Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parasitologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 23, 2011

Myiasis


1.     Penyakit : Myiasis

-        Klasifikasi : Secara umum terbagi menjadi obligat, fakultatif, dan accidental.  Obligat adalah ketika larva harus/wajib ditanam di jaringan hidup dan nekrosis, atau luka terbuka. Fakultatif berarti ketika diptera meletakan larvanya tidak langsung seperti obligat, mereka meletakan pada tanaman, daging, feses, atau diatas kulit didekat luka terbuka, larva tersebut masih mungkin bisa hidup meski ternyata tidak jatuh pada jaringan hidup tempat myiasis terjadi. Accidental atau myiasis karena kecelakaan adalah ketika sebenarnya larva tersebut memang tempat hidupnya bukanlah pada jaringan hidup yang ditinggalinya, hal itu terjadi hanya karena kecelakaan, misalnya larva tersebut ada pada daging yang akhirnya termakan dan tumbuh di usus.

-          Etiologi : Myiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh hidupnya larva dari ordo diptera pada jaringan hidup pada hewan vertebrata dan manusia baik pada jaringan yang telah nekrosis, luka terbuka dan kotor, bahkan mungkin jaringan yang secara fisik sehat.


-          Faktor risiko : Faktor risiko utama adalah higien lingkungan dan individu, usia (bayi dan anak-anak lebih rentan terkena terutama pada kasus Accidental myiasis), daerah dengan sosioekonomi rendah dan jauh dari pusat kesehatan.

-          Patofisiologi : Lalat yang telurnya perlu untuk dibiakan akan menempatkan telur itu pada serangga penghisap darah misalnya nyamuk, ketika nyamuk menghisap darah manusia, telur masuk bersamaan kedalam jaringan lalu menjadi larva, saat larva sudah matang maka akan keluar dan jatuh sendiri ketanah (Lalat bisa juga langsung hinggap pada luka terbuka dan meletakan telur disana untuk berkembang). Fase diagnostic dapat terdeteksi ketika telur telah menjadi larva.

-          


-          Tanda dan Gejala : Secara umum akan didapati keadaan dimana larva menembus keluar kulit

-          Efek sesuai dengan tipe penyakit : (Efek umum : stress dan penurunan kualitas hidup, Infeksi level tinggi dan masuknya larva dalam jaringan penting akan menyebabkan kematian, kerusakan yang tersembunyi didalam jaringan tubuh, menyebabkan infeksi sekunder,)
a.       Cutaneous
1.       Furuncular. Infeksi kulit pada scalp, wajah, dan ekstrimitas. Area infeksi membengkak/swelling, Ada celah terbuka kecil yang muncul di permukaan kulit untuk respirasi, ekskresi dari larva yg sedang tumbuh.
2.       Creeping Myiasis. Infeksi ke manusia oleh larva horse bot flies dan cattle bot flies. Larva sebenarnya tidak seharusnya hidup di manusia, rasa sakit “Migrating lumps” dan terjadinya lorong panjang (Gasterophillus –mudah terlihat, ada dilapisan kulit pertama dan dapat dibuang dengan jarum- dan Hypoderma –dapat meninggalkan subkutan dan bermigrasi ke jaringan otot, jaringan ikat, dan jaringan saraf-)
3.       Wound Myiasis. Lalat meletakan telur atau larva di luka terbuka, larva makan dan berjalan, dapat berkembang menjadi bentuk myiasis yang menyerang organ lain/tipe lain.
b.      Nasopharyngeal
Jarang terjadi pada manusia, terjadi pada orang yang terpapar lama dengan ternak disekitarnya, lalat memasukan larva melalui lubang hidung, larva dapat menyebabkan kerusakan ekstensif pada hidung, sinus, dan faring, selama makan pada jaringan hidup dan nekrotik. Dalam beberapa kasus, larva dapat migrasi ke mata, telinga, mulut, otal dan menyebabkan myiasis pula ditempat tersebut.

c.       Opthamomyiasis
Efek teradi pada orbita, dan jaringan periorbital. Larva menyebabkan kerusakan jaringan selama makan dan bermigrasi. Kadang menyebabkan larva yang bermigrasi itu menginfeksi jaringan lunak, dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati segera.
d.      Oral
Infestasi dari cavitas oral oleh larva lalat. Oportunistik infeksi dari lesi di mulut.
e.      Intestinal
Biasanya accidental myiasis, jadi bisa lewat mulut (kemakan) atau lewat rectal. Dapat juga sebagai akibat dari larva yang bermigrasi.
f.        Crebral
Sangat-sangat jarang sekali. Traumatik fraktur tengkorak mendeposit telur dan larva dalam luka (human botflies, screwworm flies), dapat juga akibat dari migrasi myiasis bagian tubuh lain yang sampai ke otak (cattle bot flies/hypoderma)

-          Prognosis : tergantung dari keparahan dan kedalaman larva merusak organ. Jika hanya dipermukaan dan cepat dideteksi hanya perlu dibersihkan segera atau bahkan perlu dibedah tanpa ada kerusakan parah, jika mengenai orang yang berusia tua dan mengenai organ-organ dalam dapat menyebabkan kematian.

-          Komplikasi : Bermacam komplikasi dapat terjadi, seperti infeksi sekunder, terutama jika menyerang organ dalam yang penting yang bahkan bisa menyebabkan kematian.


-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis : Semua yang tertera pada daftar pertanyaan umum anamnesis penting untuk ditanyakan. Jika myiasis telah dicurigai terutama jika sudah ada larva yang keluar dari kulit, maka penting untuk menanyakan riwayat kontak dengan orang dengan penyakit sama, atau jika anak2 riwayat kontak dengan benda-benda kotorm feses hewan, dan lain-lain. Riwayat penyakit dahulu, dan luka-luka yang dialami juga penting. Pengembangan pertanyaan sesuaikan dengan tipe dari myiasis sendiri, beberapa perubahan fisik, adanya batuk, dan gangguan saraf penting juga untuk diketahui karena ditakutkan akan menyerang mengenai saraf.

·         Fisik : Permukaan kulit, luka terbuka.


-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik :
a.       Jika terdapat larva dibawah kulit maka perlu pembedahan, telur dan larva di rambut, kulit dan luka dapat dibersihkan dengan sabun dan air.
b.      Untuk myiasis saluran kencing biasanya sembuh dengan sendirinya atau kadang cytoskopik
c.       Untuk furunkuler dapat di sufokasi dan diekstraksi perlahan dari kulit
·         Farmakokinetik :
ü  Cuci perut dengan obat cacing untuk myiasis saluran pencernaan.
ü  Ivermectin
-          Follow up :
·         Pencegahan  :
a.       Larvasida
b.      Perangkap lalat
c.       Bersihkan bangkai yang ada disekitar dengan segera
d.      Menjaga hygiene lingkungan dan individu
e.      Menjaga kebersihan tempat bermain
f.        Menggunakan kawat kasa untuk melindungi hewa-hewan peliharaan yang mudah terjangkit penyakit
g.       Jika ada luka terbuka atau bernanah hendaknya tidak tidur di tempat terbuka

-          Morfologi Larva
a.       Larva lalat bukan pengisap darah stadium tiga yang matang biasanya mempunyai bagian posterior yang lebar dan buntung, ujung anterior lancip dengan processus seperti kait-kait dan papilla berpasangan, dan daerah yang menonjol pada setiap ruas. 
b.      struktur ujung anterior
c.       spirakel/lubang udara anterior bercabang, berbentuk seperti kipas pada ruas kedua
d.      yang paling penting, lubang udara posterior dengan lempeng noda yang lengkung
e.      ke dalam atau masuk permukaan dorsal ruas posterior.  [Dikutip dari slide kuliah dr. Nelly Al Audhah M.Sc]

Sabtu, Juni 25, 2011

Zoonosis

1.      Penyakit : Zoonosis (Skabies)

-          Etiologi : oleh familia Sarcoptidae , spesies Sarcoptes scabiei, peredaran cosmopolitan di seluruh dunia. Disebut juga tungau. Hidup di terowongan kulit yang terbatas pada lapisan tanduk dengan daur hidup bisa sampai 8-15 hari.
-          Faktor risiko : orang dengan higien kurang, lingkungan atau orang sekitar ada yang terinfeksi, tinggal di asrama, boarding school, tentara, kos, dan sejenisnya. Tidak membedakan gender, ras, tingkat sosial, namun lebih pada keadaan lingkungannya dan higien per-orang nya.
-          Patofisiologi : tungau dapat berpindah melalui kontak langsung (bersalaman, bersentuhan tangan), tidak langsung (lewat pakaian, handuk) dan cairan tubuh seperti muntah atau pakaian kotor juga. Sering ditemukan di permukaan tangan, lipatan paha, dada, dll. Masuk dia membentuk terowongan lalu bertelur, telurnya menetas setelah sekitar 3-10 hari lalu menjadi larva, nymfa, dewasa. Betina mempunyai dua stadium larva sedangkan jantan hanya satu.
-          Tanda dan Gejala : lokasi terkena daerah fleksor dan tertutup pakaian, lipat paha, lutut, penis, ketiak, perut.UKK nya kanalikuli (membentuk seperti terowongan abu-abu pendek), papul eritem, ekskoriasi. Tersangka scabies, gatal malam hari, mengenai satu keluarga di rumah yang sama, terdapat lesi berupa terowongan di tempat predileksi, sembuh dengan pengobatan spesifik.
-          Prognosis : baik
-          Komplikasi : Infeksi sekunder dan eksema.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
a.       Hal yang ditanyakan
ü  Apa keluhan utama : gatal dan ada lesi berupa terowongan di kulit
ü  Lokasi, predileksi fleksor dan daerah tertutup pakaian
ü  Pertama kali muncul dimana?(predileksi), penyebarannya kemana saja?
ü  Sejak kapan? Sudah berapa lama?
ü  Adakah cairan, nanah, darah, atau sesuatu yang dihasilkan dari lesi?
ü  Keluhan lain?
ü  Usaha yang sudah dilakukan untuk keluhan tersebut? Berobat di dokter lain sebelumnya? Konsumsi obat atau memakai salep, bedak, dan sejenisnya? Adakah hasilnya setelah dilakukan usaha? Apa obat yang dipakai?
ü  Dll
·         Fisik : Untuk menemukan keberadaan terowongan, penyebarannya, keparahan penyakitnya, dan keberadaan tungau, telur, dan larva dari tungau itu sendiri.
·         Penunjang : Kuretase
a.       Tujuan : Mencari keberadaan tungau, telur, larva, atau bagian tubuh dari tungau tersebut
b.      Manfaat : Memastikan diagnosa
c.       Risiko : Harus dilakukan oleh yang ahlinya (jika kuretase) atau hanya dengan dikerok karena melakukan kuretase dapat melukai pasien jika tidak hati-hati dan saat mencari belum tentu langsung ditemukan objek yang dicari.
·         Laboratorium : Sediaan mikroskopik
a.       Objek : Kerokan kulit
b.      Tujuan : Untuk melihat ada atau tidak tungau di kerokan kulit
c.       Interpretasi : Diagnosis positif jika ditemukan Sarcoptes scabei , larvanya, telurnya, atau bagian tubuhnya.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Menjaga kebersihan per-orang, tempat tidur disterilkan
·         Farmakokinetik : Digunakan obat topical yang dipakai di kulit
ü  Obat : Pirmetrin 5%
a.       Dosis : -
b.      Tujuan tatalaksana : menghilangkan etiologi skabies
c.       Penjelasan : dioleskan tiap 10 jam, dapat diulang hingga satu minggu
d.      Rasionalitas : baik
e.      KI  : Tidak boleh pada bayi di bawah 2 bulan
ü  Lindane 1%
a.       Dosis : -
b.      Tujuan : Menghilangkan etiologi
c.       Penjelasan : Dioles selama 8 jam?? (tiap 8 jam kali?)
d.      KI : tidak boleh pada ibu hamil, menyusui, pada anak/bayi
e.      Efek samping : Neurotoksik
ü  Sulfur (6%)
a.       Dosis : -
b.      Tujuan : menghilangkan etiologi
c.       Penjelasan : dioles 3 kali 12 jam dan 1 kali 24 jam, aman pada ibu hamil, menyusui, anak dan bayi
d.      KI : -
e.      Efek samping : -
ü  Kromatin
a.       Penjelasan : Dioles 5 kali sehari
ü  Invermectin
a.       Penjelasan : Adanya oral, sistemik nih ….
b.      Dosis : 200 ug/KgBB
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : Jika ada komplikasi, maka tangani juga komplikasinya, jika sembuh, hanya perlu perawatan untuk mengurangi lesi sisa dari kanalikuli yang terjadi akibat tungau.
·         Pencegahan : Memperbaiki higien, memeriksakan semua keluarga (jika serumah) atau teman-teman serumah.

2.      Penyakit : Zoonosis (Pediculosis)

-          Etiologi : ordo Anoplura, spesies Pediculus humanus dan Pthirus pubis. Paling sering Pediculus humanus var. capitis (Kutu kepala/Kutu rambut) dan Pediculus humanus var. corporis (kutu badan)
-          Faktor risiko : Bisa mengenai siapapun, dengan higien kurang dan orang di lingkungan sebagai pembawa awal ‘pediculosis’. Epidemiologinya ketika kontak langsung dan orang-orang yang suka saling tukar pinjam alat pribadi seperti baju, handuk, celana, celana dalam, sisir, dll (Hayo). Untuk Phthirus pubis biasanya tertular oleh aktivitas seksual.
-          Patofisiologi : Telur, larva, atau kutu dewasa berpindah ke badan atau kepala dan terus berkembang biak (kayak biasa, telur, nimfa, dewasa, dan begitu seterusnya)
-          Tanda dan Gejala : Untuk pediculus capitis/corporis biasanya terdapat papul yang gatal di kepala, belakang leher, dada dan perut. Untuk Phthius pubis biasanya khas terdapat macula caerulae (bintik biru) pada badan dan paha. Gatal banget -__-“
-          Prognosis : asalkan diobati dengan rajin, prognosis masih bonam alias baik J, cuma estetikanya aja, kalo orang kutuan gak diobati rasanya gimanaaaa…. Gitu, he… :p. Jangan harap bisa tiba-tiba sembuh sendiri tu kutu tiba-tiba punah dari kepala anda tanpa ada usaha untuk menghilangkan, kutunya cuma bakal bilang “Oooo tidak bisa…”
-          Komplikasi : Kutuan aja sih, tapi kutu nya bisa menjadi vector berbagai penyakit juga, seperti trench fever dan penyakit yang disebar oleh Ricketsia. Misalkan : louse borne epidemic typhus, penyebab Ricketsia prowazelci. Trench fever, penyebab Ricketsia Quintana. Louse borne epidemic relapsing fever, penyebab Borrelia recurentis.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
a.       Hal yang ditanyakan : Idem penyakit atas, biasanya kalo kutuan lebih gampang diidentifikasi soalnya kutunya bisa dilihat dengan mata telanjang, (Kata dr Nelly, dokter yang ngajar Mikrobiologi) bahkan ada yang ekstrim tu kutu sampai baris di belakang leher ampe baju, kayaknya udah terorganisir dan membentuk kesatuan yang lagi latian buat wajib militer tuh kutu -_-“
·         Fisik : Utamakan memeriksa kepala atau daerah badan yang terasa gatal (sebagai predileksi juga, kali aja bukan pediculosis), dan kalo di pubis, ya dicek juga sekalian tanya pekerjaan mbaknya (yakin banget korbannya cewek) atau masnya he, kalo positif sekalian partner seks nya diperiksa (suami atau istri gitu maksudnya, atau yahhh partner seks lahhh)
·         Penunjang : Gak perlu CT Scan atau rontgen. Lebih ke pemeriksaan fisik sebenarnya
·         Laboratorium : Cabut rambut periksa mikroskopis
a.       Tujuan : Memastikan diagnosis. Ada larva, telur atau bahkan pediculus di rambut, biasanya kalo nempel di rambut tu telurnya, kalo kutunya jalan-jalan dikepala.
b.      Interpretasi : Kalo ada berarti positif. Penampakannya, kalo pediculus itu bersegmen (9 segmen), pipih dorso ventral, mata di sisi kiri kanan, ada antenna, dan begitulah bentuk kutu.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Rajin mandi, jaga kebersihan, jangan nge-seks sembarangan (higien orang kan kita belum tahu, yah kalo suami/istri kan minimal udah tau keadaan kesehatannya), jangan suka tukar-tukar barang pribadi kaya baju, sisir, handuk, apalagi kalo tinggal tidak dirumah tapi di asrama, kos, atau sejenisnya, biar dibilang pelit, daripada rentan kutuan, kalo masih kutuan sembuhkan dan punahkan dulu kutu di kepala/badan/pubis anda, jangan disebar, jangan mengibaskan rambut hitam berkilau anda kesegala arah (Heh, dibilang ngelawak, jangan salah, tu kutu bisa kelempar kekepala orang sebelah lo!)
·         Farmakokinetik :
ü  Obat : Permetrin 10%
a.       Tujuan tatalaksana : memunahkan etiologinya
b.      Penjelasan : Cucilah rambut anda, keringkan, oleskan krim, trus cuci lagi. Dapat diulang seminggu kemudian.
ü  Shampo Lindane
a.       Dipakai sampoan trus diamkan selama 4-5 menit, banyaknya sekitar 30-40 ml. Bersifat toksis (buat kutu nya kayaknya)
ü  Shampo Selenium sulfide : Pakai trus diemin kurang lebih semenit trus cuci (Yang ampuh biasanya shampoo Selsun, banyak di supermarket)
ü  Kapur ajaib -_-“ : Ini resep gak rasional tapi ampuh, kapur ajaib pembunuh serangga di coreng-moreng diatas kepala anda seakan kepala anda adalah lantai yang harus terhindar dari semut, alhasil semua kutu keracunan. Ingat, ini adalah cara kepepet, ga relevan, ga ada eviden base, belum teruji keamanan, bisa menyebabkan iritasi kulit kepala dan 100% sesat (tapi ampuh errr -_-“)
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : Ga ada, rajin bersihin kepala/badan/pubis
·         Pencegahan : Jaga kebersihan intinya. Rajin mandi dan keramas, jangan keramas cuma ketika keramas itu wajib, kalo bisa setiap hari atau sesuaikan sama aktifitas, jika anda berjilbab dan berkeringat maka bagusnya tiap hari, kalo rambut anda sering terpapar matahari juga (eh kok jadi kayak saran perawatan rambut sih …)


3.      Penyakit : Zoonosis (Cutaneus Larva Migran dan Vicera Larva Migran)

-          Etiologi : Ada banyak larva cacing penyebab penyakit ini namun yang paling sering adalah larva Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum (CLM). Toxocora canis, Toxocora cati, Ancylostoma sp, dll (VLM)
-          Faktor risiko : Anak-anak terumtama yang seneng kotor-kotor sama main di pasir, orang-orang yang suka hewan atau pelihara hewan kayak anjing, kucing, kelinci, harimau (kali ae), lingkungan dengan higien yang kurang baik kayak asrama tentara atau pondok pesantren (apalagi asrama cowok paling sering, gak semua orang bersih, kebersihan tu individu), suka jalan gak pake alas kaki atau pegang-pegang barang kotor sembarang, gak suka cuci tangan (Lol banget).
-          Patofisiologi : Untuk CLM : Pertama cacing dewasa dalam usus anjing atau kucing, betelur, telur dikeluarkan melalui tinja, menetas jadi larva rabditiform, trus larva filariform, eh kepegang gak sengaja atau kena sini-situ, masuk deh melalui kulit, merangsang reaksi inflamasi eosinofilik lokal, bikin terowongan trus jadi creeping eruption, setelah beberapa waktu (karena memang kulit bukan habitatnya si larva tidak bisa berkembang jadi dewasa di situ dan mati) siklus berakhir (tidak bisa menembus lebih dari kulit karena tidak ada enzim kolagenase, kalo VLM kemungkinan masuk lewat mata), selain itu larva bisa menembus kulit hewan kayak anjing dan kucing trus masuk ke dalam tubuh mereka dan jadi cacing dewasa lagi, jadi habitatnya tu sebenarnya di anjing sama kucing. Untuk VLM sama aja cara masuknya, jadi larva dulu trus masuk melalui kulit dan mereka masuk semakin dalam ke daerah visera dalam tubuh termasuk mata, siklus akan berakhir pada akhirnya, tapi kalo VLM ni lebih bahaya dari CLM, soalnya dia masuk ke organ dalam, sampai mata bahkan otak.
-          Tanda dan Gejala : Sangat gatal sekali, terbentuk terowongan (creeping eruption) serupa kanalikuli berwarna kemerahan, garis eritem meninggi, berkelok-kelok, kadang vesikuler, lebar 3mm, panjang 15-20 cm, lesi tunggal/multiple, tidak sakit (Yang liat kali aja sakit bergidik ngebayangin ada larva cacing jalan-jalan sore di bawah kulit)(CLM), bisa sampai terjadi demam, infiltrate paru dan batuk, endoftalmitis (kalo sampai kemata), gangguan neurologic (VLM)
-          Prognosis : Baik. Karena tubuh manusia bukan habitat alami, mereka tidak akan berkembang biak dan pada akhirnya sembuh sendiri, tapi keluhan selama ada larva itu dan komplikasi dari VLM yang biasanya bikin khawatir. Selain itu gak ada masalah, cuma estetika aja setelah terbentuk lesi dan creeping eruption, kulit jadi jelek.
-          Komplikasi : kalo CLM kayaknya cuma penyakit ringan, paling infeksi sekunder karena garukan dari gatal yang amat sangat, kalo VLM bisa sampai menyerang paru dan terbentuk infiltrate, ke mata dan terjadi endoftalmitis, ke otak bisa terjadi gangguan neurologis.
-          Pemeriksaan :
·         Anamnesis :
Hal yang ditanyakan : semua anamnesis tu sama, tambahan aja kalo kasus ini perlu ditanya lebih mendalam tentang kebiasaan, keadaan tempat tinggal, punya binatang peliharaan, tempat main (kalo anak-anak, kalo bapak-bapak kayaknya tempat mainnya tidak mengandung larva deh), jangan remehkan setiap informasi, tapi jangan juga melenceng ke pembicaraan seputar kehidupan sekolah, percintaan, dan rumah tangga.
·         Fisik : Perhatikan daerah-daerah lesi, apakah memang terowongannya adalah hasil perbuatan larva migrant, perhatikan juga bagian tubuh lain yang bisa terlihat kayak mata, tanda vital jangan lupa, kalo si pasien menampakan keanehan periksa juga neurologisnya, periksa apakah dia hepatomegali atau tidak, VLM biasanya terjadi hepatomegali, dicek juga apakah beliau ini hiperglobinemia.
·         Penunjang :
a.       Darah : pada VLM terdapat eosinofilia primer, dan hiperglobinemia, pada CLM terdapata leukositosis dan eosinofilia.
b.      Biopsi : Untuk melihat ada atau tidak larvanya, tapi ni agak sulit, bahkan di lesi bekas terowongan aja kadang gak diketemukan larva
c.       ELISA, untuk mengecek aja, sekalian memastikan apakah memang CLM/VLM atau bukan, tapi kalo emang dah bisa dipastikan, yang beginian gak terlalu perlu sebenarnya.
·         Laboratorium :
a.       Tes Serologi : bedanya sama tes darah? Lol, yeah liat ada atau gak si leukositosis, eusinofilia, dan teman-temannya.
-          Tatalaksana :
·         Non farmakokinetik : Kayak biasa jaga higien, jangan terpapar yang kotor terlalu sering.
·         Farmakokinetik :
ü  (CLM) lokal : semprot klor-etil. Suhunya dapat membekukan si larva, tapi katanya si klor-etil ni sebenarnya gak mematikan larva cuma ‘melumpuhkan’ yang pasti pengobatan ini masih dipakai sampai sekarang
ü  (CLM) : Tiabendazol oral ataupun topical : 25-50 mg/kgBB/hari, 2kali/hari selama 2-5 hari. Tidak diperkenankan melebihi 3 gram perhari. Topikal, 10-15% dalam larutan.
ü  (CLM) : Cryosurgery, yang ini harusnya dilakukan sama dokter bedah, dokter umum ngerjain ini –menurut saya- nekat, walaupun ini cuma surgery sederhana tapi belum tentu daerah yang diinsisi itu masih ada larvanya, kali cuma tinggal terowongan aja, mau apa sama sisa lukanya, luka sekecil apapun kalo menyakiti pasien dan tidak ditangani oleh dokter yang –bukan bisa, tapi- berkompeten sama juga dengan membahayakan pasien.
ü  (VLM) : Tiabendazol oral (sama kayak CLM pakainya)
ü  (VLM) : Dietilkarbamazepin
ü  (VLM) : Fotokoagulasi
-          Follow up :
·         Anastesi : -
·         Penanganan rawat jalan : Cuma kasih edukasi aja sama pasien supaya dipake obatnya sesuai aturan dan jaga higien, hindari hal-hal yang memicu larva itu menyerang lagi.
·         Pencegahan : Jaga kebersihan paling penting tempat tinggal dan binatang peliharaan kita, kalo suka ubek-ubek kucing atau anjing tetangga pastikan dia bersih dan tidak suka esek-esek badan disembarang tempat, usahakan jangan bermain didaerah lembab dan berpasir (untuk anak kecil) atau kalo emang main disana, sehabis main bersihkan benar-benar seluruh tubuh, jangan sampai tidurpun diatas kotak pasir (ingat, kucing suka boker dipasir dan bisa aja bokernya mengandung telur dan larva cacing), oh iya karena menghindari cacing jadi jangan lupa, makan daging, dan ikan harus yang sudah benar-benar matang yaaa ….

Kamis, Maret 24, 2011

F I L A R I A S I S






Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas



Filariasis Limfatik

W. bancrofti merupakan spesies yang sangat terkenal di dunia, meski hanya sedikit sekali mahasiswa kedokteran di dunia yang mempelajari secara intensif mata kuliah Parasitologi atau Tropical Medicine. Sekitar 115 juta manusia terinfeksi parasit ini di daerah subtropis dan tropis, meliputi Asia, Pasifik, Afrika, Amerika Selatan, serta Kepulauan Karibia. Spesies dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi) ditemukan di Kepulauan Pasifik dengan vektor Aedes sp., sementara sebagian besar lainnya memiliki periodisitas nokturnal dengan vektor Culex fatigans dan Culex cuenquifasciatusdi Indonesia. Vektor Culex juga biasanya ditemukan di daerah-daerah urban, sedangkan vektor Aedesdapat ditemukan di daerah-daerah rural.
Brugia malayi lazim ditemui di China, India, Korea, Jepang, Filipina, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Sementara Brugia timori merupakan satwa khas Indonesia yang hanya bisa ditemui di kepulauan Timor. Mirip dengan W.bancrofti, Brugia malayi memiliki juga memiliki dua bentuk periodisitas. Bedanya, biasanya B.malayi dengan periodisitas nokturnal ditemukan di daerah pertanian dengan vektor Anopheles atau Mansonia. Sedangkan spesies dengan periodisitas subperiodik ditemuakn di hutan-hutan dengan vektor Mansonia dan Coquilettidia (jarang).
Prinsip patologis penyakit filariasis bermula dari inflamasi saluran limfe akibat dilalui cacing filaria dewasa (bukan mikrofilaria). Cacing dewasa yang tak tahu diri ini melalui saluran limfe aferen atau sinus-sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe pada tempat-tempat yang dilaluinya. Dilatasi ini mengakibatkan banyaknya cairan plasma yang terisi dari pembuluh darah yang menyebabkan penebalan pembuluh darah di sekitarnya.
Akibat kerusakan pembuluh, akan terjadi infiltrasi sel-sel plasma, esosinofil, serta makrofag di dalam dan sekitar pembuluh darah yang terinfeksi. Nah, infiltrasi inilah yang menyebabkan terjadi proliferasi jaringan ikat dan menyebabkan pembuluh limfe di sekelilingnya menjadi berkelok-kelok serta menyebabkan rusaknya katup-katup di sepanjang pembuluh limfe tersebut. Akibatnya, limfedema dan perubahan statis-kronis dengan edema pada kulit di atas pembuluh tersebut menjadi tak terhindarkan lagi.
Jadi, jelaslah bahwa biang keladi edema pada filariasis ialah cacing dewasa yang merusak pembuluh limfe serta mekanisme inflamasi dari tubuh penderita yang mengakibatkan proliferasi jaringan ikat di sekitar pembuluh. Respon inflamasi ini juga diduga sebagai penyebab granuloma dan proliferatif yang mengakibatkan obstruksi limfe secara total. Ketika cacing masih hidup, pembuluh limfe akan tetap paten, namun ketika cacing sudah mati akan terjadi reaksi yang memicu timbulnya granuloma dan fibrosis sekitar limfe. Kemudian akan terjadi obstruksi limfe total karena karakteristik pembuluh limfe bukanlah membentuk kolateral (seperti pembuluh darah), namun akan terjadi malfungsi drainase limfe di daerah tersebut.

WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan missal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah.

Cara Penularan :
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 ? 5 hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).



Tanda dan Gejala Klinis

Umumnya, filariasis akan bersifat mikrofilaremia subklinis. Apalagi kebanyakan penderita penyakit ini merupakan masyarakat pedesaan hingga sama sekali tidak terdeteksi oleh pranata kesehatan yang berada di lingkungan tersebut. Namun demikian, jika telah parah dan kronis dapat menimbulkan hidrokel, acute adenolymphangytis (ADL), serta kelainan pembuluh limfe yang kronis. Di daerah-daerah yang endemis W.bancrofti juga sudah banyak orang yang kebal sehingga jika ada satu atau dua orang yang skrotumnya tiba-tiba sudah besar, kemungkinan sudah banyak sekali laki-laki yang terinfeksi parasit ini. Meski demikian, jika ingin mendeteksi secara dini, dalam fase subklinis penderita filariasis bancrofti akan mengalami hematuria dan atau proteinuria mikroskopik, pembuluh limfe yang melebar dan berkelok-kelok –dideteksi dengan flebografi- , serta limfangiektasis skrotum –dideteksi dengan USG. Namun tentu saja gejala-gejala yang disebutkan terakhir jarang sekali (kalau bisa dibilang tidak pernah) terdeteksi karena terjadi di pedalaman-pedalaman desa.
ADL ditandai dengan demam tinggi, peradangan limfe (limfangitis dan limfadenitis), serta edema lokal yang bersifat sementara. Limfangitis ini bersifat retrograd, menyebar secara perifer dari KGB menuju arah sentral. Sepanjang perjalanan ini, KGB regional akan ikut membesar atau sekedar memerah dan meradang. Bisa juga terjadi tromboflebitis di sepanjang jalur limfe tersebut. Limfadenitis dan limfangitis dapat terjadi pada KGB ekstremitas bawah dan atas akibat infeksi W.bancrofti dan Brugia. Namun khas untuk W.bancrofti, biasanya akan terjadi lesi di daerah genital terlebih dahulu. Lesi di derah genital ini meliputi funikulitis, epididimitis, dan rasa sakit pada skrotum. Nantinya lesi ini juga bisa menjadi limfedema hingga menjadi elefantiasis skrotalis yang sangat khas akibat infeksi W.bancrofti. Lebih jauh, edema ini juga bisa mendesak rongga peritoneal hingga menyebabkan ruptur limfe di daerah renal dan menyebabkan chiluria, terutama waktu pagi.
Pada daerah yang endemis infeksi filaria, terdapat tipe onset penyakit akut yang dinamakandermatolymphangioadenitis (DLA). Agak sedikit berbeda dengan ADL, DLA merupakan sindrom yang meliputi demam tinggi, menggigil, myalgia, serta sakit kepala. Plak edem akibat peradangan membentuk demarkasi yang jelas dari kulit yang normal. Pada sindrom ini juga terdapat vesikel, ulkus, serta hiperpigmentasi. Kadang-kadang dapat ditemui riwayat trauma, gigitan serangga, terbakar, radiasi, lesi akibat pungsi, serta kecelakaan akibat bahan kimia. Biasanya port d’entrée dari filaria tersebut terletak di daerah interdigital. Karena bentuknya yang tidak terlalu khas, sindrom ini sering juga didiagnosis sebagai selulitis.


Diagnosis
Filariasis dapat ditegakkan secara Klinis ; yaitu bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala akut ataupun kronis ; dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat, seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria. Pencegahan ; adalah dengan berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi kontak dengan vector) misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk baker, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk, atau dengan cara memberantas nyamuk ; dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk ; membersihkan semak-semak disekitar rumah. 

Pengobatan :
secara massal dilakukan didaeah endemis dengan menggunakan obat
Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dikombinasikan dengan Albenzol sekali setahun selama 5 - 10 tahun, untuk mencegah reaksi samping seperti demam, diberikan Parasetamol ; dosis obat untuk sekali minum adalah, DEC 6 mg/kg/berat badan, Albenzol 400 mg albenzol (1 tablet ) ; pengobatan missal dihentikan apabila Mf rate sudah mencapai < 1 % ; secara individual / selektif; dilakukan pada kasus klinis, baik stadium dini maupun stadium lanjut, jenis dan obat tergantung dari keadaan kasus.

Dari dulu sampai sekarang DEC merupakan pilihan obat yang murah dan efektif jika belum bersifat kronis. Selain DEC, terdapat pula Ivermectin yang sampai sekarang harganya pun semakin murah. Diethilcarbamazyne (DEC, 6 mg/kgBB/hari untuk 12 hari) bersifat makro dan mikrofilarisidal merupakan pilihan yang tepat untuk individu dengan filariasis limfe aktif (mikrofilaremia, antigen positif, atau deteksi USG positif cacing dewasa). Meskipun albendazole (400 mg dua kali sehari selama 21 hari) juga mampu menunjukan efikasi yang baik.
Pada kasus yang masih bersifat subklinis (hematuria, proteinuria, serta abnormalitas limfosintigrafi) sebaiknya diberikan antibiotik profilaksis dengan terapi suportif misalnya dengan antipiretik dan analgesik. Sedangkan jika sudah mikrofilaremia negatif, yakni ketika manifestasi cacing dewasa sudah terlihat, barulah DEC menjadi acuan obat utama.
Pasien dengan limfedema positif pada ekstremitas patut mendapatkan fisioterapi khusus untuk limfedema atau dekongestif. Pasien mesti dididik untuk hidup bersih dan menjaga agar daerah yang membengkak tidak mengalami infeksi sekunder. Sementara itu hidrokel bisa dialirkan secara berulang atau dengan insisi pembedahan. Jika dilakukan dengan baik ditambah DEC yang teratur, sebenarnya gejala pembengkakan ini bisa dikurangi hingga menjadi sangat minim.
Penggunaan DEC selama 12 hari dengan dosis 6 mg/kgBB (total dosis 72 mg) merupakan patokan standar yang telah dilaksanakan di negara-negara dengan filariasis. Sebenarnya dengan dosis tunggal 6 mg/kgBB selama sehari juga sudah mampu membunuh parasit-parasit yang ada di tubuh. Penggunaan selama 12 hari merupakan sarana supresi mikrofilaremia secara cepat. Namun biasanya penggunanan DEC dosis tunggal dikombinasikan dengan albendazole atau ivermectin dengan hasil mikrofilarisidal yang efektif.


Efek samping dari DEC ialah demam, menggigil, artralgia, sakit kepala, mual, hingga muntah. Keberhasilan pengobatan ini sangat tergantung dari jumlah parasit yang beredar di dalam darah serta sering menimbulkan gejala hipersensitivitas akibat antigen yang dilepaskan dari debris sel-sel parasit yang sudah mati. Reaksi hipersensitivitas juga bisa terjadi akibat inflamasi dari lipoprotein lipolisakarida dari organisme intraseluler Wolbachia, seperti yang disebutkan di atas. Selain DEC, ivermectin juga memiliki efek samping yang serupa dengan gejala ini.
Yang penting selain pengobatan klinis filariasis ialah edukasi dan promosi pada masyarakat sekitar untuk memberantas nyamuk dengan gerakan 3M, sama seperti pemberantasan demam berdarah. Selain itu, di beberapa tempat perlu juga dilakukan pemberian DEC profilaksis yang ditambahkan ke dalam garam dapur khusus untuk masyarakat di daerah tersebut. Namun yang belakangan tidak terlalu populer di Indonesia






Sumber :
1. http://www.infeksi.com
2. http://www.majalah-farmacia.com