Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 18, 2011

Kind of Fracture

BUTTERFLY FRACTURE
(Has the slight comminution at the fracture site)


CLOSED FRACTURE
(no broken skin)



COMPRESSION FRACTURE
(In which bone has been compressed)


COMPOUND FRACTURE
(with broken skin)


GREENSTICK FRACTURE
(one side broken, other side bent)


HAIRLINE FRACTURE
(crack only outer layer of the bone)



INCOMPLETE FRACTURE
(the end of the bone do not completely separated)


MULTIPLE FRACTURE
(several fracture, in near part. Or on separate bone but generally due to the same injury)


OBLIQUE FRACTURE
(occuring at an angle across the bone)


SPIRAL FRACTURE
(twisting around the shaft)


UNSTABLE FRACTURE

Sabtu, Juni 18, 2011

PIODERMA

 

Pada Sistem Sensoris dan Integumentum terdapat beberapa bakteri yang paling sering menyebabkan kelainan/infeksi. Diantaranya adalah sebagai berikut :
Kulit
Ú  Staphylococus
Ú  Streptococcus
Ú  Mycobacterium
Ú  Bacillus
Ú  Pseudomonas
Ú  Propionibacterium acnes
Ú  dll
Mata
Ú  Haemophylus influenzaàkonjungtivitis
Ú  Chlamydia trachomatis àkonjungtivitis
Ú  Staphylococcus aureus àhordeolum
Ú  Pseudomonas aeruginosa àulkus
Ú  Neisseria gonorrhoe
Ú  dll
Telinga
Ú  Streptococcus pneumonia àotitis
Ú  H.influenzae
Ú  Pseudomonas aeruginosa: otitis externa maligna
Ú  dll

PIODERMA

A.     Definisi
Pioderma ialah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau oleh kedua-duanya. Kadang juga disebabkan oleh bakteri gram negative seperi pseudomonas namun itu jarang terjadi dan efeknya biasanya lebih parah.

B.      Etiologi
Penyebab yang utama dari pioderma adalah Staphylococcus B hemolyticus, Streptococcus aureus.
Tentang Staphylococcus dan Streptococcus

C.      Faktor Predisposisi
1.       Higiene yang kurang
2.       Menurunnya daya tahan tubuh, biasanya karena kelelahan, anemia, atau penyakit-penyakit tertentu seperti penyakit kronis, neoplasma, dan diabetes melitus
3.       Telah ada penyakit lain di kulit, hal ini dapat merangsang terjadinya pioderma yang hampir bisa dipastikan akan memperparah penyakit kulit sebelumnya tersebut, hal itu juga terjadi karena fungsi kulit sebagai pelindung yang terganggu oleh penyakit.

D.     Klasifikasi
Pioderma terbagi menjadi dua, yaitu :
1.       Pioderma Primer
Pioderma yang terjadi pada kulit yang normal.

2.       Pioderma Sekunder
Pioderma yang terjadi pada kulit yang sebelumnya telah ada penyakit kulit. Gambaran klinisnya menjadi tidak khas dan kadang ditemukan lebih dari satu organism pada pemeriksaan. Jika penyakit kulit disertai pioderma sekunder maka disebut impetigenisata. Tanda impetigenisata adalah munculnya pustule, pus, bula purulen, krusta berwarna kuning kehijauan, pembesaran KGB regional, leukositosis, dan dapat pula disertai demam.

E.      Pengobatan Umum
1.       Sistemik
Contoh obat untuk pengobatan pioderma
a.       Penisilin G prokain dan semi-sintetiknya
-          Penisilin G prokain, dosisnya 1,2 juta/hari i.m, obat ini sudah tidak dipakai lagi karena dianggap tidak praktis dan pemakaiannya sering menimbulkan syok anafilaktik
-          Ampisillin, dosis 4x500 mg, ante cunam
-          Amoksisilin, dosisnya sama dengan ampisilin, dipakai post-cunam dan absorbsinya lebih cepat sehingga kadar dalam plasma lebih tinggi.
-          Golongan obat penisilin resisten-penisillinase, contohnya adalah oksasillin, kloksasillin, dikloksasillin, flukloksasillin. Dosis 3x250 mg/hari ante-cunam. Kelebihan obat ini adalah juga berkashiat pada Staphylococcus yang telah membentuk penisilinase.
b.      Linkomisin dan Klindamisin
Dosis linkomisin, 3x500 mg/hari. Klindamisin diabsorbsi lebih banyak karenanya dosisnya lebih kecil yaitu 4x150 mg/hari/os, pada infeksi berat dosisnya 4x300-450 mg/hari. Linkomisin agar tidak dipakai lagi dan digantikan oleh Klindamisin karena potensial antibakterinya lebih besar dan efek sampingnya lebih sedikit dan tidak terlalu terhambat oleh adanya makanan dalam lambung.

c.       Eritromisi
d.      n
Dosis 4x500 mg/hari/os. Efektivitasnya kurang dibandingkan Linkomisin/klindamisin dan obat golongan penisilin resisten-penisillinase. Cepat menyebabkan resistensi dan kadang terjadi tak enak di lambung.

e.      Sefalosporin
Bila terjadi pioderma berat yang dengat obat diatas tidak menunjukan hasil maka dipakailah Sefalosporin. Ada empat generasi yang berkhasiat untuk kuman gram positif yaitu generasi I juga generasi IV. Contohnya adalah sefadoksil dari generasi I dengan dosis dewasa, 2x500 mg atau 2x1000 mg/hari

2.       Topikal
Bermacam obat topical dapat digunakan untuk pioderma, contohnya basitrasin, neomisin, mupirosin. Neomisin berkhasiat juga untuk bakteri gram negative, Neomisin dituliskan sering mengalami sensitisasi, sedangkan teramisin dan kloramfenikol sebenarnya tidak terlalu efektif namun sering dipakai karenanya harganya murah. Obat-obatan ini biasanya berbentuk salep atau krim.
Selain itu juga baik agar diberikan kompres terbuka contohnya, larutan permanganas kalikus 1/5000, larutan rivanol 1 o/oo dan yodium povidon 7,5 % yang dilarutkan 10kali.

F.       Pemeriksaan
Terdapat leukositosis pada pemeriksaan lab. Pada kasus yang sulit sembuh dilakukan kultur dan tes resistensi. Ada kemungkinan penyebabnya buka kedua bakteri penyebab pioderma yang sering terjadi melainkan kuman gram negative.

G.     Bentuk Pioderma


1.      IMPETIGO
Impetigo ialah pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis)
Terdapat tiga jenis dari impetigo, yaitu
a.      Impetigo krustosa (impetigo kantagiosa, impetigo vulgaris, impetigo Tillbury Fox), disebabkan biasanya oleh Streptococcus B hemolyticus. Gejala umum tidak menyertai. Predileksi di MUKA, yakni sekitar lubang hidung dan mulut karena dianggap sember infeksi dari daerah tersebut. UKK berupa eritem dan vesikel yang cepat memecah sehingga akan terlihat krusta tebal berwarna kuning seperti madu. Jika krusta dilepaskan akan tampak erosi dibawahnya, sering menyebar ke perifer dan sembuh di bagian tengah. Komplikasi, glomerulonefritis (2-5%), yang disebabkan oleh sero tipe tertentu. Diagnosis bandingnya adalah Ektima. Pengobatan yang dipakai jika krusta sedikit, lepaskan krusta dan diberi antibiotic. Jika banyak berikan antibiotic sistemik.
b.      Impetigo bulosa (Impetigo vesiko-bulosa, cacar monyet), penyebab biasanya adalah Staphylococcus aureus, keadaan umum tidak dipengaruhi, dengan predileksi di daerah KETIAK, DADA, PUNGGUNG. Sering bersama miliaria. Kelainan kulit berupa eritema, bula dan bula hipopion. Kadang saat datang berobat bula sudah pecah dan yang tampak hanyalah koleret dan dasarnya masih eritematosa. Diagnosis banding dari impetigo ini adalah dermatofitosis (jika sudah pecah dan tampak koleret). Pengobatannya pecahkan bula, lalu berikan antibiotic salep atau cairan antiseptic. Jika bula/vesikel banyak maka berikan pula antibiotic sistemik.
c.       Impetigo neonatorum, varian impetigo bulosa yang terjadi pada neonatus. Kelainan sama dengan impetigo bulosa hanya saja bisa terjadi pada seluruh tubuh dan disertai demam. Diagnosis bandingnya adalah sifilis congenital. Pengobatannya adalah antibiotic sistemik, untuk topical dapat diberikan bedak salisil 2%

2.      FOLIKULITIS

Radang pada folikel rambut, biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Terbagi menjadi dua jenis :
a.      Folikulitis Superfisial (terbatas didalam epidermis)
Nama lainnya adalah impetigo Bockhart, tempat predileksi adalah TUNGKAI BAWAH. UKK berupa papul atau pustule yang eritematosa, di tengahnya terdapat rambut. Biasanya multiple.
b.      Folikulitis profunda (sampai ke subkutan)
Gambaran klinis sama, selain itu juga teraba infiltrate di subkutan. Contohnya sikosis barbae, bersifat bilateral. Diagnosis banding penyakit ini adalah tinea barbae. Pengobatan dipakai antibiotic sistemik/topical dan cari faktor predisposisinya.

3.      FURUNKEL/KARBUNKEL

Furunkel ialah radang folikel rambut dan sekitarnya. Jika lebih dari sebuah disebut furunkulosis, Karbunkel ialah kumpulan furunkel. Biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Keluhan yang muncul adalah nyeri, dengan UKK berupa nodus eritem berbentuk kerucut dengan pustule ditengahnya. Kemudian melunak menjadi abses berisi pus dan jaringan nekrotik lalu memecah membentuk fistel. Predileksi adalah tempat yang banyak friksi, misalnya aksila dan bokong. Pengobatan jika hanya sedikit furunkel, cukup dengan antibiotic topical, jika banyak perlu gabungan dengan antibiotic sistemik. Jika terjadi furunkulosis atau karbunkel berulang-ulang cari faktor predisposisi, misalnya diabetes mellitus.

4.      EKTIMA

Ektima ialah ulkus superficial dengan krusta diatasnya disebabkan infeksi Streptococcus, biasanya Streptococcus B hemolyticus. Gejala yang tampak adalah krusta tebal berwarna kuning berlokasi di tungkai bawah, yaitu tempat yang relative banyak trauma. Jika krusta diangkat ternyata lekat dan tampak ulkus yang dangkal. Diagnosis bandingnya adalah impetigo krustosa, perbedaannya, impetigo krustosa sering terjadi pada anak dan berlokasi di muka dan dasarnya adalah erosi, ektima terjadi pada anak maupun dewasa tempat predileksi TUNGKAI BAWAH dan dasarnya adalah ulkus.
Pengobatan yang dipakai adalah krusta diangkat dan disalep antibiotic. Jika banyak, gabungkan dengan antibiotic sistemik.

5.      PIONIKA

Radang sekitar kuku oleh piokokus. Penyebabnya biasanya Staphylococcus dan/atau Streptococcus B hemolyticus. Gejala klinis dari penyakit ini adalah didahului trauma, mulai infeksi pada lipatan kuku, terlihat tanda-tanda radang dan menjalar ke matriks dan lempeng kuku, dapat terbentuk abses subungual.
Pengobatan kompres dengan larutan antiseptic dan berikan antibiotic sistemik. Jika terjadi abses subungual, kuku diekstraksi.

6.      ERISIPELAS

Erisipelas ialah penyakit infeksi akut, biasanya disebabkan oleh Streptococcus B hemolyticus. Gejala klinis, demam, malaise. Lapisan kulit yang diserang ialah epidermis dan dermis, didahului dengan trauma, tempat predileksinya TUNGKAI BAWAH. UKK yang utama adalah eritema merah cerah, berbatas tegas, dan pinggirnya meninggi dengan tanda radang akut. Dapat disertai edem, vesikel dan bula. Terdapat leukosistosis.
Jika sering residif ditempat yang sama dapat terjadi elephantiasis.
Diagnosis bandingnya adalah selulitis, namun pada penyakit ini infiltratnya di subkutan. Pengobatan terutama adalah istirahat, tungkai bawah dan kaki yang diserang ditinggikan (elevasi), pengobatan sistemik dengan antibiotic, topical diberikan kompres terbuka dengan larutan antiseptic. Jika terjadi edem diberikan diuretic.

7.      SELULITIS

Etiologi, gejala konstitusi, tempat predileksi, kelainan pemeriksaan lab, dan terapi sama dengan erysipelas. Kelainan kulit berupa infiltrate difus di subkutan dengan tanda-tanda radang akut.

8.      FLEGMON

Selulitis yang mengalami supurasi. Terapi sama dengan selulitis hanya saja ditambah dengan insisi.

9.      ULKUS PIOGENIK
Berbentuk ulkus, gambaran klinisnya tidak khas dengan disertai pus diatasnya. Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh kuman gram negative sehingga perlu dilakukan kultur.

10.  ABSES MULTIPEL KELENJAR KERINGAT
Infeksi yang biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus, pada kelenjar keringat berupa abses multiple tak nyeri berbentuk kubah. Didapati pada anak dengan faktor predisposisi berupa daya tahan tubuh yang menurun juga banyak keringat, sehingga sering bersama denga miliaria. UKK berupa nodus eritema, multiple, tidak nyeri, berbentuk kubah dan lama memecah. Lokasinya di tempat yang banyak keringat.
Diagnosis bandingnya adalah furunkulosis, namuan furunkulosis terasa nyeri dan bentuknya seperti kerucut, dengan pustule ditengah dan lebih cepat memecah. Pengobatan yaitu antibiotic topical dan sistemik dengan tidak lupa memperhatikan faktor predisposisi.

11.  HIDRADENITIS

Infeksi kelenjar apokrin biasanya oleh Staphylococcus aureus. Sering didahului oleh trauma, dengan gejala konstitusi berupa demam, malaise. Ruam berupa nodus, dengan kelima tanda radang akut (rubor, dolor, kalor, tumor, fungsiolesa). Kemudian dapat melunak menjadi abses, dan memecah membentuk fistel yang disebut hidradenitis supuratif. Pada yang menahun dapat terbentuk abses, fistel, sinus yang multiple. Terbanyak berlokasi di ketiak, juga di perineum. Terdapat leukositosis.
Diagnosis bandingnya adalah skrofuloderma, perbedaannya pada hidradenitis didahului tanda radang akut dan terdapat gejala konstitusi. Pengobatan yang digunakan adalah antibiotic sistemik, jika telah terbentuk abses, diinsisi. Jika belum melunak diberi kompres terbuka, pada kasus yang kronik residif, kelenjar apokrin dieksisi.

12.  S4 (STAPHYLOCOCCAL SCALDED SKIN SYNDROME)


S4 pertama kali oleh Ritter von Rittershain, sehingga sering disebut penyakit Ritter.
S.S.S.S ialah infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus tipe tertentu dengan ciri yang khas ialah terdapatnya epidermolisis.
Penyakit ini terutama terdapat pada anak dibawah 5 tahun, pria lebih banyak dari wanita. Etiologinya ialah Staphylococcus aureus grup II faga 52, 55 dan/atau faga 71.
Patogenesis. Sebagai sumber infeksi ialah infeksi pada mata, hidung, tenggorok, dan telinga. Eksotoksin yang dikeluarkan bersifat epidermolitik (epidermolin, eksofoliatin) yang beredar di seluruh tubuh sampai pada epidermis dan menyebabkan kerusakan. Pada kulit tidak selalu ditemukan kuman penyebab. Fungsi ginjal yang baik diperlukan untuk mengekskresikan eksofoliatin, pada bayi diduga fungsi ginjal belum sempurna sehingga penyakit ini terjadi pada golongan usia tersebut.
Gejala Klinis. Pada umumnya terdapat demam yang tinggi disertai infeksi disaluran nafas bagian atas. Kelainan kulit yang pertama timbul adalah eritema, yang timbul mendadak pada muka, leher, ketiak dan lipat paha, kemudian menyeluruh dalam waktu 24 jam. Dalam waktu 1-2 hari akan muncul bula-bula berdinding kendur, tanda nikolsky positif. Dalam 2-3 hari terjadi pengeriputan spontan disertai pengelupasan lembaran-lembaran kulit sehingga tanpak daerah erosif. Akibat epidermolisis tersebut gambarannya mirip dengan kambustio. Daerah-daerah tersebut akan mongering dalam beberapa hari dan terjadi deskuamasi. Penyembuhan penyakit akan terjadi setelah 10-14 hari tanpa disertai sikatriks.
Komplikasi. Meskipun dapat sembuh spontan, dapat pula terjadi komplikasi seperti selulitis, pneumonia dan septicemia.
Pemeriksaan bakteriologi. Jika terdapat infeksi ditempat lain maka dapat dilakukan pemeriksaan bakteriologi. Juga dilihat tipe kuman karena tidak semua Satphylococcus aureus dapat menyebabkan penyakit ini, hanya tipe tertentu. Pada kulit tidak ditemukan kuman penyebab karena kerusakan kulit akibat toksin.
Histopatologi. Terdapat gambaran yang khas yaitu terlihat lepuh intraepidermal, celah terdapat di stratum granulosum, meskipun ruang lepuh sering mengandung sel-sel akantolitik, epidermis sisanya tampaknya utuh tanpa disertai nekrosis sel.
Diagnosis banding. Penyakit ini mirip N.E.T (Nekrolisis Epidermal Toksik, bahkan pada awalnya disebut N.E.T sebelum dilaporkan oleh Ritter). Perbedaannya S4 umumnya menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun, mulainya kelainan kulit didaerah muka, leher, dan lipat paha, mukosa umumnya tidak diserang dan angka kematian lebih rendah (meskipun begitu penyakit ini adalah pioderma penyebab kematian paling mungkin). Kedua penyakit ini sulit dibedakan sehingga ada baiknya dilakukan pemeriksaan histopatologi secara frozen section agar hasilnya cepat diketahui, karena prinsip pengobatan keduanya berbeda.  Perbedaan terletak pada celah, S4 di stratum granulosum, N.E.T di sub epidermal. Perbedaan lain pada N.E.T terdapat nekrosis disekitar celah dan terdapat sel radang.
Pengobatan. Pengobatan antibiotic, kortikosteroid tidak perlu. Penisilin cukup efektif, misalnya kloksasillin dengan dosis 3x250 mg untuk orang dewasa/hari/os. Pada neonatus, dosisnya 3x50 mg/hari/os. Obat lain yang dapat diberikan ialah klindamisin dan sefalosporin generasi I. topical dapat diberikan sufratulle, atau krim antibiotic. Diperhatikan juga keseimbangan cairan dan elektrolit.
Prognosis. Kematian dapat terjadi terutama pada bayi berusia kurang dari 1 tahun dengan prevalensi sekitar 1-10%. Penyebab utama kematian adalah tidak adanya keseimbangan cairan dan elektrolit juga karena sepsis.

Sumber :
Djuanda Adhi, Mochtar Hamzah, Siti Aisah. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5. Jakarta : FKUI ; 2007.

Rabu, Maret 23, 2011

DIARE


Kuliah oleh : dr Djalalludin Sp.Pd
Bag Ilmu Penyakit Dalam FK UNLAM/RSUD ULIN Banjarmasin



Pendahuluan
n  Diare merupakan respon tubuh terhadap keadaan tidak normal.
n  Terapi kausal penting
n  Definisi: Diare akut atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses yang tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekwensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam, dan berlangsung kurang dari 2 minggu (Lebih dari 2 minggu masuk diare kronik).
n  Pada feses dapat dengan atau tanpa lendir, darah, atau pus.
n  Gejala ikutan dapat berupa mual, muntah, nyeri abdominal, mulas, tenesmus, demam dan tanda-tanda dehidrasi.  

Klasifikasi dan Patofisiologi
n  Lama diare: akut/kronik
n  Berat ringan
n  Etiologi:  infeksi, intoksikasi (poisoning), alergi, reaksi obat-obatan, dan juga faktor psikis.
n  Pendekatan Klinik:
•          Inflamatory (proses invasion dan cytotoxin)
•          Non inflammatory (adanya enterotoksin)
•          Penetrating (demam disertai diare)

Diare Akut
Karakteristik Diare Akut

Epidemiologi
n  Gambaran klinis diare akut acapkali tidak spesifik.
n  Riwayat traveling (domestik atau internasional)
n  Kontak personal.
n  Adanya sangkaan food-borne transmisi dengan masa inkubasi yang pendek.
n  Jika tidak ada demam, menunjukkan adanya proses mekanisme enterotoksisn.
n  Sebaliknya, bila ada demam dan masa inkubasi yang lebih panjang, ini karakteristik suatu etiologi infeksi.

Etiologi Infeksi
Virus :
n  Rotavirus
n  Norwalk virus
n  Astrovirus
n  Adenovirus
n  Small bowel structured virus
n  Cytomegalovirus
Bakteri :
n  Enterotoxigenic E.coli (ETEC).
n  Enterophatogenic E.coli (EPEC).
n  Enteroaggregative E.coli (EAggEC).
n  Enteroinvasive E.coli (EIEC).
n  Enterohemorrhagic E.coli (EHEC).
n  Shigella spp.
n  Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni).
n  Vibrio cholerae 01 dan V.choleare 0139.
n  Salmonella (non thypoid)
Protozoa
n  Giardia lamblia.
n  Entamoeba histolytica.
n  Cryptosporidium.
n  Microsporidium spp
n  Isospora belli
n  Cyclospora cayatanensis
Helminths :
n  Strongyloides stercoralis.
n  Schistosoma spp.
n  Capilaria philippinensis
n  Trichuris trichuria.

Diagnosis
n  Anamnesis
n  Fisik
n  Penunjang

Penentuan Derajat Dehidrasi
n  Klinis
n  BJ Plasma:
•          Berat 1,032-1,040
•          Sedang 1,028-1,032
•          Ringan 1,025-1,028
n  CVP (N =4-11 cm H2O)

Derajat Dehidrasi
n  Ringan (hilang cairan 2-5 % BB)
n  Sedang (hilang cairan 5-8 % BB)
n  Berat  (hilang cairan 8-10 % BB)

Pemeriksaan Penunjang
n  feses rutin
n  kultur feses
n  Indikasi pemeriksaan kultur feses antara lain, diare berat, suhu tubuh > 38,50C, adanya darah dan/atau lender pada feses, ditemukan leukosit pada feses, laktoferin, dan diare persisten yang belum mendapat antibiotik.

Terapi
n  Kadang sembuh sendiri meskipun tanpa pengobatan.
n  Prinsip pengobatan adalah menghilangkan kausa diare dengan memberikan antimikroba yang sesuai dengan etiologi
n  Terapi supportive atau fluid replacement dengan intake cairan yang cukup atau dengan Oral Rehidration Solution (ORS).
n  Terapi simtomatik?

Tatalaksana
n  Rehidrasi
n  Diet
n  Obat anti diare?
n  Antimikroba

Pengelolaan
n  Keseimbangan cairan
n  Keseimbangan elektrolit
n  Makanan
n  Hati-hati pada pemberian anti diare
n  Sesuai penyebab
n  BJ Plasma
Kebutuhan cairan = BJ Plasma-1,025
 0,001
X BB X 4 ml
                                               
Daldiyono
Kebutuhan cairan= Skor X 10% X
                                        15
kgBBx 1 liter

Skor Daldiyono


klinis
skor
haus/muntah
1
sistolik 60-90 mmHg
1
sistolik< 60 mmHg
2
Nadi >120 x/menit
1
apati
1
somnolen, sopor atau koma
2
Nafas > 30x/menit
1
facies cholerica
2
vox cholerica
2
turgor kulit turun
1
washer woman's hand
1
ekstremitas dingin
1
sianosis
2
umur 50-60
1
umur > 60 tahun
2

n  2 jam rehidrasi sesuai jumlah kekurangan
n  1 jam berikutnya berikan sejumlah kehilangan cairan 2 jam. Bila skor kurang dari 3 bisa po
n  Jam berikutnya IWL dan tinja


Indikasi Pemberian Antibiotik
Pilihan Antibiotik
Demam (suhu oral >38,50C), bloody stools,leukosit, laktoferin, hemoccult, sindroma disentri
Kuinolon 3 – 5 hari
Kotrimoksazole 3 – 5 hari
Traveler’s diarrhea
Kuinolon 1 – 5 hari
Diare persisten (kemungkinan Giardiasis)
Tinidazole 1x 2 g 3 hari
Metronidazole 3x500 mg selama 7 hari
Shigellosis
Kotrimoksazole selama 3 hari
Kuinolon selama 3 hari
Intestinal Salmonellosis
Kloramfenikol/Kotrimoksazole/Kuinolon selama 7 hari
Campylobacteriosis
Eritromisin selama 5 hari
Klaritromisin 4x250 mg 5 hari
EPEC
Terapi sebagai Febrile Dysentry
ETEC
Terapi sebagai Traveler’s diarrhea
EIEC
Terapi sebagai Shigellosis
EHEC
Peranan antibiotik belum jelas
Vibrio non kolera
Terapi sebagai febrile dysentery
Aeromonas diarrhea
Terapi sebagai febrile dysentery
Yersiniosis
Umumnya dapat di terapi sebagai febrile dysentri.Pada kasus berat : Ceftriaxon IV 1 g/6 jam selama 5 hari
Giardiasis
Atau Tinidazole 1x 2 g 3 hari atau
Metronidazole 4 x 250 mg selama 7 hari.
Intestinal Amebiasis
Tinidazole 1x2 g (3 hari) pilihan 1
Metronidazole 3 x 750 mg 5 – 10 hari + pengobatan kista untuk mencegah relaps:
Diloxanide furoate 3 x 500 mg 10 hari
Cryptosporidiosis
Paromisin 3x500-1000mg (14 hari)
Azitromisin 1x500 mg (3 hari)
Untuk kasus berat atau immunocompromised :

Diare Kronik
n  Diare yang berlangsung lebih dari 15 hari
n  BAB> 3 x/hari
n  Berat tinja >250 gram
n  Tinja > encer

Penyebab
n  Kolitis
n  Crohn
n  Radiasi
n  AIDS
n  Bakteri,
n  cacing,
n  amuba,
n  giardia lamblia,
n  jamur
n  Intoleransi
n  Gastroktomi
n  Defisiensi laktase
n  Laksansia
n  Insufisiensi pankreas
n  Hipertiroid
n  DM
n  IBS
n  Mal absorbsi

Pemeriksaan
n  Anamnesis
n  Fisik
n  Laboratorium: darah, feses
n  Pemeriksaan lanjutan