepada ibu “Ibu, apakah itu?”
Ibuku menjawab “Dialah bintang anaku, sama sepertimu, duduk dipangkuan ibunya, disana menatap kita, setitik putih dalam gelap” ibuku tersenyum hangat
“Apakah dia saudaraku ibu?”
“Dia sepupumu sayangku, tapi dia sangat jauh disana, kalian akan sulit bertemu” jawab ibuku kecewa
Semangatku ketika mengira akan mendapatkan seorang temanpun surut.
Beberapa lama aku menatap langit. Lalu aku melihat setitik putih yang kedua.
Aku berbalik ke sebelahku, ayahku disana, duduk disamping ibuku, tersenyum gagah bak seorang dewa. Menggenggam tanganku erat. Aku bertanya padanya “Itu bintang juga ayah?”
“Iya anakku” jawabnya
“Tapi itu terlihat lebih besar”
“Bukan lebih besar, tapi lebih dekat”
Wajahku mulai senang. Ada bintang yang lebih dekat, mungkin aku bisa menyapanya dan menemaniku disini ketika nanti setelah ini kedua orangtuaku sibuk bekerja mengatur rumah kami, sang semesta.
“Ajak dia kesini, ke rumah. Aku kesepian” ucapku
Ayahku hanya mengernyitkan wajah kecewa “Tidak bisa sayang, dia juga terlalu jauh”
Aku menangis
Mengapa setitik putih itu terlihat begitu indah, dan menggiurkan, dan bersahabat, dan ketika aku pejamkan mata, mereka seakan terjangkau oleh tanganku, namun kenyataannya mereka jauh. Aku kesepian, aku ingin mereka disini.
Melihat mereka muncul satu-persatu, titik-titik putih lain, bintang-bintang lain yang bermunculan, saling menyapa satu sama lain, namun tak tergapai membuatku semakin sakit. Mengapa Tuhan membiarkan aku melihat mereka, ini tak lebih baik dari ketika aku menatap langit kosong… Paling tidak saat aku menatap langit gelap yang mendung dan kosong, aku tidak mencoba untuk berharap. Aku menangis semakin keras karena aku merasa kesepian.
Ayahku mengelus kepalaku “Sayang, mengapa menangis, sudah cukup kami disini, mengapa kau masih kesepian?”
“Ayah, ini berbeda, kalian adalah orang tuaku, melengkapi siklusku. Tapi aku bumi, aku bertumbuh. Menjadi hijau lalu biru, lalu hitam dan kembali hijau, terus bertumbuh membawa banyak perasaan hidup didalam sini” sambil terisak aku jelaskan kepada mereka
Wajah ibuku tampak kasihan “Anaku, kami tak kuasa, ini adalah putusan kakekmua untuk tetap melakukannya” kata ibuku putus asa.
Iya, aku punya kakek, yang waktu dan kala tak kuasa melawannya. Dia adalah Jarak, aku benci jarak, aku benci kakek, dia mebuatku melihat namun tak bisa menggapai, dia membuatku merasa gagal.
TAPI DIA MEMBUATMU KUAT. DIA YANG MEMBUAT ULAT MENJADI KUPU-KUPU. DIA YANG MEMBUAT BINTANG-BINTANG ITU DAN DIRIMU TAMPAK CERAH DI KEJAUHAN
Aku membenci JARAK….

Lama aku merenung, menangis, duduk sendirian… kedua orang tuaku telah lenyap. Menyatu bersama detak waktu didalam jantungku, menyatu bersama aliran semesta penghias rumahku, menyatu bersama jam-jam pasir didalam pikiranku. Aku duduk sendirian berharap ada bintang yang paling dekat yang bisa paling tidak kusapa dan memberikan senyuman untukku.

Lama aku menunggu……..
Lalu aku menyadari sesuatu bahwa …. AKU DIAM
Aku ingin bergerak… mencari… aku memang hanya bumi yang kecil, tapi aku punya perasaan. Banyak perasaan, banyak hati. Kebencian, cinta, kepasrahan, semangat, kekecewaan, yang penghuni semesta lain tak punya. Ibu bilang aku istimewa, ayah bilang aku yang terbaik, tapi aku merasa aku aneh karena kini aku sendirian tidak ada teman….

Debu debu semesta saling berpapasan dan tersenyum satu sama lain, tapi mereka semua menatap benci kepadaku. Apa salahku.
Aku menangis … aku sendirian….

Lalu aku memutuskan untuk tidak diam. Aku tidak bisa berpindah, tapi aku bisa membuka mata, aku bisa berputar untuk melihat kesekeliling. Mungkin ada kesempatan untukku ketika kakekku lengah dan menghilangkan jarak pada salah satu bintang-bintang itu. aku ingin bertemu salah satu bintang itu.

Aku berputar, mataku ingin keluar, terbelalak, takjub menatapnya…
Susuatu yang bulat indah, bersih, bercahaya, tersenyum dengan hangat, membuka tangan, dan dia DEKAT

Aku berteriak untuk menyapanya “Hai ..” teriaku
“Hai” jawabnya
“Apakah kau bintang?” tanyaku
Dia tertawa
“Kenapa tertawa?”
“Tak ada bintang sedekat ini”
“Lalu apa kau ini? kau mirip bintang-bintang itu, tapi kau dekat” aku memejamkan mataku, mengulurkan tanganku, mencoba menggapainya. Tak sampai, tapi aku bisa rasakan hangat tubuhnya, sebuah aura yang begitu hangat. Tanganku bergetar, tubuhku bergetar, sebuah kebahagiaan. Aku merasa tak lagi sendirian.

“Aku adalah rembulan”
“REMBULAN?”
“Iya” katanya sambil mengangguk.
Dan sejak itu aku tidak merasa kesepian lagi.
Bulan bilang padaku dia tidak bisa datang saat siang, karena dia harus berada ditempat dimana kegelapan muncul untuk menghiasi kekosongannya, tapi dia berjanji, dia mengawasiku dibelakang, meski aku tak melihatnya. Aku percaya padanya.

Suatu hari, di pagi yang cerah dengan embun dingin yang menyiram seluruh tubuhku, menumbuhkan kesejukan di separuh kepalaku, menyenangkan sebagian hati yang hidup didalamku. Aku duduk disamping ibuku. Aku bercerita tentang rembulan padanya.
“Ibu, kau tahu siapa rembulan itu?”
Ibuku menggeleng
“Dia menjadi sahabatku dan menemani aku setiap malam” kataku penuh semangat
“Benarkah, aku tidak tahu ada hal yang seperti itu”
“Iya, kataku. Aku meminta bintang kepada Tuhan, dia tak berikan karena kakek merintanginya, tapi Tuhan berikan hal lain yang tak kalah hebat, yang lebih baik, Tuhan berikan aku rembulan untuk menemaniku”
Ibuku tersenyum
Ayahku datang dan ibu bercerita tentang rembulan pula kepadanya.
Ayahku mendekat dan mencium keningku
“Ada apa ayah?” tanyaku
“Suatu hari kau akan tau dan belajar sesuatu anaku” katanya
Aku hanyalah seonggok bumi kecil yang kesepian dan merasa sendirian, aneh, dan polos. Aku hanyalah seonggok bumi tak berharga yang selalu mengikuti apa yang kuinginkan tanpa pikir panjang, aku adalah seonggok bumi kecil yang jarang merasa bahagia karena terlalu banyak kebencian hidup didalamku. Bumi itu meski kecil namun berat.
Maka, saat rembulan disisiku, aku merasa senang. Aku merasa tenang. Aku tidak merasa takut. Dan perasaanku ringan. Gejolak air dalam tubuhku menjadi pasang saat rembulan muncul, lebih dari setengah pikiran dan hati di dalam diriku, ribuan, menjadi tenang saat ikut menatap rembulan bersamaku dari jauh. Andai kalian tahu rembulan begitu dekat disini disampingku.
Semuanya terasa seperti akan selalu baik-baik saja saat berada disamping rembulanku ….

Lalu suatu hari …..

Aku ………..
Aku duduk sendirian di tepi jurang itu, menatap segaris oranye batas langit senja sendirian. Dengan air mata. Entahlah, tidak ada kesedihan di dalam sini, kosong, tapi tiba-tiba ada rasa sakit. Langit semakin gelap, menutup diri dari kecerahan dan warna, menyalin diri dengan baju hitam, menutup diri dengan kelambu suram. Aku tetap disana dengan tatapan kosong penuh keingintahuan. Sepotong benda kecil bernama bumi.
Aku menunggu rembulan …..
Aku duduk ditempat dimana aku bertemu dengan rembulan.
Aku menghadap kearahnya … karena aku tidak bisa kemana-mana dan tidak akan kemana-mana
Aku menunggu penuh semangat TAPI ….
Ayah mulai lelah bekerja
Ibu telah lelah menyusun jam pasir
Kakek pun berbisik-bisik memintaku tidur
Rembulan tidak muncul dan aku menangis ….
Rasanya seperti tsunami didalam diriku, rasanya ratusan nyawa dalam hatiku mati satu-persatu, yang lain ketakutan, dan yang lain berteriak, yang lain bersedih, tak ada satupun rasa senang disana. Tsunami itu menghabiskan tubuhku sendiri.
Aku gemetar, gempa diseluruh tubuhku. Ketakutan melanda, tiada tara. Aku tak berdaya
Air mata terus jatuh. Hujan membanjiri semua sel-sel darahku, semua pembuluh-pembuluh nadiku, bahkan otakku. Semua tersiram hujam lebat yang tak henti menenggelamkan akal sehatku. Satu malam rembulan tiada, semuanya menjadi seperti neraka. Semua jadi sangat gelap dan sepi seperti dahulu, bahkan lebih buruk ….

Ayah mendatangi dan mencoba mendiamkanku…
“Rembulan akan kembali” katanya “Dia tidak bisa selalu berada disampingmu setiap saat. Banyak hal diluar sana yang harus tetap dia lakukan”
“Aku takut ayah” kataku tersedu
“Jangan takut, bukankah aku pernah bilang padamu bahwa kau akan belajar? Belajarlah sekarang”
“Kenapa aku dipertemukan dengan bulan, kenapa kakek lengah sehingga tak ada jarak diantar kami, kenapa sekarang Tuhan membuat dia tidak datang?”
“Besok dia akan kembali, sekarang dia hanya akan mengintip dibalik awan gelap dari kejauhan, menjaga bumi lain sambil memperhatikan dan berdoa kau baik-baik saja”
“Mengapa kau tahu ayah?”
“Aku bertemu dengannya setiap bekerja, dia menyatu dengan orang lain namun aku kenal dia yang selalu sendirian dan berbeda dari yang lainnya. Apakah bagimu dia sangat terang?”
“Iya” aku mengangguk
“Padahal dia bulan paling gelap yang pernah kutemui” gumam ayah
“Dia bahkan lebih terang dari bintang terdekat yang bisa kulihat” sahutku dengan air mata
Ayah tersenyum. Mengelus kepalaku, hingga aku terjatuh dan tidur. Tenggelam dalam pangkuan waktu. Terdiam dan kosong menanti rembulan kembali dalam kegelisahan.

Besoknya … Rembulan kembali …..
Aku bahagia ………………..

“Wahai rembulan, kenapa kemarin kau tidak datang?”
“Ada banyak hal yang kau tidak mengerti, tapi kau tahu aku berada disini saat aku bisa”
Aku mengangguk polos tanpa pikiran apapun. Aku kosong, pikiranku hanya dipenuhi oleh rembulan dan setiap kata yang keluar darinya akan terus kubenarkan selama itu membuatku senang, aku merasa tenang. Dan semuanya kembali ….

Besoknya ….
Besoknya …..
Besoknya …..
Besoknya …..

Rembulan itu, kadang ada kadang hilang ……….
Lama kelamaan, semakin lama hilang, tapi … dia masih ada.
Saat kututup mata, kegapai tanganku ketempat dia seharusnya berada, aku bisa rasakan keberadaannya, sebuah kehangatan. Dingin! Tanganku gemetar, wajahku pucat….

Kenapa dingin?

Rembulan datang dan tersenyum… tapi dingin… aku ingin bertanya tapi tidak kutanyakan apapun karena aku takut …..

Lalu rembulan tidak ada…. Lalu dia ada …. Lalu menghilang lagi ….
Dari kejauhan dia mengawasi, itu yang selalu ayah katakan padaku ….

Dalam hati ini merasa resah …. Aku sebuah bumi kecil yang terus berputar pada siklusku, aku tidak bisa kemana-mana dan tidak akan kemana-mana. Saat kutatap langit dimalam hari, aku selalu berharap melihat rembulan disana, aku sering melihatnya. Namun kadang tidak.
Rasa kesepian tanpanya seperti ribuan tahun lamanya ….
Tapi aku tahu, dia tetap disana mengawasi ….





Aku mulai khawatir …………
Rembulan berjanji akan berada ditempat dimana dia akan datang ….. saat dia ada aku merasa tenang, tapi aku merasakan dingin…. Saat dia tak ada, ada sebuah kegelisahan didalam sini …
Pernah aku bilang kepada orang tuaku agar berhenti bekerja, hentika siklus saat rembulan ada disini, tapi mereka menolak
“Tidak bisa sayang, kakek akan marah, Tuhan juga”
Aku diam, oh iya benar, aku egois ….
Lalu aku hanya diam menunggu ….
Dalam hatiku ada sebuah rasa takut, bahwa mungkin nanti suatu hari, rembulan itu takkan pernah ada lagi ….. aku menangis dan ketakutan, saat itulah dia ada …… dan ketakutanku sirna
Tapi ketakutan itu akan datang lagi nanti …. Tapi aku hanya tersenyum sekarang ….
Mungkin iya suatu hari rembulan tidak akan pernah bisa muncul lagi, namun saat itu seharusnya adalah saat dimana rembulan akan terang selamanya menjadi bulan paling terang diantara bulan yang lain dan tidak lagi menjadi rembulan yang penyendiri, meski saat itu dia hanya mengintip dari semesta sebelah karena sedang menerangi bumi yang lain …
Mungkin iya suatu hari rembulan tidak akan pernah bisa muncul lagi, tapi seharusnya saat itu adalah saat dimana kakek menjadi ramah dan menghilangkan jarak antara aku dan bintang-bintang disana, meski sebanyak dan seterang apapun semua bintang itu, satupun tak bisa mengaggantikan rembulanku yang baik …..

Kakek mendekatiku dan tertawa “kau sangka ini konspirasiku bersama Tuhan?”
Aku mengangguk
Kakek menjawab “Tidak, aku tidak ikut campur. Aku hanya merintangi jarak antara kau dan bintang, bukan kau dan rembulan. Jarak yang tercipta adalah langsung buatan Tuhan. Bujuklah Tuhan”

Aku tersenyum lirih
Aku akan bujuk Tuhan ….
Tuhan lebih mudah dibujuk daripada kakek ;)
Aku lalu berbalik, duduk manis dipinggir jurang, menanti malam dan menanti rembulan. Jika dia tidak ada aku akan pulang dan kembali malam berikutnya dan malam berikutnya dan malam berikutnya lagi … aku akan berhenti hingga Tuhan terbujuk atau malam takkan pernah lagi datang …..

Keduanya adalah tidak mungkin
Tuhan selalu akan terbujuk karena dia luar biasa baik
Malam akan terus datang karena kedua orang tuaku tak pernah berhenti berputar
Itu artinya aku akan tetap datang ke tempat yang sama dimana mungkin malam itu rembulan ada …

TUHAN LEBIH MUDAH DIBUJUK DARIPADA KAKEKKU
DAN MEMANG …. APA YANG AYAHKU, SANG KALA, KATAKAN, AKU BELAJAR SESUATU, MESKI HINGGA SEKARANG AKU MASIH TERLALU KECIL UNTUK MEMAHAMI APA YANG TELAH AKU DAPAT DARI PELAJARAN ITU ……

Mungkin agar aku berhenti merasa kesepian dan agar rembulan itu menjadi rembulan yang tidak penyendiri lagi ……….

Dalam semesta ini tidak akan pernah ada akhir yang benar-benar bahagia … tapi!  Tuhan kan bisa dibujuk ;’p
===================================
Fin, 12.01 midnight, 26 feb. 2011
Bumi tidak pernah tau semudah apa dia akan lenyap tertutup awan
Bumi juga tak pernah tahu, sejauh apa jarak akan menjauhkan
Bumi juga tak pernah tau secepat atau selambat apa waktu menimangnya
Bumi tak ingin tahu bagaimana cara Kala membuat kepalanya penuh dengan kenangan
Mereka semua adalah keluarga Bumi ....

Bumi tak pernah tahu semudah apa dia akan hilang dan dilupakan .... Hanya saja satu hal yang diyakini oleh bumi .... Rembulan adalah teman terbaiknya hingga saat ini!