Tampilkan postingan dengan label psikoneurosis-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikoneurosis-ku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 20, 2011

Dualisme

Dualisme


Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.
Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa "kecerdasan" seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.
Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang. Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis monisme, termasuk fisikalisme dan fenomenalisme. Substansi dualisme bertentangan dengan semua jenis materialisme, tetapi dualisme properti dapat dianggap sejenis materilasme emergent sehingga akan hanya bertentangan dengan materialismenon-emergent [Dikutip dari wikipedia]

It seems usual for everyone but dangerous for me.
Aku sudah sering mengamati dan ternyata dualisme yang terjadi padaku sangat berbahaya.
Itulah salah satu fungsi aku ‘menulis’. Pertama itu memang hobiku, kedua adalah untuk memahami karakterku sendiri beserta pengaruhnya terhadap orang lain. Sesuatu yang sangat berisiko karena aku memilih publikasi yang gak tanggung-tanggung, blog, facebook, twitter, dan for a moment pada sedikit orang di heello.
Karakterku sudah terbaca banyak oleh mereka dari apa yang aku tumpahkan lewat tulisan, tapi tidak banyak yang bisa memahami –selain diriku sendiri yang sudah lama mengamati- tentang dualisme yang sering terjadi padaku.
Sebuah bahan pembelajaran yang bagus dan aku sama sekali tidak keberatan menjadi objek untuk diriku sendiri mempelajari salah satu keanehan –kelainan- jiwa yang jarang ditemui.


Dualisme yang pertama
Dualisme Kepribadian
Awalnya aku mengira ini semacam kepribadian ganda, tapi setelah mengamati dan sedikit mempelajari karakter atau sifat dari seseorang yang berkepribadian ganda, ini jelas bukan kepribadian ganda. Ini hanya dualisme kepribadian, yang mana keadaannya adalah dua kepribadian yang berlawanan beriringan bersamaan menguasai tapi tetap dalam keadaan sadar. Jika pada seseorang yang berkepribadian ganda bersifat baik lalu berubah sadis dan kembali baik, dia akan merasa seakan ada waktu yang kosong dan hilang. Aku juga merasakan itu, tapi bukan karena hilang, waktu yang kosong itu seperti semacam jeda yang aku benar-benar sadar, aku merasa ada yang hilang dan kosong tapi sebenarnya akupun tahu itu tidak benar. Kosong yang pikiranku artikan adalah sesuatu yang terjadi karena sifat lain yang keluar dari diriku yang sebenarnya tidak aku sukai tapi aku tidak kuasa menolaknya, aku sadar, perlu dicatat itu. Aku ingat. Jadi kosong disini bukanlah sebuah gejala, tapi sebuah pembelaan pikiran ketika dirimu menghakimi sebuah kesalahan pada dirimu sendiri, dan sisi lain dirimu mencari-cari alasan untuk membela diri. Sebenarnya pembelaan diri itu tidak diperlukan seandainya aku bisa mengendalikan untuk memilih salah satu karakter saja tapi aku sama sekali tidak bisa untuk memilih. Ada sesuatu didiriku yang kadang menikmatinya. Ambilah contoh, ketika pada suatu waktu aku adalah orang yang baik, dalam artian menerima dengan logis apa yang terjadi, berpikir realistis, dan menerima apa adanya semua keadaan dengan ikhlas, tapi dihari yang lain dengan masalah yang sama yang secara praktis sudah terselesaikan ternyata ada sisa-sisa diriku yang mengulang masalah itu dalam pikiran dan menunjukan reaksi yang berbeda, dendam, marah, menyesal, memaki, bersikap terlalu utopis dan berangan-angan akan kemungkinan yang hanya akan terjadi dengan probablitas 0,1%, hal ini jelas mengganggu. Orang akan berpikir aku tidak konsisten.
Tidak konsisten pada satu sisi memang bisa ditoleransi keadaannya, misalnya ketika kita ditanya “Lihat, teman kamu belum menyelesaikan tugas dan membuat kalian semua dihukum, menurut kamu apakah dia berhak dihukum?” maka akan terjadi perang ketidakonsistenan disana, satu pikiran akan bilang “Ya dia berhak dihukum karena tidak menghiraukan nasehat teman-temannya untuk segera menyelesaikan tugas dan membuat teman yang menyelesaikan tugas ikut dihukum” dan kedua “Tidak, dia teman kami, jika dia dihukum kami semua harus juga dihukum karena salah kami juga tidak cukup membantunya, dia punya masalah diluar ini yang membuatnya terhambat menyelesaikan tugas”… dalam satu sisi itu adalah ketidakonsistenan yang umum terjadi dan bisa ditoleransi. Sedangkan yang terjadi padaku berakibat sangat fatal dan disegala aspek. Sebuah sikap tidak konsisten yang terlalu vital untuk ditoleransi bahkan untuk diriku sendiri. Bagiku ini adalah sebuah masalah dan aku bisa lihat efeknya amat sangat besar dan tidak terlalu baik untuk orang-orang disekitarku.


Dualisme yang kedua
Dualisme Perasaan.
Terdengar klise huh? Ini bukan semacam ajakan untuk bergalau, ini adalah sesuatu yang berbahaya. Aku sadar, diriku adalah orang dengan pikiran yang begitu kuat melindungi diri, menjadikan aku tertutup dan pemilih. Barier yang dibuat oleh pikiranku, pengalih dan katarsis yang berbahaya. Pada satu sisi aku menyukai sesuatu dan disisi lain aku akan membenci sesuatu itu habis-habisan. Mungkin terdengar biasa dan pasti sangat sering sering sering terjadi di dunia nyata, tapi dualisme yang satu ini sangat mengganggu. Bagaimana tidak, ketika aku menyukai sesuatu, dan pikiranku mempertebal barier akan perasaanku, maka dia akan mengalihkannya pada hal lain. Menyukai hal lain. Aku adalah orang yang selalu heran dan bingung pada seseorang yang bisa menyukai sesuatu, misalnya mencintai dua orang dengan kadar yang sama disaat yang sama, bukan sesuatu yang tercela atau salah, hanya saja itu jelas-jelas mempersulit, dan sekarang aku jatuh pada dualisme itu juga.
Coba pikir, aku menyukai laptop, aku menyukai buku. Lantas apakah itu masalah? Tidak, dua hal yang berbeda dan cara kita mencintainya juga berbeda tapi seperti yang aku bilang perlawanan dipikiranku seakan memaksaku untuk memilih hal yang TIDAK PERLU DIPILIH, pikiranku memaksaku untuk memilih antara buku atau laptop. Itu tidak masuk akal! Pikiranku mengkadarkan sebuah rasa suka sangat terbatas, mungkin riwayat terdahulu terlibat sebagai penyebab, tapi ini terlalu berlebihan dan jelas-jelas mengganggu. Hal yang sama sekali membuat aku tidak sukses untuk beberapa hal.



Dualisme yang ketiga dan paling berbahaya
Dualisme Keyakinan
Ini yang paling berbahaya. Aku pada satu masa adalah orang yang sadar agama, sadar bahwa sesuatu itu tidak boleh dan boleh, namun pada suatu masa bisa menjadi apatis. Aku selalu peduli dengan kepantasan pakaian ku, namun disatu masa yang lain aku tidak peduli jika aku memakai rok pendek, kaos ketat, atau celana pendek untuk keluar malam-malam sendirian. Aku selalu peduli jika harus melaksanakan sembahyang, aku selalu ingat jam waktunya sholat, tapi pada satu masa keimananku berada pada titik nol dimana aku tidak peduli apakah hari ini aku sudah sholat atau belum, bahkan kadang ketika waktu begitu senggang aku lebih memilih melanjutkan tidur. Di satu sisi aku peduli disisi lain dimasa yang lain aku hanya berpikir ‘persetan’ dengan semua itu. Kadang aku seorang yang ortodok, kadang liberal. Tapi aku masih bertahan dengan sisa keimanan yang ada mempertahankan apa yang kemarin sudah aku pilih. Aku berusaha dan yeah… dualisme yang satu ini begitu sulit dijelaskan, studi kemana-mana aku bingung menjelaskannya. Aku mengamati beberapa sikap orang-orang disekitarku terhadap agama, semuanya datar, dalam artian mereka yang taat ya taat, mereka yang biasa aja ya biasa aja. Gak ada yang terombang-ambing seperti aku. Dari luar aku semakin terlihat tidak konsisten, tapi aku sendiri padahal tidak memilih ini, aku kurang paham denga hatiku, aku merasa takut pada Tuhan di satu masa, dan dimasa yang lain  aku seakan cuek dan tidak punya rasa takut sama sekali seperti seoang atheis. Aku tahu ini tidak baik, lama aku mencari obatnya, tapi tidak ada. Hingga sekarang yang aku lakukan hanya merenung sebanyak-banyaknya dan mempertahankan keimanan sekuat yang aku bisa. Wish me luck…..


Last…
Meskipun sedualisme apapun aku terhadap pikiran dan diriku sendiri, aku tetap aku. Seorang teman yang selalu berusaha menjadi penyayang! Everytime you need me guys, I always here. Find me, I’ll help, without payment! Even when I’m angry, I’ll still have a lil bit smile for you….. Sesuatu yang tidak akan pernah kubiarkan terdualisme. Friendship!!!

Ignore everything I had been did. It just me and myself, not with anyone….

Selasa, Mei 10, 2011

Sebuah 'Hendaya'



Aku dan dia, masih tak pernah bisa akur. Kukira ini sudah berakhir, ternyata belum.
Hendaya, dalam bahasa Inggris artinya adalah disability atau ‘ketidakmampuan’. Dalam psikiatri, hendaya biasanya terjadi dalam hubungannya menyangkut sebuah penyakit jiwa, hendaya dalam membedakan realita, hendaya dalam memilah fakta, hendaya dalam mengendalikan mood dan afek. Everything is fine in me, except ….

Aku tidak bisa mengendalikan satu hal yang kusebut itu ‘hendaya’

Jujur, dulu, aku sempat terkena fase mengidap ‘skizopreniform’ yaitu gejala skizofren dengan adanya waham dalam waktu kurang dari enam bulan (meski halusinasi yang terjadi minimal) tapi disana aku memiliki sebuah waham, atau delusi tentang ‘nihilisme’. Beberapa kali medapat suruhan dalam hati berupa anjuran untuk bunuh diri. Tapi, ada sesuatu yang membuat aku menghentikan itu. Aku sudah berjanji, itu intinya!
Sebuah stressor berat membuat aku kembali berpikir (dulu pernah satu kali berpikir bunuh diri saat SMP karena depresi, hebatnya aku bisa menyembunyikan itu dan keluargaku tak ada yang tahu satupun) untuk bunuh diri, tapi lalu aku sadar. Bisikan itu masih datang seringkali (bukan bisikan tegas berupa suara ditelinga, tapi lebih cenderung ke bisikan menuju hati), tapi aku bisa menepisnya hingga sekarang sudah hilang sama sekali. Aku bersyukur, terima kasih berkat kau waham ‘nihilisme’ ku hilang.



Sekarang aku adalah orang yang sangat bersemangat untuk hidup, orang yang punya semangat dan cita-cita… Aku suka empat, ada empat hal besar yang menjadi cita-citaku dan hingga sekarang belum tercapai.
1.       Aku ingin menjadi anak yang berbakti bagi orang tuaku
2.       Aku ingin menjadi dokter yang dicintai dan menolong banyak orang dengan tulus
3.       Aku ingin menjadi seorang istri yang sempurna dimata suamiku kelak
4.       AKu ingin menjadi seorang ibu terbaik dan membanggakan anak-anaku
Setiap wanita itu, meski setakacuh apapun mereka terhadap hidup, mereka tetaplah wanita, aku tetaplah wanita. Aku ingin menjadi seorang istri dan seorang ibu. Aku berjanji untuk tetap hidup dan menjaga diriku, aku mempunyai cita-cita. Dua hal yang membuatku masih bertahan disini dan memaksakan diri bernafas meski aku tahu, for something that I can’t have, something that I can’t live without, it’s you! Tapi banyak hal didunia ini yang membuatku tetap berdiri dengan separuh nyawa yang masih aku miliki dan berkata ‘Aku ingin hidup seribu tahun lagi untuk memastika cita-citaku tercapai, untuk memastikan bahwa aku telah menepati janji, untuk memastikan orang-orang yang kucintai baik-baik saja’

Tapi …..
Everything just doesn’t be great easily ….

Meski nihilisme itu hilang, hendaya ku untuk mengendalikan satu hal masih belum hilang. Aku dan dorongan untuk melukai diri itu masih bertahan.
Ketika keinginan itu begitu kuat, aku bahkan sanggup tidak tidur hingga pagi buta hanya untuk memandangi pisau berkarat yang jangankan membuatku berdarah, menggores tangan pun tidak bisa.
Ketika keinginan itu muncul, semuanya tidak bisa dihindari. Tangan dan seluruh tubuhku seperti bergerak sendiri. Aku sadar sepenuhnya tapi aku tidak bisa mengatur apapun untuk menghentikan tanganku yang terus bermain pisau, keinginanku saat itu hanya satu, aku ingin membuat luka dibagian manapun ditubuhku, hingga ada darah yang keluar baru aku mau berhenti.
Pada awalnya, aku memulai lalu aku gagal. Jauh dalam hatiku aku merasa lega, tapi pikiran lain yang lebih kuat justru seperti protes, dia akan mengulanginya. Aku ingin stop tapi mataku dan pikiranku tidak bisa. Berjam-jam seperti orang gila. Padahal aku baik-baik saja.

Ketidakmampuan untuk memiliki apa yang aku innginkan adalah etiologi terbesar dari semua masalah itu. Apa yang sangat aku kejar dan aku inginkan ….. Aku bukan orang serakah, aku hanya seorang wanita biasa yang ambisius dan punya keinginan besar terhadap sesuatu. Tapi keinginan itu kadang sedemikian kuatnya sehingga melukai diriku sendiri adalah satu-satunya kepuasan yang bisa kudapat setelah aku bersedih.

Aku tidak pernah punya niat ….
Jujur, aku memang masih ingin hidup seribu tahun lagi.
Tidak ada keinginan untuk mati….
Hanya rasa perih itu memuaskan hatiku …
Aku bukan seorang masokis, kesakitan itu tidak ada hubungannya dengan kepuasan seksual, namun masuk ke kepuasan pikiran, hati, …..
Apakah suatu wujud mencari perhatian? Mungkin…
Seorang penderita psikoneurosis akan mendapatkan keuntungan primer dan sekunder terhadap penyakitnya, primer adalah depresinya tersalurkan, dan sekunder salah satunya adalah mendapat perhatian dari lingkungannya, sehingga kadang pasien seakan membutuhkan penyakitnya. Itu yang kudapat ketika kuliah dan aku pikir, mungkin saja, tapi jauh didalam hatiku, dibanding keuntungan yang kudapat, rasa bersalah dan takutku lebih besar. Lalu esensinya aku melakukan itu apa?
Entahlah … Ini semacam hendaya untuk mengendalikan keinginan….
Kadang aku ingin sembuh
Tapi benar, kadang aku merasa membutuhkan penyakitku ini. Tanpanya aku tidak tahu bagaimana harus menumpahkan depresiku …
Aku lelah dengan semua ini ….
Aku ingin menghilang jika bisa …
Tapi banyak hal yang aku tidak bisa tinggalkan bukan karena membutuhkan aku tapi karena aku yang membutuhkannya …
For something that I can’t have, something that I can’t live without ….

Tuhan, aku takut aku harus hilang ….
Tapi jujur aku masih ingin hidup seribu tahun lagi dan melihatnya baik-baik saja hingga akhir hayatnya…
Tuhan, aku takut aku tidak bisa benar-benar menjaga diriku ….
Tapi jujur aku masih ingin tetap baik-baik saja agar aku bisa menciptakan senyum termanisku untuknya ..

Hendayaku ini hanya menegaskan bahwa aku adalah seorang manusia yang tidak sempurna yang kadang tidak bisa mengendalikan emosiku. Diluar itu aku adalah seorang wanita normal yang sama dengan wanita lain didunia sana. Hanya ingin tertawa ketika berada disamping orang yang aku cintai, hanya ingin memperlihatkan bahwa aku kuat dan aku baik-baik saja, yang merasa menyesal ketika melihat orang-orang merasa khawatir, yang merasa sedih ketika mereka sedih, yang ingin melakukan sesuatu namun tidak boleh, tidak bisa, dan tidak mampu….

I’ll stop until there’s 0% possibility for me … And for its 0% possibility itself, it has 0% possibility to happen so, I won’t stop for loving you and stay alive to reach my dream, even if something like that happen again and again and hurting me in the hand, in the hair, in the head, in the cheek, in the eyes, in the leg, in the heart … It just little pain that can’t switches my happiness can to be your side and walk to my dream ……

Aku hanya ingin hidup seribu tahun lagi …
Meski aku tidak bisa benar-benar menjaga diriku ….
Hendayaku ini hanya sebagian kecil kekuranganku yang tak lebih banyak dari kelebihanku …

It just doesn’t be great easily but it can be great as the way I am doing that ….
I love you and wouldn’t change with any possibility …


Kamis, April 14, 2011

Macam Delusi



Waham (delusi) ada berbagai macam, yaitu :
  • Waham kendali pikir (thought of being controlled). Penderita percaya bahwa pikirannya, perasaan atau tingkah lakunya dikendalikan oleh kekuatan dari luar.
  • Waham kebesaran (delusion of grandiosty). Penderita mempunyai kepercayaan bahwa dirinya merupakan orang penting dan berpengaruh, mungkin mempunyai kelebihan kekuatan yang terpendam, atau benar-benar merupakan figur orang kuat sepanjang sejarah (misal : Jendral Sudirman, Napoleon, Hitler, dll).
  • Waham Tersangkut. Penderita percaya bahwa setiap kejadian di sekelilingnya mempunyai hubungan pribadi seperti perintah atau pesan khusus. Penderita percaya bahwa orang asing di sekitarnya memperhatikan dirinya, penyiar televisi dan radio mengirimkan pesan dengan bahasa sandi.
  • Waham bizarre, merupakan waham yang aneh. Termasuk dalam waham bizarre, antara lain : Waham sisip pikir/thought of insertion (percaya bahwa seseorang telah menyisipkan pikirannya ke kepala penderita); waham siar pikir/thought of broadcasting (percaya bahwa pikiran penderita dapat diketahui orang lain, orang lain seakan-akan dapat membaca pikiran penderita); waham sedot pikir/thought of withdrawal (percaya bahwa seseorang telah mengambil keluar pikirannya); waham kendali pikir;waham hipokondri 
  • Waham Hipokondri. Penderita percaya bahwa di dalam dirinya ada benda yang harus dikeluarkan sebab dapat membahayakan dirinya.
  • Waham Cemburu. Cemburu disini adalah cemburu yang bersifat patologis
  • Waham Curiga. Curiga patologis sehingga curiganya sangat berlebihan
  • Waham Diancam. Kepercayaan atau keyakinan bahwa dirinya selalu diikuti, diancam, diganggu atau ada sekelompok orang yang memenuhinya.
  • Waham Kejar. Percaya bahwa dirinya selalu dikejar-kejar orang
  • Waham Bersalah. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang bersalah
  • Waham Berdosa. Percaya bahwa dirinya berdosa sehingga selalu murung
  • Waham Tak Berguna. Percaya bahwa dirinya tak berguna lagi sehingga sering berpikir lebih baik mati (bunuh diri)
  • Waham Kiskin. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang miskin.

Selasa, Februari 22, 2011

BENTUK BENTUK GANGGUAN MENTAL


BENTUK BENTUK GANGGUAN MENTAL



a. Psikose
Psikose merupakan gangguan kejiwaan (kelainan kepribadian) yang meliputi keseluruhan kepribadian (emosi,berpikir, dan sebagainya) seseorang sehingga orang yang menderita tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Secara teoritis psikose terbagi dua golongan besar, yakni psikose fungsional dan psikose organic. Psikose fungsional timbul disebabkan oleh aspek kejiwaan, sedang aspek organic disebabkan kelainan pada aspek ketubuhan.

Sebab-sebab psikose fungsional:
1. Konstitusi pembawaan mental dn jasmani yang herediter, diwarisi dari orang tua atau di generasi sebelumnya yang psikotis.
2. Kebiasaan-kebiasaan mental yang buruk sejak masa kanak-kanak.

Psikose fungsional dapat kita bedakan dalam
1. Skizofren
yaitu kepribadian yang terpecah yang bergejala:
Logika tidak berfungsi, sehingga pembicaraan berlompat-lompat, sering mengeluarkan kata-kata aneh yang hanya dia yang mengerti
Ucapan, perbuatan pikiran tidak sejalan sehingga yang bersangkutan dapat menceritakan hal yang sedih sambil tertawa.
Timbul delusi waham, sebagai akibat pikiran yang berorientasi pada khayalan.
Seklussif yaitu minat dan kontak social sempit, berada dalam elienation
Timbul halusinasi, sehingga sering terjadi kesalahan persepsi dalam arti mendengar, melihat, merasa sesuatu yang tidak ada.

Disamping tanda umum diatas, masih terdapat gejala khusus
a. Skozofren simplex, dimana penderita masih mampu melihat realitas, tetapi bila diperhatikan memang terdapat keanehan tingkah laku.
b. Skizofren hebepherenic, yang memperlihatkan gejala kemunduran ke tingkat yang lebih rendah, antara lain menangis seperi anak kecil.
c. Skizofren paranoid memperlihatkan gejala kecurigaan yang berlebihan, merasa dirinya diancam dibunuh, diracuni, berada dalam situasi stupor.
d. Skizofen katatonic memperlihatkan motorik yang tidak terkontrol

2. Psikose manic depressive (psikose efektif)
Pada penyakit ini terdapat perasaan euphoris (rasa gembira yang berlebihan), perasaan optimis yang berlebihan, jalan pikiran cepat tak salah, tak mengenal lelah, semua persoalan enteng baginya. Pada suatu saat euphoris tadi (elation, mania) berubah jadi sedih ( depresi, melancholia) yang dalam, duduk bermuram durja.

3. Paranoid
Penyakit ini ditandai oleh adanya kecurigaan yang tidak beralasan yang terus-menerus yang pada puncaknya dapat menjadi tingkah laku agresif. Disini wahamnya sangat menggangu sehingga sering merasakan ada ancaman membunuh dirinya lalu mengasah pisau. Hanya pada penderita ini masih terdapat emosi dan pikiran berjalan baik serta berhubungan. Jalan pikiran masih cukup sistematis, logika teratur tetapi salah seleweng dari kenyataan.

b. Psikoneurosis
Psikoneurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian kepribadian. Karena gangguan hanya pada sebagian kepribadian, maka yang bersangkutan masih bisa melakukan pekerjaan/aktivitas sehai-hari. Sebenarnya psikoneurosis bukanlah suatu penyakit, yang bersangkutan masih dapat kita sebut normal. Yang diderita yang bersangkutan adalah ketegangan pribadi yang terus sebagai akibat konflik yang berkepanjangan. Orang tersebut tidak dapat mengatasi konflik yang tidak kunjung reda yang pada taraf terakhir menjadi neurosis. Ada kalanya penyakit ini baru timbul setelah lama penyebabnya terjadi atau sama sekali tidak ingat lagi, atau telah diendapkan dalam alam ketidaksadaran. Untuk menyembuhkan penyakit digunakan tehnik wawancara yang lazim disebut psikoterapi. Melihat gejalanya maka secara teoritis penyakit ini dapat dibedakan atas:

1. Psikotenis
Gejala penyakit ini ialah kelesuan mental, phobia, takut berdiri di tempat yang tinggi, takut akan tempat yang sempit, takut mati. Selain phobia timbul obsesi (meningkatnya suatu ide yang sulit dilupakan) yang disertai compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatau tanpa dapat dicegah). Seseorang yang mempunyai obsesi selalu mencuci tangannya karena selalu merasa penuh kuman. Dengan mencuci tangan dia merasa puas, sedang bila dia tidak mencuci tangan dia akan penuh kegelisahan. Salah satu jenis compulsion ialah cleptomani ( kecenderungan mencuri)
Sebab-sebab psikotenis
- Represi tarhadap pengalaman-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan pada masa silam.
- Disertai rasa malu atau berdosa, yang kemudian ditekan kuat-kuat dalam ketidaksadaran, dalam usahanya untuk melupakan insiden tersebut, sehingga muncul gejala phobia, obsesi, dan kompulsif.
- Ada konflik antar untuk berani melawan rasa taku-takut yang mengerut, yang dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar.

2. Neurastania
Penyakit ini ditandai oleh kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan berkurang, sulit tidur (insomania).
- Risau disebabkan oleh kekurangan kerja/kesibukan. Kelelahan dan kelemahan yang ekstrem disebabkan oleh kebanyakan kerja.
- Banyak menderita ketegangan emosional karena konflik-konflik internal, kesusahan, dan frustasi-frustasi.
- Disebabkan oleh perasaan interior, akibat dari kegagalan-kegagalan di masa lampau dan disusuli dengan tingkah laku yang agresif.
- Factor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi sebabnya, akn tetapi tidak teramat penting artinya.

3. Anxiety
Terdapat kecemasan yang berkelanjutan bercampur perasaan takut.
Sebab-sebab anxiety
- Ketakuatn dan kecemasan yang terus menerus, disebabkan oleh kesusahan-kesusahan dan kegagalan yang bertubu-tubi
- Repressi terhadap macam-macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna
- Kecenderungan harga diri yang terhalang.
- Dorongan-dorongan seksual tidak mendapat kepuasan yang terhambat, sehingga menimbulkn banyak konflik batin.

4. Hysteria
Penderita secara tidak sadar meniadakan fungsi salah satu anggota tubuhnya sekalipun secara organis tidak diketemukan adanya kelainan. Orang menjadi lumpuh, buta, tuli.
Sebab-sebab hysteria:
- Ada prediposisi pembawaan berupa system syaraf yang lemah.
- Tekanan-tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecawaan, shocks, dan pengalaman-pengalamn taraumatis/luka jiwa.nya sugesti diri yag buruk dan melemahkan mental.
- Oleh kelemahan-kelemahan diri, individu berusaha menguasai keadaan, lalu mentiranisasi lingkungan dengan tingkah lakunya yang dibuat-buat.
- Kebiasaan hidup dan disiplin-disiplin yang keliru, sehingga mengakibatkan control pribadi yang lemah dan integrasi kepribadian yang miskin, sangat kekanak-kanakan.
- Sering atau selalu menggunakan escape mechanism dan defence mechanism, sehingga mengakibatkan malajustment, dan semakin banyak timbul kesulitan.
- Kondidi fisik yang buruk, misalnya sakit-sakitan, lemah, lelah, fungsi-fungsi organic yang lemah, gangguan pikiran, dan badaniah.

5. Hipokondria
Adalah kondisi kecemasan yang kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap kesehatan sendiri..individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang kronis. Setiap simpton kesakitan yang sekecil-kecilnya, dirasakannya sebagai suatu bencana hebat dan merupakan tragedy hidup yang dianggap bisa menyebabkan kematiannya. Semua itu disebabkan oleh banyaknya konflik-konflik intrapsikis yang sudah lama dan amat parah.

c. Psikopat
Psikopat adalah bentuk kekalutan mental ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi. Penderita memperlihatkan tingkah laku yang anti social, tidak memperdulikan norma yang ada dalam masyarakat. Gejala lain yang ditampilkan yang bersangkutan ialah egosentri, tidak mempunyai hati nurani. Dalam bentuk yang ekstrim penderita menjadi penipu ulung, pembunuh ulung.
Pada galibnya, orang-orang psikopat itu pada masa mudanya mendapatkan kasih sayang yang sangat minim sekali, bahkan hampir-hampir sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya. Selama lima tahun pertama dia tidak pernah mendapatkan kemesraan-kemesraan kasih, sehingga untuk selama-lamanya individu yang bersangkutan kehilangan atau tidak mampu mengembngkan kemampuan untuk menerima dan memberikan kasih sayang dan simpati. Maka untuk selama-lamnya, sampai usia dewasa dan tua, dia kehilangan social, dan hilang pula rasa kemanusiaannnya. Perasaannya selalu tidak puas dan tdak senang. Jiwanya senantiasa diliputi rasa kebencian, dendam curiga, penolakan, pola dikejar-kejar dan dituduh.

Ciri-cirinya antara lain sebagai berikut:
- Tingkah laku dan relasi sosialnya selalu asosial, eksentrik (kegila-gilaan) dan kronis patologis. Sangat individualistic dan selalu menentang lingkungan cultural serta norma-norma etis, bertingkah semau sendiri.
- Sikapnya aneh-aneh, sering berbuat kasar, kurang ajar dan ganas, berbuat ganas terhadap siapapun tanpa suatu sebab. Sering sadistis.
- Suka ngeloyor atau keman-mana tanpa tujuan.
- Ada disorientasi tarhadap lingkungannya.
- Pribadinya tidak stabil. Responnya selalu tidak adekuat. Dirinya tidak bisa dipercaya.
- Tidak pernah bersikap loyal terhadap orang lain, kelompok atau kode-kode etik tertentu.
- Emosinya tidak matang kadang tidak berperasaan
- Sering kali dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksualitas, transvestitisme yaitu nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari jenis kelamin yang berlwanan dengannya, dan mendapatka kepuasan seks dengan pedofilia ( melakukan coitos/senggama dengan anak-anak kecil), fitishisme ( pemuasan seks dengan memanipulasikan satu benda sebagai pengganti kekasih), sadisme, serangan dan pemerkosaan seksual, pembunuhan dan perusakan jasad orang lain dengan motif-motif seks. 

Ahli membagi jenis penyakit ini atas:
- Penderita yang memperlihatka tingkah laku yang simpatik tetapi tidak bertanggung jawab. Tingkah laku ini digunakan untuk menipu orang lain.
- Bersikap memusuhi, membandel, pendeknya sikap negativisme.
- Hipokondris, berbuat sakit-sakitan, tidak berdaya, hanya sekedar untuk menarik perhatian. Dengan bersikap dmikian maka sekelilingnya telah dirugikan waktu.
- Bersikap anti social dimana penderita sering melakukan kejahatan seks, membunuh tanpa rasa satu kesalahan fatal.

Penderita kekalutan mental ini banyak terjadi di kalangan
Dikota-kota besar lebih banyak terdapat penderita mental disorder dari di desa-desa
Jumlah penderita kekalutan mental paling banyak terdapat di kalangan orang-orang dewasa atau usia tua.
Simpton psikotis banyak terdapat di kalangan anak remaja, puber dan adolesens, serta orng-orang pad usia klimakterium.
Dikalangan dinas militer
Orang-orang dengan status ekonomi rendh dan mata pencaharian sangat minim, namun mempunyai tuntutan dan ambisi materiil yang tinggi.
Di kalangan para gelandangan dan migran dari desa-desa ke kota-kota yang tidak bias mneyesuaikan diri terhadap tuntutan social yang baru.
Ibu-ibu rumah tangga lebih banyak yang mengalami psikosomatisme daripada pria.
Kadaan rumah tangga yang berantakan
Diperkirakan lebih kurang 40% dari orang-orang yang tidak beragama menderita kekalutan mental.
Juga orang-oran yang super-ekstrem dan sangat ortodoks serta fanatic terhadap doktrin-doktrin agama dan ide-ide politik, tanpa penggunaan nalar sehat dan pengendalian perasaan, banyak sekali yang menderita kekalutan mental.

Gangguan mental oleh factor-faktor social dan cultural yang eksternal sifatnya itu bisa dihindari, yaitu dengan jalan sebagai berikut
- Tidak banyak konflik-konflik batin yang serius, tidak banyak konflik dengan lingkungan
- Menegakkan disiplin-disiplin yang ketat.
- Berusaha berpikir dan bertindak wajar, tanpa penggunaan mekanisme pelarian diri dan mekanisme pertahanan diri yang negative
- Berani menghadapi kesulitan dengan nyata, dan mau memecahkan kesulitan-kesulitan dengan perbuatan konkret; tidak ada penghindaran diri dari kesulitan yang tengah dihadapi.

PSIKOANALISIS FREUD


  1. Tingkat-tingkat Kegiatan Mental
Ada tiga macam kegiatan mental: kesadaran (alam sadar), keprasadaran (alam prasadar) dan ketaksadaran (alam tak sadar). Jelas kesadaran adalah tingkat pemikiran dan perbuatan yang nyata di mana bahannya mudah diingat kembali dan diterapkan bagi tuntutan-tuntutan lingkungan. Keprasadaran adalah kenangan-kenangan yang dapat diingat kembali meskipun agak sulit. Baik bahan sadar maupun prasadar adalah sesuai dengan dan responsif terhadap kenyataan. Tetapi ketaksadaran berupa sikap-sikap, perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang tidak dapat dikontrol oleh kemauan, hanya dengan susah payah ditarik (kalau dapat) ke dalam kesadaran, tidak terikat oleh hukum-hukum logika dan tidak dapat dibatasi oleh waktu dan tempat.
  1. Motivasi
Tingkat-tingkat kehidupan mental dan daerah-daerah pikiran adalah struktur atau komposisi kepribadian. Tetapi kepribadian juga harus melakukan sesuatu. Dengan demikian Freud mengemukakan suatu prinsip dinamik atau prinsip motivasional untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan yang mendorong dibalik tindakan-tindakan manusia. Bagi Freud manusia didorong untuk mencari kenikmatan untuk meruduksikan tegangan. Motivasi ini diperoleh dari energi psikis dan fisik yang keluar dari insting-insting.
Dorongan-dorongan itu dibagi menjadi dua kelompok, yakni dorongan-dorongan konstruktif dan dorongan-dorongan destruktif. Dorongan dorongan konstruktif atau dorongan hidup atau eros terungkap dalam dorongan-dorongan seks (libido) dan dorongan-dorongan ego. Dorongan-dorongan ego menjaga kelestarian diri dengan memuaskan kebutuhan-kebutuahn akan makanan, sedangkan dorongan-dorongan seks terungkap dalam berbagai kegiatan yang menyenangkan dan afektif. Dorongan-dorongan destruktif terungkap dalam impuls-impuls bermusuhan yang diarahkan kepada diri sendiri dan kepada orang-orang lain. Impuls-impuls ini berupa agresi, kebencian, pembunuhan atau bunuh diri.
Menurut Freud, dorongan-dorongan hidup dan dorongan-dorongan mati menimbulkan tegangan-tegangan yang menyenangkan atau menyusahkan individu. Kebanyakan tingkah laku yang berarti dari individu merupakan akibat usaha-usaha untuk mereduksikan tegangan ini. Dorongan-dorongan hidup dan dorongan-dorongan mati itu dianggap tetap ada sepanjang hidup. Selanjutnya dorongan-dorongan itu akan bercampur dan menjadi begitu kompleks sehingga keduanya sering kali terarah kepada objek cinta yang sama. Fusi dorongan-dorongan hidup dan dorongan-dorongan mati disebut sebagai ambivalensi. Perasaan-perasaan ambivalen terhadap orang tua, saudara-saudara, teman-teman dan suami atau istri sering kali dapat dinikmati secara klinis.
Motivasi bagi kegiatan-kegiatan manusia dalam rumusan Freud dibimbing oleh dua prinsip lain: prinsip kenikmatan (pelasure principle) dan prinsip kenyataan (reality principle). Pada masa bayi individu hanya didorong oleh kenikmatan tetapi larangan-larangan hidup memaksanya untuk mengembangkan kesadaran akan kenyataan. Dengan demikian berkembanglah prinsip kenyataan yang menuntut perubahan prinsip kenikmatan dan mengontrol serta menghambat kegiatan-kegiatan yang mencari kenikmatan.
  1. Konflik
Hidup adalah suatu rangkaian situasi konflik, yang merupakan dasar terbentuknya kepribadian. Beberapa konflik yang dikemukakan Freud adalah konflik-konflik antara pencarian kenikmatan dan kenyataan, cinta dan kebencian, pasivitas dan kreativitas. Pertumbuhan menuju kematangan tergantung pada keberhasilan individu dalam memecahkan konflik-konflik ini.
  1. Perkembangan Psikoseksual
Dalam teorinya mengenai perkembangan psikoseksual individu, Freud menggambarkan tiga tahap pokok: tahap infantil (yang dibagi menjadi tiga subtahap yaitu tahap oral, tahap anal dan tahap phalik), tahap latesi dan tahap genital.
  1. Tahap Infantil. Tahap ini disebut juga tahap pragenital dan berlangsung selama enam tahun pertama kehidupan yang dibagi lagi menjadi tiga subtahap yakni:tahap oral di mana sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut adalah makan. Makan ini meliputi stimulasi sentuhan terhadap bibir dan rongga mulut serta menelan atau jika makanan tidak menyenangkan makanan akan muntah keluar. Kemudian setelah gigi tumbuh maka mulut dipakai untuk mengigit dan mengunyah. Dua macam aktivitas oral yaitu menelan makanan dan menggigit merupakan prototype bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Kenikmatan yang diperoleh dari inkorporasi oral bisa dipindahkan ke bentuk-bentuk inkorporasi lain, seperti kenikmatan yang diperoleh karena mendapatkan pengetahuan dan harta. Orang yang mudah ditipu misalnya adalah orang yang mengalami fiksasi pada tahap kepribadian inkorporatif oral. Orang semacam ini hampir menelan semua yang dikatakan. Menggigit atau agresi oral dapat dipindahkan ke dalam bentuk sifat sarkastis dan suka berdebat. Selanjutnya karena tahap oral ini terjadi ketika bayi itu sama sekali tergantung pada ibunya untuk mendapatkan makanan, pada saat ia dibuai, dirawat dan dilindungi dari perasaan yang tidak menyenangkan olehnya, maka muncullah persaaan-perasaan tergantung pada masa sekarang. Perasaan-perasaan tergantung ini cenderung menetap selama hidup, terlepas dari perkembangan ego lebih lanjut dan siap muncul ke permukaan manakala orang merasa cemas dan tidak aman. Tahap ini berlangsung selama 18 bulan pertama dimana prinsip kenikmatan adalah dominan. Tahap Anal. Dimana prinsip kenyataan adalah dominan. Tahap iniadalah tumpang tindih dengan bagian akhir tahap oral dan berlangsung kira-kira sampai usia 4 tahun. Setelah makanan dicerna maka sisa makanan menumpuk di ujung bawah dari usus dan dikeluarkan secara refleks apabila tekanan pada otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu. Pengeluaran feses menghilangkan sumber ketidaknyamanan dan menimbulkan perasaan lega. Ketika pembiasaan kebersihan (toilet training) dimulai, biasanya selama usia dua tahun, anak mendapatkan pengalaman pertama yang menentukan tentang pengaturan atas suatu impuls instingtual oleh pihak luar. Ia harus belajar menunda kenikmatan yang muncul karena hilangnya tegangan-tegangan anal. Tergantung pada cara khusus pembiasaan kebersihan yang diterapkan ibu dan perasaan-perasaan ibu tentang defekasi, maka akibat-akibat dari pembiasaan ini dapat mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap pembentukan sifat-sifat dan nilai-nilai khusus. Apabila cara-cara ibu sangat keras dan represif maka anak mungkin akan menahan fesesnya dan mengalami sembelit. Apabila cara bereaksi ini digeneralisasikan untuk cara-cara bertingkah laku yang lain, maka anak mengembangkan sifat retentif. Ia akan menjadi orang yang keras kepala dan kikir. Atau karena himpitan cara-cara yang represif itu, anak bisa melampiaskan kemarahannya dengan membuang feses pada saat-saat yang sama sekali tidak tepat. Inilah prototype dari segala macam sifat ekspulsif seperti kekejaman, sifat yang merusak membabi buta, ledakan-ledakan amarah dan sifat jorok. Sebaliknya bila ibu adalah tipe orang yang sabar yang membujuk anaknya untuk membuang air besar dan memuji-muji secara berlebihan kalau anaknya berbuat demikian, maka anak akan memperoleh pengertian bahwa seluruh aktivitas mengeluarkan feses sangat penting. Ide ini bisa jadi dasar bagi perkembangan kreativitas dan produktivitas. Tahap Phalik. Yang berlangsung antara usia 4 tahun dan 6 tahun, dimana kepuasan libido muncul pertama-tama dari organ genital. Kenikmatan masturbasi dan fantasi anak yang menyertai aktivitas auto-erotik menentukan tahap munculnya Kompleks Oedipus. Freud berpendapat bahwa pandangannya tentang kompleks oedipus merupakan penemuannya yang sangat penting. Dalam pandangan Freud anak laki-laki mengingini ibunya dan secara tak sadar mau mengganti ayahnya tetapi karena ayahnya kuat ia takut akan hukuan kastrasi (castration anxiety). Kecemasan akan kastrasi ditambah dengan komplek oedipus dipecahkan dengan menekan perasaan-perasaan seksualnya terhadap ibunya, berhenti bersaing dengan ayahnya dan mulai mengidentifikasikan diri dengannya. Apabila pemecahan dalam tahap ini tidak sempurna atau positif, maka anak laki-laki tersebut akan semakin membenci ayahnya dan mengeneralisasikan perasaan ini kepada semua figur autoritas. Sebalikya dalam kasus anak perempuan, Freud berpendapat bahwa ia mengingini ayahnya dan secara tak sadar ingin mengganti ibunya. Tetapi tidak seperti anak lelaki yang mengembangkan kecemasan akan kastrasi, anak perempuan menemukan bahwa ia tidak memiliki penis yang menyebabkan ia mengembangkan perasaan iri akan penis (penis envy). Konflik electra dipecahkan apabila anak perempuan itu menekan keinginan akan ayahya dan berhenti bersaing dengan ibunya serta mengidentifikasikan diri dengannya.
  2. Tahap Latensi. Tahap ini dimulai dari tahap phalik akhir sampai permulaan masa remaja (usia kira-kira 12 tahun). Pada tahap ini dorongan dinamik seakan-akan laten sehingga anak-anak pada masa ini secara relatif lebih mudah dididik dibandingkan dengan tahap-tahap sebelumnya dan sesudahnya. Di lain pihak, pertumbuhan intelektual, sosial dan moral individu berjalan terus.
  3. Tahap Genital. Perkembangan psikoseksual individu dianggap sempurna apabila tercapai penyesuaian diri yang memuaskan pada tahap genital. Dengan mulainya masa pubertas, kebutuhan-kebutuhan seksual infantil (pragenital) dan dorongan-dorongan libido oral, anal dan phalik hidup kembali. Mula-mula dorongan ini sangat narcistik yang berarti bahwa individu mendapat kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri dan orang-orang lain dikateksis hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan kenikmatan bagi tubuh anak. Selama masa adolesen, sebagaian dari cinta diri atau narcisisme ini disalurkan ke pilihan-pilihan objek yang sebenarnya. Anak remaja mulai mencintai orang-orang lain terdorong oleh motif-motif altrusitik bukan semata-mata karena cinta diri atau narcistik. Daya tarik seksual, sosialisasi, kegiatan-kegiatan kelompok, perencanaan karir dan perencanaan untuk menikah dan membangun keluarga mulai muncul. Pada akhir masa adolesen, kateksis-kateksis yang telah disosialisasikan dan altruisik ini telah menjadi cukup stabil dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan melakukan pemindahan-pemindahan, sublimasi-sublimasi dan identifikasi-identifikasi. Sang pribadi mengalami transformasi dari bayi yang narcistik serta memburu kenikmatan menjadi orang dewasa yang memasyarakat dan berorientasi kenyataan.
  1. Struktur Kepribadian
Untuk menerangkan struktur kepribadian Freud mengemukakan tiga kompenen: id, ego dan superego. Id merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Ketiga komponen tersebut saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lainnya sehingga sulit sekali untuk memisahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku hampir selalu merupakan produk dari interaksi dari ketiga komponen tersebut dan jarang sekali satu sistem berjalan terlepas dari kedua sistem lainnya.
Id dianggap sebagai sumber utama energi fisiologis yang terungkap pada dorongan-dorongan hidup dan dorongan-dorongan mati. Id terus menerus menuntut saluran-saluran agresif yang mencari kenikmatan dan mungkin disebut sebagai binatang dalam manusia. Id beropersi seluruhnya pada tingkat ketaksadaran dan tidak diatur oleh pertimbangan-pertimbangan waktu, tempat dan logika. Id bersisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir, termasuk insting-insting. Id merupakanreservoir dari energi psikis dan menyediakan seluruh daya untuk menjalankan kedua sistem yang lain. Id berhubungan erat dengan proses-proses jasmaniah dari mana ia mendapatkan energinya. Freud menyebut juga kenyataan psikis yang sebenarnya karena id merepresentasikan dunia batin dari pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan yang objektif.
Id tidak bisa menanggulangi peningkatan energi yang dialaminya sebagai keadaan-keadaan tegangan yang tidak menyenangkan. Karena itu apabila tingkat tegangan organisme meningkat entah sebagai akibat dari stimulasi dari luar atau rangsangan-rangsangan yang timbul dari dalam, maka id akan bekerja sedemikian rupa untuk segera menghentikan tegangan dan mengembalikan organisme pada tingkat energi rendah dan menyenangkan. Prinsip reduksi tegangan yang merupakan ciri kerja id ini disebut prinsip kenikmatan (pleasure principle).
Ego adalah aku atau diri dimana individu membedakan dirinya dari lingkungan di sekitarnya dan dengan demikian terbentuklah inti yang mengintegrasikan kepribadian. Ego itu muncul karena kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan kenyataan dunia yang obejektif. Fungsi-fungsi ego dapat diringkas sebagai berikut:
a. memberikan kepuasan kepada kebutuhan-kebutuhan akan makanan dan melindungi organisme
b. menyesuaikan usaha-usaha dari id dengan tuntutan-tuntutan dari kenyataan/lingkungan sekitarnya
c. menekan impuls-impuls yang tidak dapat diterima superego
d. mengkoordinasikan dan menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari id dan superego
e. mempertahankan kehidupan individu dan berusaha supaya spesies dikembangbiakkan.
Superego adalah wewenang moral atau etis dari kepribadian. Superego dibimbing oleh prinsip-prinsip moralistik dan idealistis yang berlawanan dengan prinsip kenikmatan dari id dan prinsip kenyataan dari ego. Fungsi-fungsi pokok superego adalah:
a. merintangi impuls-impuls id terutama impuls-impuls seksual dan agresif karena impuls-impuls ini sangat dikutuk oleh masyarakat
b. mendorong ego untuk mengantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistik
c. mengejar kesempurnaan.
Superego cenderung menentang id dan ego dan membuat dunia menurut gambarannya sendiri. Superego sama seperti id bersifat tidak rasional dan sama seperti ego, superego melaksanakan kontrol insting-insting. Tidak seperti ego, superego tidak hanya menunda pemuasan insting tetapi superego tetap berusaha untuk merintanginya.
  1. Perkembangan Psikoneurosis
Freud berpendapat bahwa psikoneurosis pada dasarnya adalah psiogenik. Freud mengemukakan lima interpretasi yang berbeda mengenai penyebab tingkah laku neurotik:
a. psikoneurosis adalah akibat dari trauma-trauma yang pertama-tama bersifat seksual
b. psikoneurosis akibat komplek oedipus yang tidak terpecahkan
c. psikoneurosis sebagai akibat dari konflik antara dorongan id dan penyensoran moral dari superego
d. reaksi-reaksi emosional yang ditimbulkan oleh lingkungan yang sejak awal menolak individu sebagai faktor-faktor yang mempercepat psikoneurosis
e. penyebab psikoneurosis tidak hanya satu, melainkan banyak dan kemudian Freud memusatkan perhatiannya pada uraian mengenai reaksi-reaksi neurotik. Dari sini Freud mengembangkan kosepnya mengenai empat macam reaksi neurotik: neurosis obsesif kompulsif, histeria kecemasan, histeria konversi dan neurastenia.