Sabtu, November 01, 2008

ISTANA KEAJAIBAN

Aerin… dengarlah….!!! Istana ini kubuat untukmu….
Sebuah kenangan…
Kenangan untukmu… Aerin.
*
Pukul 04.00 pagi
Aerin bangun tiba-tiba dari tempat tidur, mengelus dadanya sambil mengatur nafas.
“Kenangan” ulangnya pada sesuatu yang didengarnya di dalam mimpi yang baru dialaminya.
“Aku sama sekali lupa…” ucapnya lagi sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya lalu menghempaskan kepala kembali ke atas bantal. Tapi dia sudah tidak bisa tidur.
*
“Rin, hari ini ada rapat buat tamasya anak-anak klub seni loh! Ikut yah” bujuk Gina. Aerin yang baru terlonjak dari kaget hanya mengangguk-angguk tanpa makna. Entah mengiyakan atau bingung…
Aerin yang akhir-ahir ini ling-lung membuat Gina ikut ling-lung. Aerin sekarang suka kaget sendiri, melamun, bicara sendiri lalu meralatnya tiba-tiba, menerawang, bahkan bermimpi saat matanya terbuka lebar. Ada yang salah dengan Aerin, sejak dia bertemu orang itu. Anak laki-laki yang bernama Jae.
“Oh ya Gin, memangnya rencana tamasyanya kemana?” tanya Aerin ketika menyadari arah pembicaraan yang ingin dituju Gina.
“Ke pantai”
“Pantai?”
“Ya…”
“Pantai yang mana?” dahi Aerin semakin mengerut. Alisnya hampir menyatu.
Gina tersenyum sebentar. “Lonny Beach… yang airnya dari jauh berwarna ungu”
“Lonny?... kenapa?” mata Aerin fokus pada sesuatu tapi bukan Gina ataupun pembicaraan mereka. Dia fokus pada sesuatu di balik punggung Gina, pada sesuatu yang jauh, yang hanya dia yang tahu.
“Apanya yang kenapa?” sambar Gina tidak sabar.
“Ah tidak, bukan apa-apa. Lupakan saja”. Kemudian mereka berlalu sepanjang koridor menuju loker. Berencana mengambil buku catatan lalu masuk ke kelas. Tapi sepertinya Gina harus ke kelas sendirian.
“Hai” sapa Jae pada kedua gadis itu.
“Hai” balas mereka serempak. Gina lalu bergegas mengambil buku-buku dan menjejalkannya asal-asalan ke dalam tas. Sedangkan Aerin kembali ling-lung. Bertingkah aneh, lambat, bingung, asal dan sulit dibayangkan.
“Eh Rin, aku duluan ke kelas ya. Sekalian lewat ruang administrasi, ada perlu. Biar gak telat”
“Oh iya” jawab Aerin tanpa sadar. Gina pun bergegas pergi. Dia sahabat yang pengertian.
Hening sejenak….
“Ikut?” Jae memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang kurang berarti.
“Hah, kemana?”
“Lonny…” sahut Jae. Aerin terdiam. Kata ‘Lonny’ bergema di telinganya,.. gema yang memantulkan kalimat ‘sepi’, kesepian yang pekat, dalam, dan sulit diingat.
“Mungkin…” Sahut Aerin kemudian dengan volume yang sangat halus seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Harus” teriak Jae ceria, dan dia tersenyum manis.
Aerin memandang senyum itu. Lalu dia ikut tersenyum.
Jae anak yang istimewa pikir Aerin. Dia manis dan murah senyum, cepat akrab, santai dan agak tidak tahu malu. Kadang tidak tahu diri. Hari itu, rabu siang yang cerah yang pantas dinikmati, angin sejuk, udara segar, di taman belakang perpustakaan Aerin duduk sambil membaca dan tanpa rasa malu dia duduk di samping Aerin mengambil buku dari tumpukan teratas yang belum tersentuh oleh Aerin lalu berkomentar macam-macam. Sikapnya sok tahu, tapi tebakannya benar. Semuanya. Lalu dia tertarik pada salah satu buku Aerin yang berjudul ‘Century’. “Wah” katanya dengan mata berkilauan. Dia memandang cover buku yang bergambar sebuah rumah tua besar yang indah seperti istana. “Hebat” ucapnya lagi.
“Boleh pinjam?” tanyanya tanpa rasa segan bahkan malu. Dia bahkan belum mengulurkan tangan secara resmi untuk berkenalan, hanya sekilas saat membaca nama dari pemilik buku. Awalnya Aerin ingin marah, tapi …
“Aku Jae” ucapnya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum ramah. Hal itu membuat Aerin tiba-tiba tertawa lepas.
“Kenapa tertawa?” tanyanya bingung tanpa rasa bersalah.
“Kamu aneh, kamu lucu” jawab Aerin terbata menahan tawa.
“Aneh? Lucu? Kamu tertawa? Aku membuatmu tertawa, itu artinya kita teman? Jadi aku boleh pinjam dong? Besok aku kembalikan. Yah… yah… yah…” bujuknya
Secara otomatis Aerin mengangguk lalu Jae pergi dari perkenalan singkat itu. Aerin bingung… dia terlalu seenaknya membawa buku orang lain, lalu berjanji mengembalikan tanpa tahu besok Aerin akan ada di mana pada jam berapa, sekolah di mana, tinggal dimana, atau segala tetek bengek yang minimal harus diketahui jika ingin mengembalikan buku. Hanya karena dia berhasil membuat Aerin tertawa maka dia menganggap Aerin telah menjadi teman baiknya. Anak yang aneh. Unik.
Aerin agak sebal karena berpikir buku kesayangannya terancam hilang. Tapi sesuatu mengejutkannya. Ketika dia minum di kantin bersama Gina, seorang anak lelaki yang tidak dikenal datang menghampirinya, tersenyum dan menyodorkan sebuah buku bergambar rumah tua yang indah seperti istana, yang telah bersampul plastik.
“Bukumu kan, Aerin?” tanyanya mantap.
Aerin berbalik dan berusaha mengingat senyum itu. Senyuman seseorang di taman belakang perpustakaan. “Jae?” ucapnya.
“Aku sudah membacanya, dan merawatnya” katanya lirih.
Aerin terdiam… “Hebat” Aerin membatin.
Sejak itu Aerin dan Jae bersahabat.
Sejak itu Aerin jadi sering bermimpi
Sejak itu Aerin jadi merindukan sesuatu, sesuatu yang telah dilupakannya. Sulit diingat kembali, tapi Jae memaksa. Jae yang aneh. Jae yang lucu.
*
Aerin menatap cermin lekat-lekat. Mengatur nafas panjang, mengusap wajahnya dengan air dari keran. Lalu dia menutup mata.
Bayangan itu muncul lagi. Bayangan yang sangat indah.
Sebuah istana pasir yang besar dan indah. Berkilauan ditimpa sinar matahari. Seorang anak bertubuh kecil mengisi ember plastik biru dengan pasir-pasir berkilau lalu menumpuknya di bagian teratas istana. Anak kecil itu membalikan kepala ke arah Aerin. Gelap. Tak terlihat apapun selain bibir yang tersenyum.
“Istana ini kubuat untukmu, Aerin” ucapnya halus. “Istana ini kubuat agar kau bermimpi indah selalu”. Anak itu dan segala yang terlihat oleh Aerin lenyap. Terganti oleh istana besar berkelambu senja yang amat indah di pinggir pantai……
Aerin menatap air berwarna ungu lekat-lekat.
Tiba-tiba semuanya meledak. Gina masuk ke toilet menghampiri dan sekaligus membangunkan Aerin dari khayalannya.
“Rin, kenapa? Sakit?” tanya Gina khawatir.
Aerin menggeleng, lalu menyisihkan sepengggal senyum yang tersisa.
*
“Pantainya bagus ya” seru Alika
“Ya… Lonny kan baru dibuka seminggu yang lalu. Jadi masih bagus” papar Seno sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“Benar, pasirnya masih berkilauan, airnya juga jernih”sambung Alika lagi.
“Itu sih belum ada apa-apanya. Coba deh tunggu sampai sore. Pasti lebih bagus” sahut Jae cepat. Gina yang sedari tadi tidak berkomentar, berputar-putar kebingungan disekitar mereka.
“kenapa Gin?” tanya Seno.
“Kalian liat Aerin, gak?” jawabnya khawatir. “Akhir-akhir ini dia agak aneh, aku takut dia nyasar”
“Nyasar?” Alika mengerutkan dahi.
“Iya, sepertinya ini pertama kalinya dia ke Lonny. Jadi mungkin…”Gina diam sejenak “Jae, kamu liat Aerin?”
Jae menggeleng “Aku gak liat dia dari tadi. Tapi mungkin aku tahu di mana dia”
“Maksud kamu?” Gina bertanya dengan nada tajam.
“Aku kan orang sini”
*
“Mikirin apa, Rin?” tanya Jae lirih.
Aerin kaget. Dia memutar tubuhnya dan mendapati Jae berdiri di belakangnya.
“Mencoba mengingat sesuatu?” sambungnya lagi.
“Sudahlah Jae, kamu itu selalu bertanya. Hentikan kepura-puraanmu itu. Kenapa tidak bilang kamu pernah tinggal di sini?”
“Kenapa tidak bilang kamu pernah ke sini?”
Aerin menatap bingung pada Jae “Apa maksudmu? Aku, aku tidak ingat pernah ke tempat ini. Ini pertama kalinya”
“Dan di kali yang pertama kamu bahkan berhasil menemukan sudut pantai paling indah untuk memandang senja dan air laut. Tidak Aerin” sambung Jae yakin.
“Mungkin kebetulan” kilah Aerin sambil menunduk
“Atau mungkin kamu pura-pura lupa” sambung Jae lagi.
Aerin menatapnya penuh makna.
*
“Apa yang dia katakan padamu sebelum dia… hilang” Aerin mencoba memulai kembali pembicaraan setelah hening cukup lama
“Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku bisa merasakannya” Jae sangat yakin mengucapkannya.
“Aku bahkan tak merasakan apapun”
“Kamu merasakannya”
“Tidak” sela Aerin “aku bahkan baru berumur enam tahun saat itu”
“Dia juga. Tapi yang namanya kenangan… aku bahkan bisa merasakannya sampai sekarang”.
Aerin terdiam. Bayangan itu mulai jelas. Seorang nak kecil yang sedang membuat istana pasir yang indah dan berkilauan. Kenangan.
Ketika itu Aerin duduk di balik batu besar sambil memeluk lutut, ketakutan. Seorang anak laki-laki yang ramah menghampirinya “kenapa?”tanyanya.
Aerin tetap diam ketakutan.
Anak itu mengulurkan tangannya. “Mari ikut bersamaku, kita membuat istana bersama” dia lalu tersenyum.
“Aku tinggal di Lonny, aku suka Lonny, aku ingin tetap di Lonny selamanya. Tapi ayah tidak mau, kami harus pergi katanya. Untuk kepentingan semuanya. Aku menolak lalu marah dan kabur begitu saja, berlari tanpa arah menuju pantai. Dan tersesat. Aku takut” Aerin menjelaskan panjang lebar.
“Kenapa kamu suka Lonny”
“Lonny selalu menyenangkan. Aku selalu bermimpi indah sejak tinggal di sini. Lonny memberiku kenangan yang indah”
Anak laki-laki itu tertawa.
“Kenapa?” tanya Aerin.
“Kamu lucu!” sahutnya
“Lucu?”
“Iya…” Anak laki-laki itu berusaha menghentikan tawanya, mengatur nafas dan kembali bicara. “Kamu sudah membuatku tertawa selepas ini. Aku senang, kau teman yang baik”
“Teman? Kita bahkan belum kenalan?”
“Tak perlu kenal untuk bersahabat, yang penting bisa memberikan kebahagiaan dan kenangan yang indah kan? Buktinya kau tak kenal Lonny sampai tersesat segala, tapi kamu menyayanginya kan?”
Aerin mengangguk. Mereka lalu tertawa bersama.
*
“Jadi tetap harus pergi?Kapan?”
Aerin mengagguk lalu menyahut cepat “besok”
“Tak bisakah menungggu lebih lama lagi?”
Aerin menggeleng.
Anak laki-laki itu tiba-tiba berlari cepat menuju pantai. “Aku punya kenangan terakhir untukmu” teriaknya lalu menghilang di balik lalu lalang punggung-punggung orang yang sedang bepergian merajut kenangan masing-masing.
“Sejak itu aku bersikeras untuk pergi dari Lonny secepatnya. Untuk pertama kalinya aku mendapat kenangan buruk dari Lonny. Karena sejak itulah… dia menghilang dan tak kembali lagi. Selamanya” ucap Aerin mengakhiri kisahnya sambil sekali-sekali membayangan wajah si anak laki-laki yang telah kabur.
“Kamu tahu, apa yang terjadi padanya?”
“Aku tidak pernah mau tahu” jawab Aerin tajam
“Jawaban yang salah. Seharusnya kamu tahu apa yang dilakukannya di pantai sehingga membuatnya tidak peduli tentang peringatan angin pasang yang akan menimbulkan badai besar di pantai. Dia tenggelam karenanya, dua hari setelah kamu pergi, dia ditemukan oleh nelayan. Kamu sudah ingat Aerin”
Mata Aerin memerah. “Apa maksudmu mengatakan hal itu. Ingin memojokanku?”
“Tidak” sanggah Jae sambil menggeleng. “Hanya ingin menyampaikan sesuatu yang belum tersampaikan langsung kepadamu”
“Apa itu?”
“Saat itu dia mengumpulkan pasir yang berkilauan di dalam sebuah ember plastik biru. Ingin membuatkanmu sebuah istana pasir yang besar dan bagus” Jae merogoh tasnya, mengambil sesuatu. “Lihatlah!” katanya
Aerin diam menatap sebuah replika istana dari kayu yang bagus sekali. Sederhana dan mewah. Istana yang familier di matanya.
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Bukan siapa-siapa. Hanya orang yang lebih tahu tentang keinginan si anak laki-laki”
“Apa hubunganmu dengannya?”
“Dulu tak pernah kamu menanyakan itu padanya. Tentang orang lain?”
“Aku terlalu asik bersamanya. Aku tak memikirkan hal lain” Aerin tertunduk kaku.
“Aku hanya seseorang yang serupa dengannya. Aku Jae”
“Itukah alasanmu kenapa memahami banyak hal?” tanya Aerin lagi.
Jae mengangguk.
“Aneh. Ajaib sekali”
“Ya, memang ajaib. Bukankah sebuah keajaiaban kita bertemu di taman belakang perpustakaan gara-gara sebuah buku bagus bergambar istana. Bukankah sebuah keajaiban kau mengingat kembali sesuatu yang telah lama dilupakan. Bukankah sebuah keajaiaban, kau selalu bermimpi indah karenanya. Istana itu adalah sebuah kenangan. Dan kenangan itu ajaib. Selalu seperti itu kejadiannya”
“Ajaib ya?” Aerin menatap lekat pada replika istana yang dipegangnya. “Kuberi nama apa replika ini ya?” sambungnya. “Sesuatu yang ajaib”
“Istana yang ajaib” sambung Jae kemudian.
“MAGIC CASTLE” Aerin mengikuti sambil tersenyum. Dia lalu beranjak dari batu besar yang didudukinya, dan berdiri di samping Jae. Menatap langit senja.
“Lonny, indah bukan?” ucap Jae lirih.
“Ya…” bisik Aerin. “kenangan yang indah”
Dari jauh Gina menatap mereka. Dia berbalik dan menjauh. “Aerin ku itu, akhirnya paham bagaimana rasanya” Gina membatin, lalu pergi meninggalkan dua orang yang tenang menatap langit senja, matahari oranye, laut yang tenang, dan cakrawala berwarna ungu terang.
Sambil berpegangan tangan dan memeluk magic castle di tangan yang lain Aerin memandang tajam pada air yang jauh di ujung cakrawala. Air tenang berwarna ungu.
***

FILOSOFI ORANG GILA

FILOSOFI ORANG GILA
Oleh : Sari Dianita Purnama

Ahhh… bangun pagi ini enak sekali. Aku turun dari kasur bersprei putih berbau kamper yang diberikan oleh petugas kebersihan tadi malam lalu meregangkan badan. Suara kicau burung terdengar jelas di telingaku, gemerisik angin yang lembut ikut mendobrak-dobrak membran timpaniku, lalu aku juga mendengar bunyi kupu-kupu di taman, bunyi semut di bawah kakiku, suara tikus yang sedang menggerogoti roti berjamur di pojok ruangan, suara pisau yang berkata “pakai aku untuk membunuhnya”. Ah aku mulai kacau lagi, untung suara lonceng dan teriakan cempreng perawat gendut yang biasa menyiapkan makanan di dapur yang mengatakan “sarapan” hingga terdengar ke sepanjang blok membangunkan aku dari mimpi keduaku. Aku memang selalu begitu, mendengar sesuatu yang tak perlu didengar, sesuatu yang tidak pada tempatnya, yang tidak mungkin terdengar, dan aku juga suka sekali bermimpi bukan hanya pada saat tidur tapi juga saat terjaga. Mimpi yang lebih dari sekedar melamun, atau berkhayal. Aku yakin jika kau waras kau akan mengerti maksudku.
Aku keluar dengan santai sambil menggaruk-garuk kepalaku yang gatalnya setengah mati . Dari balik jendela berterali besi aku bisa melihat tetanggaku, Rima yang sedang terpasung di kamarnya. Dia tertawa sendiri lalu menangis seperti orang gila, atau aku yang salah. Bukankah dia memang gila?
Aku masih ingat tadi malam ketika satu blok rumah sakit kacau gara-gara Rima mengamuk. Dia berlari-lari mengelilingi seluruh rumah sakit hingga ke taman dan ruang terapi sambil mengacungkan kapak di tangan kanannya dan kepala boneka yang sudah hancur tercabik-cabik di tangan kiri.
“Ayo, siapa yang berani menggangguku?. Akan kupenggal kepalanya” katanya malam itu. “Kalian pikir kalian saja yang berani memenggal kepala? Aku juga”.
Dia menakutkan sekali saat mengamuk. Dulu aku pernah menguping pembicaraan dari para dokter kalau Rima itu awalnya tinggal di sebuah desa terpencil yang percaya hal-hal mistis seperti roh-roh jahat, dan Rima dianggap salah satu korban kesurupan roh jahat, setiap malam jumat dia berkeliling kampung dengan kapak sambil berteriak-teriak menantang semua orang. Dia sudah berkali-kali diobati ke dukun tetapi tidak membuahkan hasil, untunglah ada salah satu pamannya yang berpikiran agak modern dan berencana membawa Rima ke kota untuk diobati ke dokter jiwa. Sayangnya ayah Rima lebih rela anaknya dikatakan korban roh jahat daripada dituduh ‘gila’. Jika saja paman Rima tidak membawa Rima ke kota secara diam-diam mungkin Rima masih mengamuk di desa kecil sambil berkeliling kampung, bukannya mengamuk di rumah sakit jiwa sambil membawa kapak berkeliling seluruh blok dari ujung satu ke ujung lain. Walaupun tidak terlihat perbedaannya, paling tidak dia punya teman di sini yang menerima dengan rela kenyataan bahwa dia ‘gila’.
Kau pikir akan ada perkembangan terhadap Rima?
Aku justru tak yakin sama sekali. Filosofi orang waras memang berbeda dengan orang gila. Dia tinggal, berkumpul dan berteman dengan orang sejenisnya, para orang gila jadi jelas sudah ‘bagiku’ bahwa tak ada kesempatan untuknya sembuh.
Tapi dokter-dokter jiwa itu memang gigih sekali. Mereka bersikeras untuk mencari tahu apa penyebab ketidakwarasan Rima. Hingga tetes darah penghabisan mereka tak akan percaya bahwa Rima itu korban roh jahat atau setan. Memang awalnya aku percaya tentang setan itu tetapi aku berubah pikiran ketika untuk pertama kalinya aku melihat ayah Rima datang ke rumah sakit ini. Ketika itu dia duduk di ruang tunggu sumpek yang dicat putih pucat khas rumah sakit, yang di dindingnya bertuliskan ‘dilarang merokok’, ‘buanglah sampah pada tempatnya’, dan poster-poster pudar berisi tips-tips merawat orang yang sakit jiwa ‘seadanya’. Benar-benar khas rumah sakit. Saat aku lewat di depannya, aku melihat matanya. Sorotan mata yang menyala, bersemangat dan kejam. Seperti yang kukatakan bahwa filosofi orang gila dan orang waras itu berbeda. Sebagai sesama orang kurang waras aku paham betul perasaan Rima dan aku langsung tahu mengapa dia gila. Dia gila bukan karena korban setan tetapi karena dibesarkan oleh setan. Setan itu sendiri berada di jiwa ayahnya hingga sekarang. Aku heran, mengapa tak satupun dokter jiwa yang menyadari itu.
Ah, tapi aku tak terlalu peduli lagi, dia kelihatannya senang diikat seperti itu. Kelihatannya dia senang diperlakukan layaknya orang gila pada umumnya.
Aku berlalu saja menuju ke taman, memandang bunga-bunga yang dari tadi memanggilku. Aku senang duduk di sana dan mengobrol dengan bunga teratai merah muda yang biasa mekar jam segini. Aku juga ingin bertemu seorang teman di sana, Cupit namanya. Memang nama yang aneh, tapi dia menyenangkan dan juga baik. Dia tak pernah mengamuk, dia suka merawat bunga terutama mawar. Dia pernah bilang temannya tinggal di sana, jadi sudah selayaknya dia ikut menjaga rumah teman baiknya.
‘Aha, aku menemukan penyebabnya’ seruku saat itu.
Cupit pernah bercerita padaku bahwa dia punya teman seorang peri yang sangat baik dan manis, seperti peri pada umumnya.
“Dia sering menghiburku, dan memberiku nasihat” serunya dengan bersemangat.
“Dan membuatmu berada di sini?” kataku dengan sinis.
“Tidak, aku disini setelah aku memutuskan untuk memberitahukan tentang periku pada semua orang” jawabnya
“Pantas” sahutku singkat. Aku heran mengapa dia begitu membanggakan peri yang dia katakan. Sejujurnya aku juga terbawa dengan cerita peri Cupit sebelum melihat kenyataannya.
Di mataku seekor peri yang dibanggakan Cupit, yang katanya cantik, manis, baik hati, hebat, teman terbaik, bersayap putih jernih, tinggal di bunga mawar, bermata biru cerah, bergaun mewah warna pastel yang indah hanyalah seekor … entah harus kusebut apa dia, yang jelas dia hanyalah makhluk merah yang bermata hitam tanpa perasaan dengan sayap api, bertanduk hitam, tinggal di pembuangan sampah di ujung blok terakhir rumah sakit, berpakaian hitam, dan yang jelas bukan makhluk yang ramah. aku selalu merasa panas jika berada dekat dengan mahluk itu. Dia seperti tokoh di film hellboy hanya saja tokoh di film itu baik dan gagah sedangkan makhluk itu terlihat kejam dan menyeramkan. Aku tidak mengerti bagaimana dia membutakan mata Cupit. Semua penggambaran Cupit tak ada benarnya.
Suatu kali aku pernah melihat seorang perawat memaksa Cupit untuk makan, karena sudah tiga hari Cupit mogok makan. Tapi dia merasa terancam atas paksaan itu, tiba-tiba saja dia menangis dan makhluk itu membisikkan sesuatu yang sepertinya buruk, yang memicu Cupit untuk meraih gelas minum di dekatnya lalu melemparkannya ke kepala perawat tadi.
Itukah yang dimaksud Cupit dengan menghibur dan memberi nasihat?
Tidak terasa aku telah duduk disini selam satu jam, tapi Cupit tidak muncul juga. Aku kesepian. Hanya Cupit yang bisa diajak mengobrol.
Tak lama seorang dokter menghampiriku dengan menyajikan wajah ramah yang sangat mencolok dan berlebihan.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya ramah
“Aku menunggu Cupit” sahutku
“Cupit?” tanyanya lagi. Dia mengerutkan dahi, sepertinya dia tidak mengerti kata-kataku, ataukah tidak mendengarnya, atau yang dia dengar bukan apa yang aku katakan. Aku tidak paham
“Aku ingin bertemu Cupit” teriakku pada dokter itu.
“Jangan, nanti saja kalau Cupit sudah tenang!”
“Memangnya apa yang terjadi padanya, dia tidak pernah mengamuk, dia tidak pernah merepotkan?” sahutku lagi dengan cepat, tanpa tempo, tanpa suara yang jelas, tanpa susunan yang benar.
“Apa yang kamu katakan? Kamu bicara aneh terus dari tadi” jawab dokter itu mulai bosan dengan sikapku. Benar kan, dokter itu tak mengerti apa yang aku katakan. Jadi kami sudah punya bahasa sendiri sekarang, yang tidak dipahami oleh orang ‘waras’.
Dari balik terali besi ruangan dokter, aku mendengar ada yang mengatakan “Cupit membunuh seseorang”. Aku kaget sekali mendengarnya.
“Dasar iblis” umpatku pada makhluk merah kejam yang menjulurkan lidahnya padaku di depan kamar Cupit.
“Apa kamu bilang tadi?” tanya perawat di depanku dengan wajah bosan dan sedikit menahan kesabaran. Aku tak mau menjawab apapun, sekarang bahasaku tak dimengerti olehnya.
*

Aku hampir mati kebosanan di ruangan ini. Putih pucat, sumpek, penuh tikus dan kecoa. Memang sih, petugas kebersihan selalu datang setiap dua hari sekali untuk membersihkan ruangan ini lalu mengganti sprei yang kupakai dengan sprei beraroma kamper yang lain. Aku benci bau itu. Bau orang mati.
Dulu aku pernah mencari hiburan selain ke taman atau berkeliling blok rumah sakit yang lain sampai tersesat. Aku pernah mengendap menuju ruang pribadi seorang dokter tapi ternyata tak ada yang hebat di situ, hanya catatan perkembangan pasien dengan banyak gambar kurva ‘datar’, stetoskop, jas putih dan benda-benda membosankan lainnya. Petualanganku berakhir ketika aku kepergok mau memakai obat bius dosis tinggi untuk diriku sendiri. Aku pikir menyenangkan. Mungkin lebih menyenangkan daripada aku memakainya untuk orang lain, maksudku melakukannya untuk membunuh orang lain. Kesenangan yang lebih daripada saat aku resmi menjadi ‘malaikat pencabut nyawa’ dua hari sebelum aku masuk kesini.
Aku masih ingat pertama kali bisikan itu masuk ke telingaku. Rumput teki di belakang rumah yang mengatakan “Penjara lebih menyenangkan dari tempat ini”. Aku sangat menyimpan kejadian itu di memoriku karena itulah saa pertama kalinya keinginan itu muncul.
Ayah dan ibuku bercerai saat umurku 5 tahun. Jadi jelas sudah bahwa aku dan kakakku adalah korban broken home. Tapi hal seperti itu tak terlalu hebat untuk membuatku ‘menjadi tak wajar’. Belum.
Aku punya dua orang kakak. Yang pertama umurnya sekitar 17 tahun. Sejak kelas satu SMA dia bisa mencari uang sendiri. Ibu bangga sekali walaupun ibu tahu dia itu seorang ‘bibit’ bajingan yang terlatih. Seorang pengedar narkoba yang pintar mengelak. Setiap hari tasnya selalu berat dengan berkilo-kilo ganja dan shabu-shabu. Setiap hari dia membawa uang banyak. Setiap hari dia tak sekolah. Setiap hari ibu bangga dengannya.
Tapi bukan hanya itu masalahnya, dia itu memang suka sekali berdagang. Perempuan dari Sabang sampai Merauke yang paling berkualitas ada padanya, dia menyalurkan tak kurang dari lima orang perempuan tiap hari ke seluruh negeri dengan keuntungan lebih dari 20 juta. Dia kaya dengan cepat.
Satu hal yang membuatku sangat marah, saat umurku menjelang 14 tahun dia pernah mengatakan “Cepatlah besar dan jadilah cantik. Tuan besar yang tadi itu sudah tak sabar ingin membelimu dengan harga mahal” katanya setengah tak sadar karena habis menghisap ganja yang isunya paling berkualitas langsung dari ladang ganja. Aku hampir tak terima bahwa aku sedarah dengannya. Ternyata dia cepat belajar dari situasi.
Kakakku yang kedua, tanpa rasa enggan sedikitpun aku mengatakan bahwa dia itu ‘pelacur’ tukang peras uang om-om tua yang katanya sekali ‘main’ langsung dapat sepuluh juta. Ibu mengatakan dia contoh yang baik untuk ditiru. Sangat mandiri dan juga cepat belajar dari situasi. Dia juga punya hobi mengoleksi pacar, ‘hobi’ aborsi, pernah over dosis obat kontrasepsi, dan pernah bahkan berali-kali dilabrak oleh ibu-ibu pejabat dengan dandanan menor, lipstik tebal dan gelang emas di tangan kiri dan kanan sebagai perebut suami orang. Sungguh menyebalkan saat aku melihat dia menghadapi itu dengan sangat tenang, puas dan melecehkan. Dia sangat bangga dan menikmati keadaannya yang menyedihkan.
Terakhir adalah ibuku. Setelah ibu dan ayah bercerai, kami semua ikut ibu dan meninggalkan ayah yang dijuluki ibu ‘laki-laki payah penyakitan yang tidak becus menghidupi keluarga’. Lalu ayah meninggal seminggu kemudian tanpa tahu penyebabnya.
Dari awal sudah terlihat jelas bagaimana figur ibu yang kumaksud. Dia bangga dengan kelakuan apapun yang dilakukan anaknya asalakan hal itu menghasilkan uang, karena dia juga seperti itu.
Setiap hari dia membawa laki-laki yang berbeda ke rumah. Kakak perempuanku senang om-om sedangkan ibuku senang brondong. Bayangkan saja bagaimana perasaanku melihat hal itu. Setiap malam dia pulang sambil mabuk di topang seorang pria muda yang tampan yang lebih cocok menjadi anaknya menuju kamar. Lalu kamar sepi sampai pagi. Dia juga menyarankan aku untuk belajar mencari uang seperti kedua kakakku, padahal saat itu umurku belum lima belas tahun. Aku sudah hidup dalam keluarga gila. Berkumpul dengan orang gila. Melihat perilaku aneh orang gila. Sejak umurku lima tahun. Bisa bayangkan itu?
Aku?
Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa yang harus kulakukan. Hari kamis siang, di pinggir sungai seorang laki-laki gemuk yang memakai pakaian berlapis-lapis, dengan janggut dan rambut panjang berantakan menghampiriku.
“Siapa kau?”
“Aku utusan sang kuasa, untuk menyadarkanmu” katanya mantap.
“Maksudmu?”
“Sang kuasa memilihmu menjadi salah satu malaikatnya. Ikutlah dengan kami” dia memberikan padaku sebuah kitab bersampul hitam tanpa desain apapun. Hitam polos. Tak pernah berani aku membukanya, sebelum aku mendengar bisikan dari kitab itu ‘aku izinkan kau melakukan apapun demi kebenaran yang kau pegang. Membunuh sekalipun’. Saat itulah aku mengerti apa yang terjadi.
Aku memang tidak ikut aliran sesat itu. Setelah mereka tahu aku gila, mereka melepasku dan mencari orang terpilih lainnya. Sepertinya ‘orang terpilih’ mereka itu sangat melimpah ruah di dunia ini. Seperti mengambil sebutir beras di lumbung padi.
Masalahnya sekarang adalah bisikan itu. Dia tak pernah berhenti menggangguku. Aku tak berani menyentuh benda apapun yang mengeluarkan suara. Semua di semesta ini, di telingaku mereka mengeluarkan suara.
Sejak itu aku menjadi anak paling menyusahkan di keluargaku. Aku hanya meringkuk di kamar setiap hari sambil menutup telinga. Setiap hari aku melihat orang-oang ‘bertanduk’ lalu lalang dari balik jendela, setiap hari aku melihat kucing-kucing dengan mata ganas seperti ingin memakanku berkeliaran di dapur, setiap hari aku melihat perubahan dari ibu dan kakakku, semakin hari mereka semakin mirip setan ‘di mataku’. Hingga bisikan itu kembali lagi ‘aku izinkan kau melakukan apapun demi kebenaran yang kau pegang. Membunuh sekalipun’. Aku lari dari setiap sudut yang bersuara seperti itu sampai di dapur. Sebilah pisau mengatakan ‘pakailah aku’. Jiwaku panas, hatiku geram. Aku bercermin dan melihat sepasang mata menyala, bersemangat, dan kejam. Aku kenal bagaimana bentuknya. Aku tak pernah bicara omong kosong tentang hal ini.
Malamnya, tepat pukul dua belas. Aku melihat darah berceceran di seluruh kamar, darah di sprei, darah di lantai, darah di cermin, darah di tanganku. Mereka mati bersama di atas kasur bersprei putih. Mayat-mayat itu terbaring dengan mata terbelalak. Perasaan puas terpancar di wajah seorang anak kecil yang memegang pisau yang kulihat di cermin di hadapanku.
‘Aku lulus menjadi malaikat pencabut nyawa, seperti yang mereka katakan’
Aku membiarkan mayat itu selama dua hari, hingga polisi muncul menjemputku seperti tamu kehormatan yang harus dikawal. Sebelum pergi aku sudah membayangkan betapa menyenangkannya penjara disbanding neraka yang aku tinggali selama ini. Sebelum pergi aku mencium bau kamper di sprei putih berdarah itu.
Aku kesal sekali. Bukannya dibawa ke penjara malah dibawa ke tempat bercat putih pucat yang sangat tak menyenangkan. Aroma obat bius tercium di berbagai sudut. Pria dan wanita berseragam putih lalu lalang dengan stetoskop dan senyuman berlebihan mereka, dan yang paling menyebalkan, ketika tiba di kamarku aku mencium aroma kamper ‘lagi’.
Aku pernah bertanya pada seorang perawat “Mengapa aku di sini, bukannya di penjara?”
“Kamu bukan kriminal tapi psikopat. Kamu bukannya jahat tapi gila”
“Aku tak paham” jawabku
Dia hanya tersenyum padaku.
*

Aku menatap sebilah pisau yang tertancap di atas meja dapur. Besar sekali, pikirku. Lalu aku mendengar dia memanggilku. Mungkin menyenangkan bermain dengannya, benda mati biasanya lebih menyenangkan diajak bermain darpada makhluk hidup apalagi manusia yang semakin hari semakin banyak yang ‘bertanduk’.
Aku membawanya diam-diam ke kamarku. Mungkin aku bosan pada keadaan karena aku tak pernah berulah. Aku ingin berulah sekali-sekali. Tetapi jika membunuh lagi, percuma. Aku tidak akan dipenjara, aku justru akan lebih lama terkurung di sini.
Mungkin jika aku membunuh ‘malaikat pencabut nyawa’ milik ‘sang kuasa’ aku akan dihukum lebih berat. Meskipun aku berpikir tetek bengek sang kuasa dan lainnya itu hanya omong kosong. Memercayainya demi kesenangan seru juga.
Aku mulai berpikir keras. Bagaimana cara terbaik memulainya. Harus cepat sampai atau yang lambat saja agar aku bisa menikmati perjalanannya sebelum sampai. Ah terserahlah, yang penting aku sudah yakin hari ini adalah tugas terakhir ‘malaikat pencabut nyawa’ milik ‘sang kuasa’. Entah bagaiamana jadinya setelah ini. Aku tak peduli lagi.
Tiba-tiba aku melihat darah di tanganku. Bau kamper yang semakin keras. Suara-suara tak wajar yang tertawa padaku. Akhirnya aku dapatkan kesenangan yang aku cari…
*

HARIAN PAGI
Seorang pasien sakit jiwa di rumah sakit jiwa seruni ditemukan mati bunuh diri dengan pisau. Kondisinya sangat mengenaskan, dalam keadaan nadinya yang putus. Menurut keterangan dokter dia adalah pasien penderita phobia berat yang takut dan memandang buruk akan segala sesuatu. Kemungkinan besar hal itulah yang membuatnya frustasi dan mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya di atas kasur bersprei putih dengan aroma kamper yang sangat keras. Bau orang mati.

***

Jumat, Agustus 08, 2008





Assalamu alaikum....
Ni Sari lagi... mau ngasih tau cerita-cerita tentang anak-anak yang jadi duta Kalsel buat kongres....

First time ya aku lah.....
Nama Sari Dianita Purnama, 16 Tahun sekarang, kelas tiga SMA, suka Biru dan tentu Micky love u love u love u so much.........................
Buka gih fb Q di saridianita_yc@yahoo.com (cieileh promosi lagi....)
Makhluk Banjarmasin asli, anak SMASA Bjm.... kelas XII IPA 1 sekarang low...

Yang kedua... namanya M. Agi Ramadhan(Agi sorry kalo namanya salah)... kelas XII IPA 2 sebelahan sama aku.... he!!! Yang lain-lainnya q gak mw bocorin dey.... nanya Agi dulu, kalo perlu dan penting aku posting deh.... (kayaknya gak penting deh)

Lalu... Novita Arini.... cewek Pleihari... SMASA pleihari kelas XII IPS... cantik, lucu, dll... udah itu aja... (ah pelit, sok tau...)


Mbak dewo.... He ... Dewi... kenapa aku kangen terus sama kau.... orang Tanjung yang terakhir kulihat dia nge Bengkulu banget logatnya... entah masih atau gak ... bu aku lupa nama lengkapmu bu.... mmmm fs mu q publish sama orang-orang kurang kerjaan yang baca blog q ni ya.....
D_wees@n.com. Pecinta Conan nie...... buka aja fs nya kalo mau tau tapi dilihat dari keadaan fs nya, kayaknya ni anak pemalas dalam masalah ngutak atik komputer....

Terakhir.... cowok aneh, culun, gak interest tapi narsisnya selangit, cowok dengan durasi mandi terlama yang pernah aku tahu, dan paling boros lotion antinyamuk. Gila....... nama : M. Iqbal Arief. Bahkan namanyapun kayaknya terlalu bagus untuk orang kayak dia.... udah nama aja cukup. Kalian akan berterima kasih padaku karena membuat kalian tidak mengenalnya terlalu jauh......

Sumpah deh.... mereka rame.......
Seperjuangan jadi seru.......

Udah ya... dahhhhh..... bye..... hore......

Ngomong ngomong.... aku pengen banget posting tentang dong bang shin ki nieh, tapi apa... postingan mereka di blog-blog tetangga udah terlalu banyak... aku kan gak mau terlalu banyak copy paste.... gak baik buat kesehatan...... ntar lah kupikir-pikir seuaru yang orisinil, yang gak pernah aku baca di blog tetangga..... walaupun itu hampir tidak mungkin.... secara korea dan banjarmasin jauh jadi gak bisa se up to date internet deh diriku ini............. wassalam semua......

Acara puncak, pembacaan hasil kongres Anak Nasional VII 2008 di TMII pada 23 Juli 2008, hari Rabu.


Suara Anak Indonesia 2008

Pada hari ini Selasa, 22 Juli 2008 bertempat di Kinasih Resort Bogor kami anak Indonesia melalui Kongres Anak Indonesia VII 2008 merumuskan aspirasi dan pandangan kami

  1. Kami anak Indonesia bercita-cita menjadi anak yang kreatif, cerdas, berkualitas dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan eksploitasi penelantaran dan diskriminasi.
  2. Kami anak Indonesia membutuhkan perlindungan dari bahaya tembakau agar kami dapat bertumbuh dan berkembang secara wajar.
  3. Kami anak Indonesia bertekad untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran cara hidup sehat, hak kesehatan reproduksi agar kami terhindar dari bahaya penyakit menular HIV dan AIDS serta penggunaan NAPZA
  4. Kami anak Indonesia bertekad mempersatukan anak bangsa yang berada di daerah terpencil, daerah perbatasan, daerah terisolir dengan adanya dukungan sarana dan prasarana yang memadai
  5. Kami anak Indonesia bertekad untuk menyuarakan aspirasi kami melalui Forum Anak Daerah yang akan ditindaklanjuti melalui Kongres Anak Indonesia secara berkelanjutan sebagai wadah saling berbagi informasi dan pendidikan demokrasi yang santun sejak dini untuk membangun solidaritas anak bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Atas nama anak Indonesia




video

Hai.... semua.... laskar IPA 1(cie... laskar... apaan tu).. gak becanda.... kita, beberapa anak-anak IPA 1 mau bikin YCM Group..... yaitu Young ChangeMAker group. Kelompok orang muda untuk membantu orang muda.... simple. Kami perlu doa kalian agar YCM bisa benar-benar lahir normal dengan rencana kerja bagus nantinya....

Bukan sesar, bukan prematur, atau teralu lama dalam kandungan sehingga kepalanya terlalu besar untuk dilahirkan......

Doanya yah........ mari kita bantu anak-anak muda ... di negara ini... ye......

By : sari YC

Gie CM

Tia YH

Pasukan pecinta damai, anti tenbakau, anti global warming n sangat cinta TVXQ...

Share and together is not just teory, but with action.....

Kya..... hampir ingkar janji buat posting kongres anak ya... bies sibuk banget sieh, kan udah kelas tiga... cieeee...

Uopssss.... Assalamu alaikum

Kongres anak nasional 7 2008 seru./......

Nginepnya di Resort Kinasih..... gedung Melati....

Hari Minggu kami semua melalui perjalanan panjang dari jam 7 sampe jam 2 siang, trus bagi-bagi kamar deh... aku seruangan sama anak Banten,, Hai Dea.... juga sama Kristin anak Bali... Hai Kris.... mereka semua baik deh!!!

Hari Minggu 20 Juli kita semua dikasih waktu buat perkenalan, seru deh dari kelas 6 SD sampe 3 SMA ngumpul akrab kayak satu keluarga. Sok kenal semuanya, tapi bagus kan... jadi akrab gak sok.... he.. malah Curhat!!!

Senin pagi kita semua diajak dialog pagi tentang rokok dam global warming, trus dilanjutin sama pembukaan KAI 7.

Sore itu dengan perdebatan panjang (CIEileh, lebay)... akhirnya diputuskan beberapa kebijakan tentang peraturan rapat dan lain-lain......

Malamnya pembagian komisi, seperti yang telah aku bilang aku dapet komisi kesehatan HE... ^_^.. seneng juga!!!!! Walaupun sempet mati gaya dan hampir shock culture... tapi alhamdulilah selamat.......

22`juli hari Selasa barulah rapat perkomisi dimulai. Kebetulan komisi kesehatan rapatnya di saung anggrek... enak banget tempatnya ...

Banyak yang dibahas saat itu, intinya ya tentang kesehatan anak-anak Indonesia. Juga terjadi perdebatan panjang yang mau gak mau harus dilewati. Sumpah deh, kalo gak punya mental minimal baja, gak bakal kuat deh... bukannya nakutin, emang kenyataan kok....

Gini deh, mereka dan kita kan baru ketemu dan berteman. Tapi siapa yang tahu? Kita gak tau sifat mereka, niat mereka, dan seperti apa mereka memandang diri kita.bukannya ngajak sudzon tapi berhati-hati. Berhati-hati yang bijaksana dong (cie.... mulai deh dramatis) gak kok, biasa aja.......

Kembali ke point....

Rapatnya standar sih, kasih pendapat, trus ada yang ngasih pendapat lain, trus ada yang gak setuju, lalu adu argumen, bedanya cuma, waktu yang diperlukan lebih panjang.

Finnaly, setelah draft tentang masalah kesehatan selesai, tinggal presentasi aja dey... semuanya juga dirangkum lagi oleh kelompok kecil yang nantinya akan jadi suara anak Indonesia secara keseluruhan dan ditandatangani oleh sepuluh duta anak nasional (nanti deh hasil suara anak Indonesia, dan hasil rapat komisi kesehatan aku posting. Toh gak da larangan publish yap).

23 Juli hari Rabu. Wah pagi-pagi udah berangkat. Kira-kira jam 6 an waktu Bogor, kami semua berangkat dengan bis ke TMII, buat ngeliat dibacakannya hasil kongres yang selama ini kami lalui, disaksikan oleh pak SBY... akhirnya bisa ngeliat pak presiden secara langsung. Bukan cuma pak presiden sih, kami juga bisa ketemu bapak menteri sosial, kak Aris merdeka, Ka Seto, dll.... kalo gak salah Alysa juga ada deh, ah lupa ah........

Acaranya gak lama sih. Pidato dari Presiden, Operet anak asuhnya kak Seto, pembagian penghargaan langsung oleh presiden (Videonya ada kok, ku taroh d page, liat aja), dll.....

Sehabis itulah yang gak akan terlupakan. Dufan gratis bo. Aku sama anak Kalsel yang lain nyobain semua permainan ekstrem. Pertama kali nginjek Dufan langsung naik halilintar, gila deh. Tapi lumayan... (perlu gak sih diceritain.../ oke lah perlu, suka suka gue dong.^_^) abis naek halilintar langsung menyerang tornado ha ha ha, bies tu niagara-gara, jet cooster, arung jeram, basah bo, rumah jahil yang bikin nyasar gila, rumah ajaib yang super miring... tapi gak masalah deh, soalnya kalo rumah miring kayaknya kenal deh, (Uopss..... >_<) Becanda kakak...... Kora-kora gak boleh ketinggalan dong, trus terakhir yang paling enjoy tu bianglala deh, sambil liat pemandangan ....

Selesai segalanya, kami semua pulang... macet... hujan.... dingin.... badan basah.... menggigil.... alhasil malamnya pas malam budaya... banyak yang pada sakit.... aku sih sakitnya tertunda hingga malam budaya selesai... malam budaya itu, anak-anak kongres beberapa propinsi yang mendaftar dipersilahkan menampilkan kebudayaan khas daerahnya masing-masing... macammacam. Ada yang nyanyi, ada yang nari, ada yang drama, seru deh pokoknya (videonya ada sih tapi gak lengkap, amatiran pula. Gambarnya jadi gak jelas. sorry)

Aku malam itu juga mestinya make baju galuh banjar(pakaian khas banjarmasin), dan anak siluman gila yang tepar enak-enakan tidur di sebuah kama di lantai 4 seharusnya make baju nanangnya(sama, pakaian khas), tapi gila aja dia sakit di saat yang gak tepat (sialan, gue jadi janda deh.... Grrrrrr.... angry nieh)... sebenarnya marahnya bisa terobati kalo aja aku liat dia besoknya terkapar dengan wajah pucat dan menyeret badan tak mampu berdiri karena sekarat. Tapi ternyata dia malah sehat wal afiat.... tambah marah deh. Parahnya lagi besoknya malah aku yang nyusul sakit... tapi ssstttt diem ya, aku gak bilang-bilang kalo lagi pusing berat.... huek-huek... yah bocor deh rahasianya!!!!

Setelahnya kami semua pulang..... bermalam semalam di LPA (cuma aku sama Dewi, yang lain pulang duluan)... besoknya habis sarapan.... dadah dadahan deh.... ha......

Tapi kami semua gak cuma berhenti sampe disitu aja.... masih ada something yang mesti dilakukan.... entah apa itu.... Anak-anak Kalsel... I’m Home. Temen temen di sekolah I’m back to school. Gie changmin, Tia yunho, dengarlah Rie Yoochun kembali mencanangkan benderanya di negara IPA 1.... berhati-hatilah.....

(Habis ini.... anak-anak kongres KALSEL. Hey kalian akan masuk Blog orang narsis who....)

Jumat, Juli 18, 2008

KONGRES ANAK INDONESIA VII (2008)

Assalamu alaikum
semua....
Hwa... sibuk ngepak neh....
YH, nge net aja seharian... CHM jalan ke mall tarus... ah tidak perlu mengelak. Aku tahu dengan jelas... ENAK BANGET SIH...
BTW, aku mau minta kesempatan menyombongkan diri sebentar yah...
Besok LUSA HARI MINGGU mau berangkat ke Jakarta... wah senangnya!!! He.....
Watashi wa wakil kalsel buat kongres anak (huu... sombong)
......
Tujuanku sebenarnya adalah mau cerita soal kongres, bukannya menyombongkan diri gitu!!! Yang di atas itu cuma pembukaan aja. Gak di baca juga gak apa-apa
(Iya, pengennya tadi gak dibaca. Tapi letaknya paling atas, trus deket judul mau gak mau kebaca. Hweeekk.. MUNTAH)

ISI SEBENARNYA...
Gini loh. Tanggal 23 Juli 2008 ini kan Hari Anak Nasional, nah maka dari itu. Beberapa perwakilan anak seluruh Indonesia ngumpul di satu tempat untuk membicarakan masalah apaan aja yang lumayan berat yang terjadi di kehidupan anak sekarang. Dari anak-anak yang gak dapet pendidikan layak, pekerja anak, anak-anak yang kurang diperhatikan orang tua, yang moral dan sosialnya gak ideal, korban KDRT atau kekerasan lain, masalah kesehatan anak yang kurang terjamin, produk-produk yang kurang pantas dikonsumsi buat anak, pokoknya tentang pendidikan, jaringan, perlindungan, kesehatan dan partisipasi anak.
Seneng kan anak-anak diperhatiin....
Ntar masalah yang udah dapet simpulannya, disusun dengan baik dan diajukan pada pemerintah (detailnya gimana sih belum tau. Kan belum ngejalanin. Ini pertama kalinya aku ikutan sih)...
Di kongres itu juga ntar akan dipilih Duta Anak Indonesia... (HWAAA.... PENGEN, DOAIN PLEASE.....) yang nantinya bertugas....mmmm.... ya jadi dutanya anak Indonesia, berhubungan keluar, mewakili suara anak Indonesia, dll deh.
Tunggu yah aku ngebayangin dulu..... kegiatannya mungkin, di sebuah aula yang luas, berkumpul anak-anak dan remaja yang bersidang untuk mambahas beberapa masalah. Seru lah pokoknya......
MMMM...... APA LAGI YAH????
TO BE CONTINUED AJA DULU DEH.....
Ntar kalo udah selesai, aku cerita detail.... (boleh gak ya. Pasti boleh. Masa gak boleh?. Boleh pasti).....
Tia YunHo, Anggi Chang Min. Commentnya yang banyak dan yang bagus ya??? Trus FSq.... KIRIM TESTEA YANG KEREN...... YAP!!!! GIF YOO CHUN!!!! HARUS KUDU. OKEH....
SAYONARA.....

Kamis, Juli 17, 2008

NYAPA

HAI......
MUNCUL DI MALAM YANG DINGIN... SEORANG YANG MMMM......
MAU NYAPA SEMUA .... YANG BUKA BLOG NE.. THANX.....

SEPULUH PENGAKSES PERTAMA DAPET DOOR PRIZE UCAPAN TERIMAKASIH LIMA CONTENER DEH.... THANX THANX THANX....

HUOOOOIIIII.........

GIE_CHANG MIN
TIA YUNHO...

NE SARI_YOOCHUN NGUCAPIN HELLO.....

DAN GUBAHAN DRAMA JADI CERPEN PERTAMA NIH..... PADA MAU POSTING JUGA GAK???? HE.... HWAHHH.. NGANTUK...

BYE DEH..... CLING!!!!! ^_^

SILUET MIMPI (agak panjang>_<)

Perlahan dia memejamkan matanya tanpa keraguan sedikitpun. Kelopak yang mati rasa itu dengan cepat memadamkan pandangan hidupnya. Pandangan hidup berupa lingkaran cincin bulan, rumpun mawar segar, hijaunya bonsai kecil yang tertanam di atas pot hitam, birunya langit yang jatuh menjangkit ke laut hingga laut ikut membiru, dan warna putih sebuah kamar mungil bersih dengan lampu jingga redup di malam hari. Pandangan hidup yang sesungguhnya enggan untuk ditinggalkannya.
Tak butuh waktu lama hingga pandangan hidup itupun telah digantikan dengan pandangan hidup lain yang samar, berkabut kelabu, dan…….. hanya berselang beberapa menit semua itu jelas di hamparan pandangannya. Sebuah pemandangan gersang tanpa batas di sekelilingnya dengan diselingi kabut basah yang mengganggu kulitnya….. dalam waktu singkat dia dapat memberi judul pada pemandangan yang disaksikannya, pemandangan berjudul “KOSONG”.
Tubuhnya kaku, seperti baru berubah dari wujud solid keras berupa batu menjadi makhluk koloid bernama manusia. Dia menengadahkan kepalanya, mengurut lehernya perlahan, pegal sekali. Setelah rileks barulah dia bisa menyapu sekelilingnya, lukisan hebat yang tergambar di permukaan pupilnya yang basah.
Padang pasir berbingkai udara terbentang luas di atas dia duduk, sebuah pohon beringin besar mongering dan menyendiri di sudut kanannya dalam jarak yang tak terkirakan. Dia memutar pandangan ke kiri, kosong, hanya hamparan pasir, kabut, debu, dan tak ada matahari, bulan, bonsai, mawar dan tak ada pandangan hidup di tempat itu. Satupun.
“Di mana matahari?, di mana bulan?, malamkah ini?, siangkah ini?” berbagai pertanyaan mulus meluncur dari bibirnya tanpa ada pikiran untuk mendapatkan jawaban dari siapapun, tak ada seorangpun disana. Matanya menyapu pandang ke sekeliling tanpa mampu berdiri, kakinya membatu diam, tak bisa bergerak sama sekali.
“Tak sadarkah kau sedang berada di mana sekarang ?”
Desiran lembut si angin pembawa suara halus berlalu di bawah telinganya, angin itu membawa sebuah pertanyaan yang muncul dari tempat yang sangat jauh, “Wahai Putri, tak inginkah kau tahu, sedang berada dimana kau sekarang?” manis sekali suara yang menusuk telinga itu. Jelas bukan suara manusia.
Kepalanya yang hanya mampu berputar sejauh delapan ratus derajat tanpa mampu menggerakan bahkan menggeser sedikit saja posisinya sangatlah mengganggu. Dia menyapu pandang kembali seadanya, tetap gurun, tetap kabut, tetap beringin kering yang jauh disana sendirian, dan ini jelas bukan sebuah pandangan hidup. Bukan juga pandangan selain hidup. Bukan pula pandangan mimpi. Kekosongan yang tak terkira, dan ada suara berbisik antara kekosongan itu. “Siapa itu?” serunya dengan tak tenang.
Angin kencang menerpa gurun, menerbangkan jutaan partikel pasir, menciptakan badai pasir yang amat kencang, membakar pohon beringin kering, namun badai itu tak menyentuh tubuhnya sedikitpun. Tidak sedikitpun. Matanya menatap nanar pada api yang menyala dari kejauhan yang tampak seperti rumpun bunga jingga menari-nari dan api itu tak pernah mau padam sebelum dipadamkan.
“Apakah kau takut, Putri” bisikan manis itu kembali lewat, dia mencari-cari ke setiap penjuru yang mampu dia capai. Pasir belum hilang dari udara, kabut basah yang tadi mengganggu kulitnyapun mulai gatal tercampur dengan debu pekat. Pandangan kabur itu kembali,…. Selang beberapa menit udara kembali bersih, dan sebuah siluet biru bercahaya muncul di hadapannya.
Pupilnya yang basah itu menangkap seonggok tubuh tegap yang berdiri dengan rambut hitam, lurus dan wajah oriental, matanya yang biru menatap tajam dan menanam kesan di hati Putri.
“Kau” seru Putri tanpa berpikir, bibir mungil itu seperti bergerak sesuai keinginannya, tak terkendali oleh Putri. “Mengapa kau baru muncul, aku lelah menunggumu disini”
“Maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu menunggu, aku tak bermaksud membuatmu membatu sendiri disini. Aku lupa, aku terlelap dengan mimpi. Maaf Putri!” wajah lelaki itu terlihat sangat mengiba di balik kabut basah yang kembali seperti semula. Badai pasir tadi seakan hanya sebuah sensasi penyambutan seorang lelaki bercahaya biru yang akan muncul, dan ketika itulah dia baru sadar bahwa tubuhnyapun memancarkan kilau putih yang cukup menyilaukan. Matanya menerawangi tubuhnya sendiri, gaun putih mencolok. Dia seorang Putri, sesuatu yang terlambat disadarinya.
Lelaki biru itupun membungkuk untuk menyetarakan posisi pada Putri yang tak mampu bergerak sedikitpun. Dia mengulurkan tangan pada Putri
“Ikutlah bersamaku, Putri”
Putri hampir menyambut uluran tangan itu, ketika tiba-tiba seorang gadis bercahaya biru muncul di belakang lelaki itu, menghentikan mereka.
“Hentikan Biru” serunya nyaring.
Putri menatap gadis itu dengan seksama, seorang gadis bergaun biru, rambut pirangnya yang lembut menjuntai ringan di kepala, tatapan mata menusuk yang sangat ramah, dan sayap basah yang sepertinya terbuat dari awan. Warna, sikap, dan tubuhnya benar-benar tak akan mampu menyatu dengan gurun gelap berkabut yang tetap kosong walau kini diisi oleh dua mahluk yang, entah dari mana.
“Apa yang kau lakukan Biru, kau mau pergi dariku ?. Tak akan pernah bisa!”
“Tapi…..” kalimat Biru terputus, tercekat di tenggorokan, sesuatu yang melarangnya bicara lebih jauh.
Putri menatap ke arah lelaki bernama Biru itu, dia membalas tatapan mengiba yang baru saja dilemparkan Biru ke mata Putri sesaat sebelum gadis pirang itu muncul.
“Siapa dia Biru” kembali Putri menyuarakan hal yang tak ingin dia ucapkan, bukan itu yang ingin sekali dia ungkapkan sedari tadi. Ada hal lain, tapi apa? Entahlah.
“Aku mimpinya” sekejap si gadis pirang menyambar jawaban yang seharusnya terungkap oleh mulut Biru. Jika Putri tak salah lihat, mata gadis pirang itu terlihat menyala seperti bunga jingga menari-nari, seperti api pohon beringin kering yang terbakar, yang tentu saja tak akan padam sampai kapanpun.
“Bagaimana bisa? Biru tak pernah berpikir tentang kau sebelumnya, tak mungkin kau menjadi mimpinya begitu lama” Putri setengah berteriak mengucapkannya, dia merasa tak percaya dengan setiap patah kata yang keluar dari gadis pirang yang menamai dirinya “mimpi” itu.
“Ayolah anak manis” jawabnya angkuh “aku ini mimpi, di dunia nyata dia hanya ingat kau, tapi di mimpi dia milikku, dia hanya memikirkanku, jadi jangan berharap banyak”.
Dahi Putri mengerut, sesuatu berkilau dari sudut matanya.
“Benarkah itu Biru?” tanyanya sambil memutar pandang ke arah Biru.
Sesuatu yang amat mengecewakan, karena ketika itu dia hanya mendapati seorang Biru memalingkan muka tanpa menjawab sepatah katapun. Tak mampu membela diri, tak mampu memberi alasan, tak mampu berbohong.
“Jadi semua itu benar” gumamnya sedih. Dia kembali merasa sunyi, semakin sunyi, kehadiran dua makhluk bersiluet biru itu, tak meramaikan pikirannya yang tersesat lemah tak mampu bergerak di padang gersang yang tetap kosong.
“Lihatlah dia, dia begitu senang berkutat dengan mimpi, dia suka aku. Cobalah bermimpi sekali saja, bermimpi itu indah, jika kau suka bermimpi, pandanganmu tak segersang ini” aksen merendahkan dari nada bicara gadis pirang itu sekarang semakin mengental. Mungkin itu ciri khasnya, seorang antagonis. Matanya tetap membara, tetap bersemangat, tetap jahat dan meluluhkan.
Mungkin kali ini Putri menganggap dia memiliki kesempatan untuk membentak ketika mengucapkan “tidak akan” dengan keras, tapi makhluk biru bersayap itu tak cukup baik untuk tersenyum sendirian, mimpi tak pernah sendirian, mereka selalu memiliki teman.
“Tidak? Bagaimana bisa kau menolak, lihatlah mimpimu! Dia menunggumu sejak lama” mimpi itu menunjuk ke belakang Putri, dia mencoba menoleh ke arah yang tak mampu dia capai karena keterbatasan pergerakan. Namun kali ini berbeda, tubuh Putri meringan, amat ringan. Tubuhnya berbalik dengan mulus menatap seorang lelaki berambut hitam, berpakaian putih dengan siluet putih menyilaukan. Matanya yang sangat lembab seakan-akan terdiri dari berlapis-lapis lensa mata menatapnya dengan tatapan seseorang yang lelah, seseorang yang baik, seseorang yang akan bilang aku akan membahagiakanmu, seseorang dengan sayap bulu putih yang beterbangan seperti debu kelabu serupa pasir. Cahaya matanya amat menyakitkan di mata Putri, mengubah semua pandangan kosong yang tadi ditangkap oleh pupil lembabnya.
Kini pandangannya berubah, tetap padang gersang namun tak kosong. Tetap pohon beringin kering yang terbakar sendiri seperti rumpun bunga jingga menari-nari namun tak hanya di sudut kanan pandangannya. Di depannya dia melihat hamparan laut biru yang sangat menggiurkan, di samping kirinya dia melihat ribuan jam pasir terbengkalai. Ada yang terkubur, ada yang berdiri tegak, namun tak satupun berfungsi. Di atas kepalanya dia melihat jutaan burung merpati putih berputar-putar menghipnotis matanya yang mulai ikut berputar. Di balik api jingga dari pohon beringin dia melihat selapis cahaya putih terang seperti ada sepuluh juta lampu neon yang menerangi ruang di balik pohon beringin. Di padang pasir yang menopang tubuhnya, dia menyaksikan puluhan selendang berhamburan dari ujung kiri batas pandangannya, hingga sudut kanan batas pandangannya. Tak cukup itu saja, di balik kabut dan debu kelabu yang dihamburkan oleh sayap lelaki itu, sedikit demi sedikit terlihat pintu-pintu menancap miring di atas pasir, terbuka dan tampaklah lingkaran hitam berputar-putar tak beraturan di baliknya. Kejadian terakhir yang benar-benar tak mampu lagi membuat Putri terdiam dengan kegaduhan ini adalah ketika rumpun bunga jingga yang menari-nari menggandakan diri, menjadi hutan bunga jingga yang menyala panas di atas pasir. Tak ada lagi kekosongan yang patut dipertanyakan, ruang itu penuh, penuh dengan hal yang tak jelas.
“Kau, siapa kau. Mengapa aku merasa begitu mengenalmu?” kini suara yang tak bisa keluar untuk takjub akhitnya hadir juga. Dan dia melontaran pertanyaan dengan amat berkesan. KETIDAKTAHUAN.
“Aku ini mimpimu Putri, ikutlah bersamaku. Bersamaku kau tak akan lagi merasakan yang namanya menunggu, diam, dan membatu seperti sekarang” ucapannya sangat meyakinkan, berbeda sekali dengan aksen gadis pirang, mimpi yang satu ini terlihat “baik” dan lebih pandai.
“Tidak akan” Putri berteriak lagi, dia semakin frustasi dengan situasi ini.
“Tapi, kau tak bisa menolak. Sekarangpun kau sedang bermimpi, kau hanya tinggal ikut aku” nada bicara lelaki bersayap putih itu sungguh lembut, mengiba dan tajam. Dia mendekati Putri perlahan, berlutut di hadapan Putri lalu mengulurkan tangan pada Putri persis seperti yang dilakukan Biru tadi, sebelum Biru kehilangan suaranya, sebelum dia kehabisan bahasa.
“Ayolah Putri ikut aku” serunya.
Sambutan uluran tangan itu akhirnya tertolak ketika suara Biru kembali dan berucap dalam “Tidak Putri, aku tak bisa kehilanganmu lagi, aku tidak bisa…”
“Dan kau tak akan bisa kehilanganku Biru, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, ingat itu” Gadis pirang berteriak sesuai aksen dan kebiasannya dalam berbicara, kejam, merendahkan dan senang menyambar.
Bentakan-bentakan dan suara mengiba yang menjadi satu di telinganya mengguncangkan kepala Putri, untuk pertama kalinya Putri bangkit, berdiri sambil memegangi kepala dengan erat. Dia melayang di atas pasir, berputar, pusing, dan tertekan.
“Tidak, aku tidak mengerti, aku tidak kuat, aku…” Putri limbung di pasir kelabu. Kediaman menyelimuti ruang sesaat. Hingga Biru memecah kesunyian.
“Apa yang kalian perbuat pada Putri?, apa?” Biru berteriak sekeras yang dia mampu, namun suara itu hanya masuk seperti frekuensi terbang seekor gagak di telinga mereka yang sepertinya hanya replika. Semua pihak ragu mereka benar-benar memiliki telinga.
“Apa lagi? Tentu saja membuatnya bermimpi, agar aku bisa bersamanya selamanya” sahut lelaki bersayap putih dengan nada lembut dan kejam.
“Tidak akan kubiarkan” jawab Biru mantap namun penuh ketakutan.
“Kau tak akan membiarkan apa hah” suara kecil pecah yang beraksen merendahkan itu langsung mengguncang hati Biru, menyadarkan Biru akan ketidakberdayaannya di sana “Kau bahkan tak mampu berbuat apapun, kau lemah, kau hanya perlu aku” sambungnya.
Otaknya bergetar hebat mendengar kalimat itu. Kalimat yang seperti mantera, perlahan meluluhlantakkan kesadarannya, memberikan pandangan berputar yang luar biasa dan dapat ditebak bahwa diapun limbung bersama ketegangan yang belum bisa diregangkan kembali.
Keheningan kembali menguasai alam gersang itu hingga dua sosok perak muncul dari balik kabut.
“Apa kita terlambat Rama?” tanya seorang gadis yang baru saja muncul
“Entahlah Mala” jawab lelaki bernama Rama itu. Dia membalik pandangan pada dua mimpi berwajah kejam, jahat, dan memikat di dekat dua tubuh tak berdaya di atas pasir. “Hey apa yang kalian lakukan pada mereka”
“Heh, aku bosan dengan pertanyaan itu, pertanyaan bodoh” sambutan gadis Biru itu sama seperti sebelumnya, melecehkan “Kami hanya membuat mereka bermimpi” sahutnya sambil tersenyum sinis.
“Mungkin sekarang mereka sedang menikmati mimpi mereka bersama kami” lelaki bercahaya putih menyambung. Terlihat sekali bahwa dia tak pernah mau ketinggalan untuk menyiksa hati seseorang dengan kelembutan bicaranya yang tak pernah bisa ditolak ataupun tak diacuhkan.
Kemala maju menuju tubuh Putri yang teronggok lemah seperti mayat, lalu menyentuhnya dengan sekuat tenaga “Putri bangun”, teriaknya dan seperti mantera, perintah itu langsung terlaksana. Putri bangun seketika dengan espresi takut dua kali lipat dari sebelum dia pingsan.
“Kau, siapa lagi kau. Mengapa begitu banyak orang asing yang menarikku” sambar Putri sambil ketakutan dan merangkak mundur dari Mala.
“Aku bukan orang asing Putri, bersamakulah kau seharusnya, akulah kenyataanmu Putri” gadis bernama Kemala itu dengan keras berusaha membujuk Putri yang sangat bingung dan tak mengerti situasi yang mengelilinginya.
“Putri, aku tahu kau bermimpi indah, relakah kau melepas mimpi itu demi secuil kenyataan menyakitkan ini Putri? Lebih baik kau ikut aku. Aku akan membawamu bermimpi indah selamanya Putri, kau mengerti arti selamanya kan?”
“Jangan Putri, dia hanya mimpi, dia tak nyata, dia merampas waktumu”
Lelaki bercahaya putih mulai bergerak kembali, mendekati Putri dan mengulurkan tangan penuh kepalsuan. “Ikutlah bersamaku, bersama mimpi”
Mala lalu menghampiri Putri secara perlahan, dia mengulurkan tangan pada Putri. Putri mengangkat wajahnya, menatap telapak tangan putih milik gadis perak bernama Kemala itu dengan seksama. “Ikutlah bersamaku Putri” sambungnya lagi.
Putri menatap keduanya bergantian hingga kepalanya pusing. Dia lalu menunduk dan membenamkan kepala diantara lutut yang dipeluknya erat dipermukaan dadanya.
“Tidak, aku tidak sanggup” suara Putri tertahan hingga dia menumpahkan air bening dari sudut matanya, air mata ketakutan.
“Kaupun harus bangun Biru” sambut lelaki perak bernama Rama. Dia menyentuh Biru hingga Biru bangun dan menatapnya nanar dalam kegelisahan yang tidak jelas.
“Kau, kaukah yang membangunkan aku? Siapa kau?”
“Aku kenyataanmu Biru, kenyataanmu yang jujur”
“Bagaimana dengan Putri?” Biru menyisir pandangannya, dan melihat Putri menelungkupkan wajah diantara lututnya dari kejauhan. Dia melihat Putri dalam jarak yang sangat jauh, namun terlihat jelas oleh perasaannya bahwa Putri menangis.
“Putri, dapatkah kau mendengarku Putri” teriak Biru, namun disana teriakannya itu tak lebih keras dari dengungan merpati di atas kepala Putri.
“Dia tak akan pernah mampu mendengar atau merasakanmu Biru” sahut gadis pirang bermata jingga itu dengan mantap.
“Apa yang kaulakukan padanya” Biru mulai putus asa, keraguan semakin menjilati hatinya ketika dia membuktikan sendiri bahwa dia lemah di hadapan mimpinya yang hanya seorang gadis pirang kejam yang hanya bisa bicara pedas.
“Aku tak melakukan apapun, dia hanya sedang memejamkan mata. Sekarang kau tahu kan rasanya” jawabnya. Biru mengernyitkan dahi.
“Ini yang dia rasakan ketika kau bersamaku, ini yang aku rasakan saat kau bersamanya dan ini pula yang mimpi Putri rasakan ketika kau dan Putri bersama, sekarang kaupun tahu rasanya” bentak gadis pirang bermata pijar.
“Hentikan permainan ini, apa yang kau inginkan. Kau ingin membunuku?” Biru mulai kesal dan membuncah marah pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Rama tak bisa berbuat apapun selain menatap iba atas ketidaksadaran Biru akan situasinya, bahwa tak pantas dia marah pada sesuatu yang merupakan bagian dari dirinya sendiri. “sudahlah Biru, apa yang kau lakukan. Marah pada mimpimu sendiri. Kau justru membuatnya semakin nyata, dan asal kau tahu dia tak berniat membunuhmu, dia ingin menjadikanmu mimpi seperti dia yang kesepian”.
Biru menatap kedua orang itu bergantian, hingga pada detik terakhir dia menangkap teriakan keras luar biasa dari kejauhan, dari arah seorang gadis yang membenamkan kepala sendiri di padang gersang.
“Aku tidak bisa, aku tidak tahan, aku bisa gila kalau begini….” Teriakan keras itu terbawa angin hingga posisi Bitu berdiri. Putri bangkit dan berputar, dia lalu mundur selangkah demi selangkah, terus mundur dan menjauh. Lalu lenyap tak berbekas, Putri telah hilang dalam jangkauan mata Biru, mereka terpisah di satu ruang tanpa batas, akankah aku bisa menemukannya lagi…. “Putri mana dia, mengapa dia menghilang?” wajahnya penuh peluh, membiru, persis makhluk sekarat yang tak sabar memaksa Tuhan mencabut nyawanya yang tergantung di tenggorokan. Dia mundur beberapa langkah, terus mundur dan jatuh ke dalam pintu lingkaran hitam bergravitasi besar. Biru tertarik kedalamnya bersama mimpi dan kenyataan yang setia mengejarnya.
“Dia masih ada disini Biru, sangat dekat, hanya saja mimpi telah membatasi kalian”
“lalu bagaimana caranya aku bisa bebas”
“hanya kau yang tahu caranya”
Jawaban itu seakan memaksa Biru untuk pasrah, tapi dia bukan orang seperti itu, dia lalu memejamkan mata, membayangkan replika mimpi sebenarnya, mimpi yang lemah, mimpi yang tak nyata, mimpi yang tak punya kenangan berharga. Mimpi, dia bukan apa-apa.
*
Putri masih bertahan dengan posisi meringkuknya, bahkan setelah dia menemukan sebuah benda yang mampu menumpu punggungnya untuk bersandar. Sebuah jam pasir raksasa yang setengah terkubur, beraroma mawar, salah satu pandangan hidup yang dia rindukan. Dia terlihat tak punya niat mengangkat kepala dan menatap kedua makhluk yang dengan rela mengikutinya kemanapun, ke ruang berpendar debu yang tak jelas.
Sesosok makhluk muncul lagi, tubuhnya tegap dan gagah tertutup jubah hitam panjang yang menutup hingga kepalanya, hanya cahaya matanya yang tajam yang terlihat dari balik kegelapan di seluruh tubuhnya.
“Hentikan, biarkan dia sendiri, berikan dia waktu” suara lelaki itu besar, serak, dan menggema. Memunculkan ketakutan tersendiri bagi kedua makhluk yang sedari tadi setia berdiri di depan Putri, namun tidak untuk Putri. Tak ada sensasi hebat dan menakutkan di mata Putri selain pada dua hal yang sedang memaksanya “ikut”.
“Kau” sahut keduanya bersamaan
“Pergilah dulu” perintahnya, lalu dia menghampiri Putri.
“Tenanglah Putri, jangan ketakutan seperti itu” suaranya mengecil, lembut dan sangat jujur.
“Siapa kau, mengapa kau tak ikut menarikku untuk mengikutimu, seperti mereka” sahut Putri ragu.
“Untuk apa, apapun pilihanmu kita pasti akan bertemu”
“siapa kau sebenarnya”
“akulah keburukan” jawabnya mantap “saat kau memilih mimpi, aku adalah mimpi burukmu dan saat kau memilih kenyataan aku adalah cobaan” sambungnya
“Tapi kau tak tampak seperti itu”
“Kau sedang berada di persimpangan antara mimpi dan kenyataan, disini aku tak bisa menunjukkan seberapa kejam diriku” sahutnya lagi
“Jadi kau kejam?” nada bicara Putri menjadi penuh keraguan setelah apa yang dia alami sesaat sebelumnya.
“Tentu, sekarang kau berpikirlah dulu, waktumu tak banyak. Aku akan menemuimu lagi nanti” lalu sebuah tepukan lembut di bahu Putri tiba-tiba saja merayap masuk ke sarafnya seperti obat, rasa tegangnya berkurang drastis. “Benarkah dia keburukan” sambung Putri dalam hati.
*
Sebuah guncangan hebat mengejutkan Biru yang hampir terlarut dengan jatuhnya yang lembut dan sangat lambat. Dia jatuh perlahan seperti kapas, sensasi yang dia dapat setelah melewati sebuah cincin emas raksasa yang membatasi jalur perpindahannya ke suatu tempat di ruang yang sama, elemen yang berbeda.
“Apa yang harus kulakukan, aku merasa telah sadar tetapi aku masih melihatnya di hadapanku” Biru membentak pada Rama dengan penuh harap. Dia agak sedikit puas karena di tempat itu teriakannya lebih dihargai. Setiap teriakan menimbulkan gema nyaring yang memantul di dindingnya yang hitam, suaranya bukan lagi dihargai hanya dengan senilai frekuensi terbang seekor gagak ataupun suara kepakan sayap merpati di atas kepala.
“Hanya kau yang tahu caranya” jawab Rama. Jawaban yang sama, ekspresi yang sama, dan nada bicara yang sama, tetapi ada yang berbeda dari aksen Rama kali ini. Jawaban itu mendorong Biru untuk terus berpikir.
“Mungkin aku harus membunuhnya” serunya nyaring. Itu adalah sebuah kesalahan dan Rama sadar itu.
“Apa!!!, kau mau membunuhku” sahut mimpi “takkan pernah bisa. Aku kuat, aku mimpi” teriaknya hingga menggetarkan ruang gelap pekat yang memusingkan itu.
Biru maju selangkah demi selangah pada mimpinya.
“Biru hentikan” Rama mencoba mencegah Biru yang seperti orang kerasukan “kau dan kemarahanmu bisa membuatnya berubah menjadi……” tanpa sempat kalimat itu diselesaikan, muncul seorang lelaki berjubah hitam panjang. Tatapan matanya seratus kali lebih tajam, marah, dan melecehkan dari gadis pirang.
“Siapa lagi kau?” tanya Biru
“Aku masih mimpimu. Mimpi burukmu. Ini mimpi, aku bisa membunuhmu berkali-kali, menghancurkanmu berkali-kali, membuatmu gila berkali-kali. Aku mimpi. Aku mimpi buruk” dia bicara bagaikan hantu gentayangan seorang sastrawan lama. Gayanya yang misterius mulai menciutkan hati Biru, namun Rama ada disana. Sosok perak berupa kenyataan, sosok yang adalah sebagian dari keberanian seorang Biru.
“Biru, hentikan emosimu. Kau membuatnya semakin nyata di kepalamu”
“Aku tak tahu lagi, apa yang harus kulakukan?”
“Lupakan mimpimu, seperti apapun wujudnya!”
“Tidak akan bisa. Dulu dia terbuai dengan mimpi indah padahal dia mampu melepaskan diri. Sekarang saat aku mendatanginya, dia tak bisa lari, aku mengikatnya dengan sangat kuat. Iya kan Biru” suara mimpi itu begitu menggelegar seperti petir, menakuti hati Biru. Namun ketakutannya pada kekalahan terlalu banyak hingga mengalahkan segalanya.
“Tidak, kau hanya mimpi. Kau mimpiku, aku yang seharusnya mengendalikanmu, kau yang seharusnya gentar padaku, bukannya aku” teriakan demi teriakan membangkitkan keberanian Biru yang tadinya terkubur di bawah kaki mimpi.
“Kata-katamu tak ada pengaruhnya” walaupun telah berganti wujud, aksen merendahkan yang dimilikinya tak bisa hilang begitu saja.
“Benarkah, mungkin aku masih terlihat takut di matamu, tapi lihatlah mimpi. Demi Putri aku harus menghapusmu, demi kenyataan, demi Tuhan…. Mimpi, seharusnya kau tak ada” teriakan Biru mencapai puncaknya, sisi kiri dinding hitam yang berputar-putar itu retak. Mimpi mulai runtuh.
“Apa yang kau katakan Biru?” sambar mimpi dengan kagetnya
“Dia mengatakan apa yang dia rasakan, sekarang kau tak bisa menghindar” jawab Rama dalam keremangan cahaya. Perak di tubuhnya pecah seketika, menimbulkan cahaya baru yang lebih menyilaukan.
“Kau tak lebih kuat dari bayangan, kau tak bisa menakutiku lagi”
“Tapi itu tak mungkin, aku lebih kuat sekarang”
“Apapun yang kau katakan” sahut Biru “seperti apapun wujudmu, kau tak bisa menyentuhku… aku nyata” Retakan di sudut kiri membesar, sebongkah dinding hitam pekat jatuh dan pecah ke lantai, berubah menjadi kepingan pasir hitam.
“Tak kusangka kau begitu ingin melenyapkanku. Seberapa kuat kenyataanmu itu hah!!!!?”
“Kenyataan itu lebih kuat dari yang kau kira, kau tak bisa mengikatku” langit hitam di atas kepala Biru mulai runtuh, pecah menjadi pasir hitam di setiap patah kata yang keluar oleh Biru.
“Tidak, bagaimana kau bisa lepas. Aku mengikatmu dengan kuat”
“Kuat bagimu, dan tak nyata bagiku!. Kau tahu mimpi? Aku benar-benar ingin melenyapkanmu”
Sebuah teriakan keras yang sangat berat mengakhiri segalanya. Langit mulai runtuh menjadi pasir, dinding hitam yang berputar-putar mulai retak di setiap sudutnya, semua bagian ruang itu kehilangan topangannya. Seonggok tubuh tak berdaya, mulai musnah menjadi debu dan tertiup oleh angin dalam hitungan detik. Semua lebur kecuali Biru dan Rama, mereka bahkan tak tergores sedikitpun.
*
Dari kejauhan, lelaki berjubah panjang kembali muncul menghampiri Putri.
“Waktumu sudah habis Putri, mereka menuntut jawabanmu” di samping kiri dan kanan lelaki berjubah hitam itu berdiri mimpi dan Kemala.
“Tapi aku masih tak mengerti” sahut Putri
“Pilih saja, mimpi atau kenyataan. Mudah kan!”
“Itu sulit”
“Tidak Putri, itu mudah. Kau tinggal menyambut uluran tangan salah satu dari mereka dan kau mendapatkan hidupmu” Keburukan membujuk Putri penuh kelembutan dan keyakinan. Putri terdiam.
“Aku akan meninggalkan kalian disini. Selamat tinggal Putri, kita pasti bertemu lagi, pasti!” Keburukan hilang seketika seperti angin yang ikut bertiup di atas kepala Putri.
“Ayo Putri, pilih saja!” mimpi mulai tak sabar dengan keputusan Putri
“Kenapa kalian melakukan semua ini padaku?”
“Karena aku sayang kau Putri, aku tidak ingin kau terbuai mimpi. Kau punya kenyataan sendiri, kau punya Biru” Kemala menyahut sambil berharap Putri mendengarnya dengan baik.
“Aku menginginkanmu Putri, aku bisa membahagiakanmu. Kenyataan hanya bisa menyakitimu, membakarmu seperti pohon beringin itu” mimpipun menyahut dengan sangat lembut menusuk ke telinga Putri. Kalimatnya selalu menusuk, tetapi Putri punya harapan sendiri.
“Kau tahu mimpi, tadi keburukan ramah padaku”
“Dia selalu begitu jika di persimpangan, kau tak perlu bingung” entah kenapa semakin lama Putri merasakan aksen baru dari setiap kalimat yang diucapkan mimpi. Aksen jahat yang tajam, yang benar-benar harus dihindari.
“Apa kau jahat mimpi” sambung Putri
Mimpi terdiam, dia tak bisa menjawab apapun, pertanyaan itu terlalu jelas untuknya, bukan keambiguan yang terus menerus muncul dan diharapkannya sedari awal dia muncul.
“Satu hal lagi, mimpi. Aku lebih suka bersama Biru, dia tak pernah berbohong, dia tak pernah membual, tak sepertimu” Putri langsung menyambut uluran tangan Kemala tanpa keraguan, senyum kepuasan tergambar jelas di wajah Kemala.
“Tidak putri, jangan jadi kenyataan. Temani aku di mimpi” suara serak itu kini meminta belas kasihan Putri.
“Itu tidak mungkin lagi mimpi” sahut Kemala “dia sudah memilihku, memilih kenyataan, bukan mimpi” sambungnya.
“Tidak…..” mimpi mundur beberapa langkah, dia berteriak keras, berputar dan jatuh dengan ringan di atas pasir yang lama kelamaan bergoncang dengan kuat, lingkaran hitam pekat muncul di langit untuk menghisap seluruh merpati yang beterbangan memuja mimpi. Laut yang terbentang menggiurkan sedikit demi sedikit mengering, jam-jam pasir yang setengah terkubur telah benar-benar terkubur, seluruh selendang di atas pasir saling berikatan dan menyapu pintu-pintu yang tertancap miring di atas pasir, membuat semua pintu itu ikut tenggelam ke dalam kubangan pasir raksasa. Hutan bunga jingga yang membara diterpa hujan lebat terus-menerus hingga api-api panas itu padam dan beringin kering itu membeku seketika. Ruang kembali kosong.
Dari kejauhan Putri melihat dua makhluk yang sangat kontras dengan ruang kosong. Makhluk pertama berpendar keperakan dan yang satunya lagi memancarkan siluet Biru menyilaukan. Matanya menatap lekat dan berseru “Biru”
“Putri, kaukah itu” sahut Biru.
“Kau sudah paham kan Biru, bahwa kenyataanmu amat berharga untuk dipertahankan” Rama meredupan perak yang memancar di tubuhnya.
“Kalian sudah membuktikannya, kalian tak perlu kami yang berwujud seperti ini lagi” Kemala tersenyum ringan.
Efek sinar ultraviolet menyambar dua makhluk perak itu, tubuh mereka meregang menjadi zat kecil, makhluk lain berwujud kunang-kunang, lalu mereka terbang ke seluruh penjuru meninggalkan Putri dan Biru, berdua.
Putri memalingkan muka, menatap Biru yang sangat terlihat nyata, namun semua sensasi itu belum selesai. Tiba-tiba saja, Biru terlihat menjadi wujud dua dimensi yang semakin lama semakin kabur, terhapus oleh badai pasir yang berputar-putar di atas kepala Putri, badai pasir itu memakan sosok Biru lalu mengguncangkan ruang kosong yang gersang itu.
Sepotong matahari muncul dari bawah pasir, seperti baru bangun tidur, silau, cerah dan hangat. Melumerkan seluruh benda di sekitarnya. Pupil lembab Putri, mulai dingin dan kering.
Perlahan-lahan sebuah kuncup mawar membuka dirinya seperti seekor peri yang perlahan membuka sayap merahnya yang pekat, setetes peluh alam berupa embun mengalir jatuh di pinggir tulang daun bonsai kecil yang segar, bulan memucat lalu bersembunyi di balik awan dan menghilang entah kemana, aurora berpendar kemerahan menyambut fajar yang mengintip lembut dari balik timur bumi, cahaya hangat jatuh ke kamar mungil putih yang tetap bersih dan sejuk. Cahaya itu tepat jatuh di mata seorang gadis yang sedikit demi sedikit membuka matanya dan terlihatlah, pupilnya yang lembab. Pandangan hidup telah kembali.
Sebuah suara lembut menembus tembok kamarnya.
“Putri, ada yang nyari kamu di depan”
“Ya, Ma” sahutnya pendek
Putri berjalan menyusuri koridor di depan kamarnya dan menuruni tangga perlahan menuju ruang tamu. Ketika itu matanya beku, menatap sebuah wajah oriental, berbadan tegap, dengan rambut hitam lurus, dan bermata biru yang juga menatapnya. Tertanam kesan di hati Putri, untuk kedua kalinya.
“Siapa kau” tanyanya
“Aku Biru, tetangga barumu” lelaki itu tersenyum ringan
Saat itulah, seketika Putri merasakan kelegaan luar biasa yang dipendamnya sejak lama. Seakan telah seratus tahun dan kelegaan itu muncul tepat dalam pandangan hidupnya, tepat setelah fajar muncul.