Tampilkan postingan dengan label Neuropsikiatri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Neuropsikiatri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 20, 2011

Dualisme

Dualisme


Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.
Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa "kecerdasan" seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.
Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang. Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis monisme, termasuk fisikalisme dan fenomenalisme. Substansi dualisme bertentangan dengan semua jenis materialisme, tetapi dualisme properti dapat dianggap sejenis materilasme emergent sehingga akan hanya bertentangan dengan materialismenon-emergent [Dikutip dari wikipedia]

It seems usual for everyone but dangerous for me.
Aku sudah sering mengamati dan ternyata dualisme yang terjadi padaku sangat berbahaya.
Itulah salah satu fungsi aku ‘menulis’. Pertama itu memang hobiku, kedua adalah untuk memahami karakterku sendiri beserta pengaruhnya terhadap orang lain. Sesuatu yang sangat berisiko karena aku memilih publikasi yang gak tanggung-tanggung, blog, facebook, twitter, dan for a moment pada sedikit orang di heello.
Karakterku sudah terbaca banyak oleh mereka dari apa yang aku tumpahkan lewat tulisan, tapi tidak banyak yang bisa memahami –selain diriku sendiri yang sudah lama mengamati- tentang dualisme yang sering terjadi padaku.
Sebuah bahan pembelajaran yang bagus dan aku sama sekali tidak keberatan menjadi objek untuk diriku sendiri mempelajari salah satu keanehan –kelainan- jiwa yang jarang ditemui.


Dualisme yang pertama
Dualisme Kepribadian
Awalnya aku mengira ini semacam kepribadian ganda, tapi setelah mengamati dan sedikit mempelajari karakter atau sifat dari seseorang yang berkepribadian ganda, ini jelas bukan kepribadian ganda. Ini hanya dualisme kepribadian, yang mana keadaannya adalah dua kepribadian yang berlawanan beriringan bersamaan menguasai tapi tetap dalam keadaan sadar. Jika pada seseorang yang berkepribadian ganda bersifat baik lalu berubah sadis dan kembali baik, dia akan merasa seakan ada waktu yang kosong dan hilang. Aku juga merasakan itu, tapi bukan karena hilang, waktu yang kosong itu seperti semacam jeda yang aku benar-benar sadar, aku merasa ada yang hilang dan kosong tapi sebenarnya akupun tahu itu tidak benar. Kosong yang pikiranku artikan adalah sesuatu yang terjadi karena sifat lain yang keluar dari diriku yang sebenarnya tidak aku sukai tapi aku tidak kuasa menolaknya, aku sadar, perlu dicatat itu. Aku ingat. Jadi kosong disini bukanlah sebuah gejala, tapi sebuah pembelaan pikiran ketika dirimu menghakimi sebuah kesalahan pada dirimu sendiri, dan sisi lain dirimu mencari-cari alasan untuk membela diri. Sebenarnya pembelaan diri itu tidak diperlukan seandainya aku bisa mengendalikan untuk memilih salah satu karakter saja tapi aku sama sekali tidak bisa untuk memilih. Ada sesuatu didiriku yang kadang menikmatinya. Ambilah contoh, ketika pada suatu waktu aku adalah orang yang baik, dalam artian menerima dengan logis apa yang terjadi, berpikir realistis, dan menerima apa adanya semua keadaan dengan ikhlas, tapi dihari yang lain dengan masalah yang sama yang secara praktis sudah terselesaikan ternyata ada sisa-sisa diriku yang mengulang masalah itu dalam pikiran dan menunjukan reaksi yang berbeda, dendam, marah, menyesal, memaki, bersikap terlalu utopis dan berangan-angan akan kemungkinan yang hanya akan terjadi dengan probablitas 0,1%, hal ini jelas mengganggu. Orang akan berpikir aku tidak konsisten.
Tidak konsisten pada satu sisi memang bisa ditoleransi keadaannya, misalnya ketika kita ditanya “Lihat, teman kamu belum menyelesaikan tugas dan membuat kalian semua dihukum, menurut kamu apakah dia berhak dihukum?” maka akan terjadi perang ketidakonsistenan disana, satu pikiran akan bilang “Ya dia berhak dihukum karena tidak menghiraukan nasehat teman-temannya untuk segera menyelesaikan tugas dan membuat teman yang menyelesaikan tugas ikut dihukum” dan kedua “Tidak, dia teman kami, jika dia dihukum kami semua harus juga dihukum karena salah kami juga tidak cukup membantunya, dia punya masalah diluar ini yang membuatnya terhambat menyelesaikan tugas”… dalam satu sisi itu adalah ketidakonsistenan yang umum terjadi dan bisa ditoleransi. Sedangkan yang terjadi padaku berakibat sangat fatal dan disegala aspek. Sebuah sikap tidak konsisten yang terlalu vital untuk ditoleransi bahkan untuk diriku sendiri. Bagiku ini adalah sebuah masalah dan aku bisa lihat efeknya amat sangat besar dan tidak terlalu baik untuk orang-orang disekitarku.


Dualisme yang kedua
Dualisme Perasaan.
Terdengar klise huh? Ini bukan semacam ajakan untuk bergalau, ini adalah sesuatu yang berbahaya. Aku sadar, diriku adalah orang dengan pikiran yang begitu kuat melindungi diri, menjadikan aku tertutup dan pemilih. Barier yang dibuat oleh pikiranku, pengalih dan katarsis yang berbahaya. Pada satu sisi aku menyukai sesuatu dan disisi lain aku akan membenci sesuatu itu habis-habisan. Mungkin terdengar biasa dan pasti sangat sering sering sering terjadi di dunia nyata, tapi dualisme yang satu ini sangat mengganggu. Bagaimana tidak, ketika aku menyukai sesuatu, dan pikiranku mempertebal barier akan perasaanku, maka dia akan mengalihkannya pada hal lain. Menyukai hal lain. Aku adalah orang yang selalu heran dan bingung pada seseorang yang bisa menyukai sesuatu, misalnya mencintai dua orang dengan kadar yang sama disaat yang sama, bukan sesuatu yang tercela atau salah, hanya saja itu jelas-jelas mempersulit, dan sekarang aku jatuh pada dualisme itu juga.
Coba pikir, aku menyukai laptop, aku menyukai buku. Lantas apakah itu masalah? Tidak, dua hal yang berbeda dan cara kita mencintainya juga berbeda tapi seperti yang aku bilang perlawanan dipikiranku seakan memaksaku untuk memilih hal yang TIDAK PERLU DIPILIH, pikiranku memaksaku untuk memilih antara buku atau laptop. Itu tidak masuk akal! Pikiranku mengkadarkan sebuah rasa suka sangat terbatas, mungkin riwayat terdahulu terlibat sebagai penyebab, tapi ini terlalu berlebihan dan jelas-jelas mengganggu. Hal yang sama sekali membuat aku tidak sukses untuk beberapa hal.



Dualisme yang ketiga dan paling berbahaya
Dualisme Keyakinan
Ini yang paling berbahaya. Aku pada satu masa adalah orang yang sadar agama, sadar bahwa sesuatu itu tidak boleh dan boleh, namun pada suatu masa bisa menjadi apatis. Aku selalu peduli dengan kepantasan pakaian ku, namun disatu masa yang lain aku tidak peduli jika aku memakai rok pendek, kaos ketat, atau celana pendek untuk keluar malam-malam sendirian. Aku selalu peduli jika harus melaksanakan sembahyang, aku selalu ingat jam waktunya sholat, tapi pada satu masa keimananku berada pada titik nol dimana aku tidak peduli apakah hari ini aku sudah sholat atau belum, bahkan kadang ketika waktu begitu senggang aku lebih memilih melanjutkan tidur. Di satu sisi aku peduli disisi lain dimasa yang lain aku hanya berpikir ‘persetan’ dengan semua itu. Kadang aku seorang yang ortodok, kadang liberal. Tapi aku masih bertahan dengan sisa keimanan yang ada mempertahankan apa yang kemarin sudah aku pilih. Aku berusaha dan yeah… dualisme yang satu ini begitu sulit dijelaskan, studi kemana-mana aku bingung menjelaskannya. Aku mengamati beberapa sikap orang-orang disekitarku terhadap agama, semuanya datar, dalam artian mereka yang taat ya taat, mereka yang biasa aja ya biasa aja. Gak ada yang terombang-ambing seperti aku. Dari luar aku semakin terlihat tidak konsisten, tapi aku sendiri padahal tidak memilih ini, aku kurang paham denga hatiku, aku merasa takut pada Tuhan di satu masa, dan dimasa yang lain  aku seakan cuek dan tidak punya rasa takut sama sekali seperti seoang atheis. Aku tahu ini tidak baik, lama aku mencari obatnya, tapi tidak ada. Hingga sekarang yang aku lakukan hanya merenung sebanyak-banyaknya dan mempertahankan keimanan sekuat yang aku bisa. Wish me luck…..


Last…
Meskipun sedualisme apapun aku terhadap pikiran dan diriku sendiri, aku tetap aku. Seorang teman yang selalu berusaha menjadi penyayang! Everytime you need me guys, I always here. Find me, I’ll help, without payment! Even when I’m angry, I’ll still have a lil bit smile for you….. Sesuatu yang tidak akan pernah kubiarkan terdualisme. Friendship!!!

Ignore everything I had been did. It just me and myself, not with anyone….

Minggu, Mei 15, 2011

Cluster Headache




Pada kebanyakan kasus nyeri pada sakit kepala, walaupun pada keadaan berat, bukanlah akibat dari penyakit yang mendasarinya. Pada kenyataannya, kebanyakan sakit kepala adalah hanya sakit kepala saja, dimana sakit kepala tidaklah disebabkan oleh suatu kondisi medik spesifik. Termasuk diantaranya adalah migraine, sakit kepala tipe tension dan cluster headache.
Cluster headache adalah suatu cara penggambaran mengenai sifat lebih daripada keparahan nyeri yang dirasakan. Suatu gambaran dari serangan cluster headache adalah bahwa serangan tersebut terjadi dengan suatu pola siklus yang berkelompok sehingga, dinamakan cluster headache. Penderitaan dari serangan yang sering, dari apa yang diketahui sebagai periode cluster dapat berlangsung dari beberapa minggu sampai beberapa bulan, diikuti dengan periode remisi ketika serangan sakit kepala berhenti seluruhnya. Meskipun polanya bervariasi satu orang terhadap yang lain, kebanyakan orang mengalami satu atau dua periode cluster dalam satu tahun. Selama remisi, tidak ada sakit kepala yanga terjadi beberapa bulan sampai terkadang beberapa tahun.
Cluster headache adalah salah satu tipe sakit kepala yang sangat menyakitkan. Untungnya cluster headache sangat jarang, hanya terjadi satu persen dari seluruh penduduk di Amerika. Kondisi tersebut lebih sering terjadi pada pria. Cluster headache dapat terjadi pada semua umur namun yang paling sering antara dewasa muda dan usia pertengahan.
Meskipun serangan cluster headache adalah sangat menyakitkan, namun tidak mengancam jiwa. Beberapa pengobatan tersedia untuk menolong untuk membuat serangan menjadi lebih singkat dan tidak terlalu parah. Sebagai tambahan obat-obat preventif dapat menolong mengurangi jumlah serangan sakit kepala. (1)
Serangan dimulai mendadak, rasa nyeri biasanya dibelakang atau di sekitar salah satu mata dan sangat berat. Mata dan hidung pada sisi yang sama rasa nyeri dirasakan bisa menjadi kemerahan, bengkak dan berair. Cluster headache juga menyebabkan kegelisahan, sakit kepala ini dapat menakutkan penderita dan keluarganya. (3)
Definisi
Cluster headache adalah suatu sindrom idiopatik yang terdiri dari serangan yang jelas dan berulang dari suatu nyeri periorbital unilateral yang mendadak dan parah. (2)
Patofisiologi
Patofisiologi dari cluster headache belum sepenuhnya dimengerti. Periodisitasnya dikaitkan dengan pengaruh hormon pada hipotalamus (terutama nukleus suprachiasmatik). Baru-baru ini neuroimaging fungsional dengan positron emision tomografi (PET) dan pencitraan anatomis dengan morfometri voxel-base telah mengidentifikasikan bagian posterior dari substansia grisea dari hipotalamus sebagai area kunci dasar kerusakan pada cluster headache.
Nyeri pada cluster headache diperkirakan dihasilkan pada tingkat kompleks perikarotid/sinus kavernosus. Daerah ini menerima impuls simpatis dan parasimpatis dari batang otak, mungkin memperantarai terjadinya fenomena otonom pada saat serangan. Peranan pasti dari faktor-faktor imunologis dan vasoregulator, sebagaimana pengaruh hipoksemia dan hipokapnia pada cluster headache masih kontroversial. (2)
Penyebab
Penyebab cluster headache masih belum diketahui. Cluster headache sepertinya tidak berkaitan dengan penyakit lainnya pada otak. (3)
Berdasarkan jangka waktu periode cluster dan periode remisi, international headache society telah mengklasifikasikan cluster headache menjadi dua tipe :
  1. Episodik, dalam bentuk ini cluster headache terjadi setiap hari selama satu minggu sampai satu tahun diikuti oleh remisi tanpa nyeri yang berlangsung beberapa minggu sampai beberapa tahun sebelum berkembangnya periode cluster selanjutnya.
  2. Kronik, dalam bentuk ini cluster headache terjadi setiap hari selama lebih dari satu tahun dengan tidak ada remisi atau dengan periode tanpa nyeri berlangsung kurang dari dua minggu. (1)
Sekitar 10 sampai 20 % orang dengan cluster headache mempunyai tipe kronik. Cluster headache kronik dapat berkembang setelah suatu periode serangan episodik atau dapat berkembang secara spontan tanpa di dahului oleh riwayat sakit kepala sebelumnya. Beberapa orang mengalami fase episodik dan kronik secara bergantian.
Para peneliti memusatkan pada mekanisme yang berbeda untuk menjelaskan karakter utama dari cluster headache. Mungkin terdapat riwayat keluarga dengan cluster headache pada penderita, yang berarti ada kemungkinan faktor genetik yang terlibat. Beberapa faktor dapat bekerja sama menyebabkan cluster headache. (1)
Pemicu Cluster Headache
Tidak seperti migraine dan sakit kepala tipe tension, cluster headache umumnya tidak berkaitan dengan pemicu seperti makanan, perubahan hormonal atau stress. Namun pada beberapa orang dengan cluster headache adalah merupakan peminum berat dan perokok berat. Setelah periode cluster dimulai, konsumsi alkohol dapat memicu sakit kepala yang sangat parah dalam beberapa menit. Untuk alasan ini banyak orang dengan cluster headache menjauhkan diri dari alkohol selama periode cluster. Pemicu lainnya adalah penggunaan obat-obatan seperti nitrogliserin, yang digunakan pada pasien dengan penyakit jantung.
Permulaan periode cluster seringkali setelah terganggunya pola tidur yang normal, seperti pada saat liburan atau ketika memulai pekerjaan baru atau jam kerja yang baru. Beberapa orang dengan cluster headache juga mengalami apnea pada saat tidur, suatu kondisi dimana terjadinya kolaps sementara pada dinding tenggorokan sehingga menyumbat jalan nafas berulang kali pada saat tidur. (1)
Peningkatan Sensitivitas dari Jalur Saraf
Nyeri yang sangat pada cluster headache berpusat di belakang atau di sekitar mata, di suatu daerah yang dipersarafi oleh nervus trigeminus, suatu jalur nyeri utama. Rangsangan pada saraf ini menghasilkan reaksi abnormal dari arteri yang menyuplai darah ke kepala. Pembuluh darah itu akan berdilatasi dan menyebabkan nyeri.
Beberapa gejala dari cluster headache seperti mata berair, hidung tersumbat dan atau berair, serta kelopak mata yang sulit diangkat melibatkan sistem saraf otonom. Saraf yang merupakan bagian dari sistem ini membentuk suatu jalur pada dasar otak. Ketika saraf trigeminus di aktivasi, menyebabkan nyeri pada mata, sistem saraf otonom juga diaktivasi dengan apa yang disebut refleks trigeminal otonom. Para peneliti percaya bahwa masih ada proses yang belum diketahui yang melibatkan peradangan atau aktivitas pembuluh darah abnormal pada daerah ini yang mungkin terlibat menyebabkan sakit kepala. (1)
Fungsi Abnormal dari Hipotalamus
Serangan cluster biasanya terjadi dengan pengaturan seperti jam 24 jam sehari. Siklus periode cluster seringkali mengikuti pola musim dalam satu tahun. Pola ini menunjukkan bahwa jam biologis tubuh ikut terlibat. Pada manusia jam biologis terletak pada hipotalamus yang berada jauh di dalam otak. Dari banyak fungsi hipotalamus, bagian ini mengontrol siklus tidur bangun dan irama internal lainnya. Kelainan hipotalamus mungkin dapat menjelaskan adanya pengaturan waktu dan siklus pada cluster headache. Penelitian telah menemukan peningkatan aktivitas di dalam hipotalamus selama terjadinya cluster headache. Peningkatan aktivitas ini tidak ditemukan pada orang-orang dengan sakit kepala lainnya seperti migraine.
Penelitian juga menemukan bahwa orang-orang yang mempunyai tingkat hormon tertentu yang abnormal, termasuk melatonin dan testoteron, kadar hormon tersebut meningkat pada periode cluster. Perubahan hormon-hormon tersebut dipercayai karena ada masalah pada hipotalamus. Peneliti lainnya menemukan bahwa orang-orang dengan cluster headache mempunyai hipotalamus yang lebih besar daripada mereka yang tidak memiliki cluster headache. Namun masih belum diketahui mengapa bisa terjadi kelainan-kelainan semacam itu. (1)
Tanda dan Gejala
Cluster headache menyerang dengan cepat, biasanya tanpa peringatan. Dalam hitungan menit nyeri yang sangat menyiksa berkembang. Rasa nyeri tersebut biasanya berkembang pada sisi kepala yang sama pada periode cluster, dan terkadang sakit kepala menetap pada sisi tersebut seumur hidup pasien. Jarang sekali rasa nyeri berpindah ke sisi lain kepala pada periode cluster selanjutnya. Jauh lebih jarang lagi rasa nyeri berpindah-pindah setiap kali terjadi serangan.
Rasa nyeri pada cluster headache seringkali digambarkan sebagai suatu nyeri yang tajam, menusuk, atau seperti terbakar. Orang-orang dengan kondisi ini mengatakan bahwa rasa sakitnya seperti suatu alat pengorek yang panas ditusukkan pada mata atau seperti mata di dorong keluar dari tempatnya. (1)
Gelisah
Orang-orang dengan cluster headache tampak gelisah, cenderung untuk melangkah bolak-balik atau duduk sambil menggoyang-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang untuk mengurangi rasa sakit. Mereka mungkin dapat menekan tangannya pada mata atau kepala atau meletakkan es ataupun kompres hangat pada daerah yang sakit. Berlawanan dengan orang-orang dengan migraine, orang-orang dengan cluster headache biasanya menghindari untuk berbaring pada masa serangan karena sepertinya posisi ini hanya menambah rasa sakit.
Banyak orang dengan cluster headache memilih untuk sendirian. Mereka mungkin tetap berada di luar rumah bahkan pada cuaca yang sangat dingin, selama masa serangan. Mereka mungkin berteriak, membenturkan kepala ke dinding atau melukai dirinya sendiri untuk mengalihkan perhatian dari sakit yang tidak tertahankan. Beberapa orang menyatakan pengurangan rasa sakit dengan berlatih, seperti lari di tempat atau melakukan shit-up atau push-up. (1)
Mata Berair dan Hidung Tersumbat
Cluster headache selalu dipicu oleh respon sistem saraf otonom. Sistem ini mengontrol banyak aktivitas vital tanpa disadari dan kita tidak harus memikirkan apa yang dilakukannya. Contohnya, sistem saraf otonom mengatur tekanan darah, denyut jantung, keringat dan suhu tubuh. Respon tersering sistem otonom pada cluster headache adalah keluarnya air mata berlebihan dan mata merah pada sisi yang sakit.
Tanda dan gejala lainnya yang mungkin bersamaan dengan cluster headache antara lain :
  1. Lubang hidung tersumbat atau berair pada sisi kepala yang terserang.
  2. Kemerahan pada muka.
  3. Bengkak di sekitar mata pada sisi wajah yang terkena.
  4. Ukuran pupil mengecil.
  5. Kelopak mata sulit untuk dibuka.
Tanda dan gejala tersebut hanya terjadi selama masa serangan. Namun demikina pada beberapa orang kelopak mata yang sulit ditutup dan mengecilnya ukuran pupil tetap ada lama setelah periode serangan. Beberapa gejala-gejala seperti migraine termasuk mual, fotofobia dan fonofobia, serta aura dapat terjadi pada cluster headache.
Karakteristik Periode Cluster
Suatu periode cluster umumnya berlangsung antara 2 sampai 12 minggu. Periode cluster kronik dapat berlanjut lebih dari satu tahun. Tanggal permulaan dan jangka waktu dari tiap-tiap periode cluster seringkali dengan sangat mengagumkan konsisten dari waktu ke waktu. Untuk kebanyakan orang, periode cluster dapat terjadi musiman, sperti tiap kali musim semi atau tiap kali musim gugur. Adalah biasa untuk cluster bermula segera setelah salah satu titik balik matahari. Seiring dengan waktu periode cluster dapat menjadi lebih sering, lebih sulit untuk diramalkan, dan lebih lama.

Selama periode cluster, sakit kepala biasanya terjadi tiap hari, terkadang beberapa kali sehari. Suatu serangan tunggal rata-rata berlangsung 45 sampai 90 menit. Serangan terjadi pada waktu yang sama dalam tiap 24 jam. Serangan pada malam hari lebih sering daripada siang hari, seringkali berlangsung 90 menit sampai 3 jam setelah tertidur. Waktu tersering terjadinya serangan adalah antara jam satu sampai jam dua pagi, antara jam satu sampai jam tiga siang dan sekitar jam sembilan malam.
Cluster headache dapat menakutkan penderita serta orang-orang di sekitarnya. Serangan yang sangat membuat lemah sepertinya tak tertahankan. Namun nyerinya seringkali hilang mendadak sebagaimana ia di mulai, dengan intensitas yang menurun secara cepat. Setelah serangan, kebanyakan orang bebas sepenuhnya dari rasa sakit namun mengalami kelelahan. Kesembuhan sementara selama periode cluster dapat berlangsung beberapa jam sampai sehari penuh sebelum serangan selanjutnya. (1)
Diagnosis
Cluster headache mempunyai ciri khas tipe nyeri dan pola serangan. Suatu diagnosis tergantung kepada gambaran dari serangan, termasuk nyeri, lokasi dan keparahan sakit kepala, dan gejala-gejala lainnya yang terkait. Frekuensi dan lama waktu terjadinya sakit kepala juga merupakan faktor yang penting. (1)
Keterlibatan fenomena otonom yang jelas adalah sangat penting pada cluster headache. Tanda-tanda tersebut diantaranya adalah rinorea dan hidung tersumbat ipsilateral, lakrimasi, hiperemi pada konjungtiva, diaforesis pada wajah, edema pada palpebra dan sindrom Horner parsial atau komplit, takikardia juga sering ditemukan. (2)
Pemeriksaan neurologis dapat membantu untuk mendeteksi tanda-tanda dari cluster headache. Terkadang pupil terlihat lebih kecil atau palpebra terjatuh bahkan diantara serangan.
Cluster headache adalah suatu diagnosis klinis, pada kasus-kasus yang jarang lesi struktural dapat menyerupai gejala-gejala dari cluster headache, menegaskan perlunya pemeriksaan neuroimaging. Uji yang dilakukan adalah CT- Scan dan MRI. (1,2)
Diagnosis Banding
Terapi
Tidak ada terapi untuk menyembuhkan cluster headache. Tujuan dari pengobatan adalah menolong menurunkan keparahan nyeri dan memperpendek jangka waktu serangan. Obat-obat yang digunakan untuk cluster headache dapat dibagi menjadi obat-obat simtomatik dan profilaktik. Obta-obat simtomatik bertujuan untuk menghentikan atau mengurangi rasa nyeri setelah terjadi serangan cluster headache, sedangkan obat-obat profilaktik digunakan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas eksaserbasi sakit kepala.
Karena sakit kepala tipe ini meningkat dengan cepat pengobatan simtomatik harus mempunyai sifat bekerja dengan cepat dan dapat diberikan segera, biasanya menggunakan injeksi atau inhaler daripada tablet per oral. (1,2)
Pengobatan simtomatik termasuk :
  1. Oksigen. Menghirup oksigen 100 % melalui sungkup wajah dengan kapasitas 7 liter/menit memberikan kesembuhan yang baik pada 50 sampai 90 % orang-orang yang menggunakannya. Terkadang jumlah yang lebih besar dapat lebih efektif. Efek dari penggunaannya relatif aman, tidak mahal, dan efeknya dapat dirasakan setelah sekitar 15 menit. Kerugian utama dari penggunaan oksdigen ini adalah pasien harus membawa-bawa tabung oksigen dan pengaturnya, membuat pengobatan dengan cara ini menjadi tidak nyaman dan tidak dapat di akses setiap waktu. Terkadang oksigen mungkin hanya menunda daripada menghentikan serangan dan rasa sakit tersebut akan kembali.
  2. Sumatriptan. Obat injeksi sumatriptan yang biasa digunakan untuk mengobati migraine, juga efektif digunakan pada cluster headache. Beberapa orang diuntungkan dengan penggunaan sumatriptan dalam bentuk nasal spray namun penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk menentukan keefektifannya.
  3. Ergotamin. Alkaloid ergot ini menyebabkan vasokontriksi pada otot-otot polos di pembuluh darah otak. Tersedia dalam bentuk injeksi dan inhaler, penggunaan intra vena bekerja lebih cepat daripada inhaler dosis harus dibatasi untuk mencegah terjadinya efek samping terutama mual, serta hati-hati pada penderita dengan riwayat hipertensi.
  4. Obat-obat anestesi lokal. Anestesi lokal menstabilkan membran saraf sehingga sel saraf menjadi kurang permeabel terhadap ion-ion. Hal ini mencegah pembentukan dan penghantaran impuls saraf, sehingga menyebabkan efek anestesi lokal. Lidokain intra nasal dapat digunakan secara efektif pada serangan cluster headache. Namun harus berhati-hati jika digunakan pada pasien-pasien dengan hipoksia, depresi pernafasan, atau bradikardi. (1,2)
Obat-obat profilaksis :
  1. Anti konvulsan. Penggunaan anti konvulsan sebagai profilaksis pada cluster headache telah dibuktikan pada beberapa penelitian yang terbatas. Mekanisme kerja obat-obat ini untuk mencegah cluster headache masih belum jelas, mungkin bekerja dengan mengatur sensitisasi di pusat nyeri.
  2. Kortikosteroid. Obat-obat kortikosteroid sangat efektif menghilangkan siklus cluster headache dan mencegah rekurensi segera. Prednison dosis tinggi diberikan selam beberapa hari selanjutnya diturunkan perlahan. Mekanisme kerja kortikosteroid pada cluster headache masih belum diketahui. (2)
Pembedahan
Pembedahan di rekomendasikan pada orang-orang dengan cluster headache kronik yang tidak merespon dengan baik dengan pengobatan atau pada orang-orang yang memiliki kontraindikasi pada obat-obatan yang digunakan. Seseorang yang akan mengalami pembedahan hanyalah yang mengalami serangan pada satu sisi kepal saja karena operasi ini hanya bisa dilakukan satu kali. Orang-orang yang mengalami serangan berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi yang lain mempunyai resiko kegagalan operasi.
Ada beberapa tipe pembedahan yang dapat dilakukan untuk mengobati cluster headache. Prosedur yang dilakukan adalah merusak jalur saraf yang bertanggungjawab terhadap nyeri.
Blok saraf invasif ataupun prosedur bedah saraf non-invasif (contohnya radio frekuensi pericutaneus, gangliorhizolisis trigeminal, rhizotomi) telah terbukti berhasil mengobati cluster headache. Namun demikian terjadi efek samping berupa diastesia pada wajah, kehilangan sensoris pada kornea dan anestesia dolorosa.
Pembedahan dengan menggunakan sinar gamma sekarang lebih sering digunakan karena kurang invasif. Metode baru dan menjanjikan adalah penanaman elektroda perangsang dengan menggunakan penunjuk jalan stereostatik di bagian inferior hipotalamus. Penelitian menunjukkan bahwa perangsangan hipotalamus pada pasien dengan cluster headache yang parah memberikan kesembuhan yang komplit dan tidak ada efek samping yang signifikan. (1,2)
Pencegahan
Karena penyebab dari cluster headache masih belum diketahui dengan pasti kita belum bisa mencegah terjadinya serangan pertama. Namun kita dapat mencegah sakit kepala ulangan yang lebih berat. Penggunaan obat-obat preventif jangka panjang lebih menguntungkan dari yang jangka pendek. Obat-obat preventif jangka panjang antara lain adalah penghambat kanal kalsium dan kanal karbonat. Sedangakan yang jangka pendek termasuk diantaranya adalah kortikosteroid, ergotamin dan obat-obat anestesi lokal. (1,2,3)
Menghindari alkohol dan nikotin dan faktor resiko lainnya dapat membantu mengurangi terjadinya serangan. (1,2)
Prognosis
  • 80 % pasien dengan cluster headache berulang cenderung untuk mengalami serangan berulang.
  • Cluster headache tipe episodik dapat berubah menjadi tipe kronik pada 4 sampai13 % penderita.
  • Remisi spontan dan bertahan lama terjadi pada 12 % penderita, terutama pada cluster headache tipe episodik.
  • Umumnya cluster headache adalah masalah seumur hidup.
  • Onset lanjut dari gangguan ini teruama pada pria dengan riwayat cluster headache tipe episodik mempunyai prognosa lebih buruk.

DAFTAR PUSTAKA
2. Cluster Headache Available at : www.emedicine/topic209.htm
3. Cluster Headache Available at : www.familydoctor.org
-----------------------------

Minggu, Mei 01, 2011

Gangguan Seksual / Deviasi Seksual (Tugas Makalah)



I.                   PENDAHULUAN

Dalam lingkup perilaku, konsep tentang batasan apa yang normal dan tidak normal dalam hal yang menyangkut seksual sangat dipengaruhi oleh faktor sosiokultur. Berbagai aktivitas seperti masturbasi yang pada awalnya dianggap sebagai sebuah penyimpangan seksual karena hal tersebut berada diluar lingkup dari tujuan awal hubungan seksual itu dilakukan, yaitu untuk bereproduksi. Pada sebuah survey didapatkan bahwa lebih dari 50% pria dan hampir 50% wanita mengaku pernah melakukan masturbasi terutama diusia remaja sebelum menikah (survey nasional) dan masih ada pula beberapa orang yang pernah melakukan namun enggan mengakuinya. Hal ini membuktikan bahwa lama kelamaan hal yang dianggap penyimpangan tersebut kini justru hal yang mulai lazim terjadi.
Contoh lainnya adalah homoseksualitas. Pada awalnya seorang homoseksual adalah orang yang dicela dan ditakuti, homoseksual sendiri dulunya sempat digolongkan sebagai gangguan mental hingga pada tahun 1973 American Psychiatric Association memutuskan untuk menghilangkan homoseksualitas dari daftar gangguan mental. Saat ini keberadaan homoseksual juga sudah mulai diterima dan bahkan mendapatkan simpati dari beberapa perkumpulan meskipun tidak bisa diindahkan bahwa masih banyak orang yang kurang menyukai para pelaku homoseksual. Pergeseran paham terhadap beberapa hal dulunya dianggap sebuah kelainan atau abnormalitas menunjukan bahwa memang perkembangannya sangatlah dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sosial, dan perkembangan budaya.
Namun, terdapat juga beberapa kelainan yang hingga sekarang masih tidak bisa dianggap lazim oleh masyarakat dan dimasukan dalam kategori kelainan seksual yang akan dibahas pada bab selanjutnya.

II.                ISI
A.    Perkembangan Seksualitas Normal
Ada fase-fase psikologis yang harus dilalui tiap individu. Antara lain fase
psikoseksual yaitu tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan fungsi seksual yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis individu tersebut. Tiap individu akan mengalami fase/tahap psikoseksual dalam tiap tahap perkembangan umurnya (0-18 tahun). Bila individu tersebut gagal melewati suatu masa yang harus dilaluinya sesuai dengan tahap perkembangannya maka akan terjadi gangguan pada diri orang tersebut.
Pada kesempatan ini kita akan melihat fase-fase psikoseksual yang pasti dilalui setiap individu sesuai dengan tahap perkembangannya. Fase-fase tersebut adalah:

1. Fase oral/mulut (0-18 bulan)
Yaitu fase pertama yang harus dilalui oleh seorang anak sejak dilahirkan.
Pada bulan-bulan pertama kehidupan, bayi manusia lebih tidak berdaya dibandingkan dengan bayi binatang menyusui lainnya, dan ketidakberdayaan ini berlangsung lebih lama daripada spesies lain. Pada mulanya bayi tidak dapat membedakan antara bibirnya dengan putting susu ibunya, yaitu asosias antara rasa kenyang dengan pemberian asi. Bayi hanya sadar akan kebutuhannya sendiri dan pada waktu menunggu terpenuhi kebutuhannya, bayi menjadi frustasi dan baru sadar akan adanya obyek pemuas pada waktu kebutuhannya terpenuhi.
Inilah pengalaman pertama kesadaran akan adanya obyek diluar dirinya. Jadi kelaparan menuntutnya untuk mengenal dunia luar. Reaksi primitif pertama terhadap obyek yaitu bayi berusaha memasukkan semua benda yang dipegangnya ke mulut. Bayi merasa bahwa mulut adalah tempat pemuasan (oral gratification). Rasa lapar dan haus terpenuhi dengan menghisap putting susu ibunya. Kebutuhan-kebutuhan, persepsi-persepsi dan cara ekspresi bayi secara primer dipusatkan di mulut, bibir, lidah dan organ lain yang berhubungan dengan daerah mulut. Dorongan oral terdiri dari 2 komponen yaitu dorongan libido dan dorongan agresif. Dorongan libido yaitu dorongan seksual pada anak, yang berbeda dengan libido pada orang dewasa. Dorongan libido merupakan dorongan primer dalam kehidupan yang merupakan sumber energi dari ego dalam mengadakan hubungan dengan lingkungan, sehingga memungkinkan pertumbuhan ego. Ketegangan oral akan membawa pada pencarian kepuasan oral yang ditandai dengan diamnya bayi pada akhir menyusui. Sedangkan dorongan agresif dapat terlihat dalam perilaku menggigit, mengunyah, meludah, dan menangis. Pada fase oral ini, peran Ibu penting untuk memberikan kasih sayang dengan memenuhi kebutuhan bayi secepatnya. Jika semua kebutuhannya terpenuhi, bayi akan merasa aman, percaya pada dunia luar. Hal ini merupakan dasar perkembangan selanjutnya dalam berhubungan dengan dunia luar. Jika pada fase oral ini bayi merasakan kekecewaan yang mendalam, hal ini akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Pada waktu dewasa akan mengalami gangguan tingkah laku seksual misalnya kepribadian oral sadistik yang dimanifestasikan dalam penyimpangan seksual sadisme, yaitu kepuasan seks yang dicapai bila didahului atau disertai tindakan yang menyakitkan. Sebaliknya, bila bayi mendapat kepuasan yang berlebihan maka dalam perkembangan selanjutnya dapat menjadi sangat optimis, narcistik (cinta diri sendiri), dan selalu menuntut.

2. Fase Anal (1 1/2 - 3 tahun)
Fase ini ditandai dengan matangnya syaraf-syaraf otot sfingter anus sehingga anak mulai dapat mengendalikan beraknya. Pada fase ini kepuasan dan kenikmatan anak terletak pada anus. Kenikmatan didapatkan pada waktu menahan berak. Kenikmatan lenyap setelah berak selesai. Jika kenikmatan yang sebenarnya diperoleh anak dalam fase ini ternyata diganggu oleh orangtuanya dengan mengatakan bahwa hasil produksinya kotor, jijik dan sebagainya, bahkan jika disertai dengan kemarahan atau bahkan ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan, maka hal ini dapat mengganggu perkembangan kepribadian anak. Dimana pada perkembangan seksualitas deawasa anak merasa jijik (kotor) terhadap alat kelaminnya sendiri dan tidak dapat menikmati hubungan seksual dengan partnernya.
Oleh karena itu sikap orangtua yang benar yaitu mengusahakan agar anak merasa bahwa alat kelamin dan anus serta kotoran yang dikeluarkannya adalah sesuatu yang biasa (wajar) dan bukan sesuatu yang menjijikkan. Hal ini penting, karena akan mempengaruhi pandangannya terhadap seks nantinya.
Jika terjadi hambatan pada fase anal, anak dapat mengembangkan sifat-sifat tidak konsisten, kerapian, keras kepala, kesengajaan, kekikiran yang merupakan karakter anal yang berasal dari sisa-sisa fungsi anal. Jika pertahanan terhadap sifat-sifat anal kurang efektif, karakter anal menjadi ambivalensi (ragu-ragu) berlebihan, kurang rapi, suka menentang, kasar dan cenderung sadomsokistik (dorongan untuk menyakiti dan disakiti). Karakter anal yang khas terlihat pada penderita obsesif kompulsif. Penyelesaian fase anal yang berhasil, menyiapkan dasar untuk perkembangan kemandirian, kebebasan, kemampuan untuk menentukan perilaku sendiri tanpa rasa malu dan ragu-ragu, kemampuan untuk menginginkan kerjasama yang baik tanpa perasaan rendah diri.

3. Fase Uretral
Pada fase ini merupakan perpindahan dari fase anal ke fase phallus. Erotik uretral mengacu pada kenikmatan dalam pengeluaran dan penahanan air seni seperti pada fase anal. Jika fase uretral tidak dapat diselesaikan dengan baik, anak akan mengembangkan sifat uretral yang menonjol yaitu persaingan dan ambisi sebagai akibat timbulnya rasa malu karena kehilangan kontrol terhadap uretra. Jika fase ini dapat diselesaikan dengan baik, maka anak akan mengembangkan persaingan sehat, yang menimbulkan rasa bangga akan kemampuan diri. Anak laki-laki meniru dan membandingkan dengan ayahnya. Penyelesaian konflik uretra merupakan awal dari identitas gender dan identifikasi selanjutnya.


4. Fase Phallus (3-5 tahun)
Pada fase ini anak mula mengerti bahwa kelaminnya berbeda dengan kakak, adik atau temannya. Anak mulai merasakan bahwa kelaminnya merupakan tempat yang memberikan kenikmatan ketika ia mempermainkan bagian tersebut. Tetapi orangtua sering marah bahkan mengeluarkan ancaman bila melihat anaknya memegang atau mempermainkan kelaminnya. Pada fase ini, anak laki-laki dapat timbul rasa takut bahwa penisnya akan dipotong (dikebiri). Ketakutan yang berlebihan tersebut dapat menjadi dasar penyebab gangguan seksual seperti impotensi primer dan homoseksual. Pada fase ini muncul rasa erotik anak terhadap orangtua dari jenis kelamin yang berbeda. Rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seks tampak dalam tingkah laku anak, misalnya membuka rok ibunya, meraba buah dada atau alat kelamin orangtuanya. Daya erotik anak laki-laki terhadap ibunya, disertai rasa cemburu terhadap ayahnya, dan keinginan untuk mengganti posisi ayah disamping ibu, disebut kompleks Oedipus. Untuk anak wanita disebut kompleks Elektra. Kompleks elektra biasanya disertai rasa rendah diri karena tidak mempunyai kelamin seperti anak laki-laki dan merasa takut jika terjadi kerusakan pada alat kelaminnya. Bila kompleks oedipus/Elektra tidak dapat diselesaikan dengan baik, dapat menyebabkan gangguan emosi pada kemudian hari.

5. Fase Latensi (5/6 tahun-11/13 tahun)
Pada fase ini semua aktifitas dan fantasi seksual seakan-akan tertekan, karena perhatian anak lebih tertuju pada hal-hal di luar rumah. Tetapi keingin-tahuan tentang seksualitas tetap berlanjut. Dari teman-teman sejenisnya anak-anak juga menerima informasi tentang seksualitas yang sering menyesatkan. Keterbukaan dengan orangtua dapat meluruskan informasi yang salah dan menyesatkan itu. Pada fase ini dapat terjadi gangguan hubungan homoseksual pada laki-laki maupun wanita.
Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya kontrol diri sehingga anak gagal mengalihkan energinya secara efisien pada minat belajar dan pengembangan ketrampilan.

6. Fase genital (11/13 tahun-18 tahun)
Pada fase ini, proses perkembangan psikoseksual mencapai "titik akhir". Organ-organ seksual mulai aktif sejalan denga mulai berfungsinya hormon hormon seksual, sehingga pada saat ini terjadi perubahan fisik dan psikis. Secara fisik, perubahan yang paling nyata adalah pertumbuhan tulang dan perkembangan organ seks serta tanda-tanda seks sekunder.
Remaja putri mencapai kecepatan pertumbuhan maksimal pada usia sekitar 12-13 tahun, sedangkan remaja putra sekitar 14-15 tahun. Akibat perbedaan waktu ini, biasanya para gadis tampak lebih tinggi daripada anak laki-laki seusia pada periode umur 11-14 tahun. Perkembangan tanda seksual sekunder pada gadis adalah pertumbuhan payudara, tumbuhnya rambut pubes dan terjadinya menstruasi, pantat mulai membesar, pinggang ramping dan suara feminin. Sedangkan pada anak laki-laki terlihat buah pelir dan penis mulai membesar, tumbuhnya rambut pubes, rambut kumis, suara mulai membesar. Terjadi mimpi basah, yaitu keluarnya air mani ketika tidur (mimpi basah). Bersamaan dengan perkembangan itu, muncullah gelombang nafsu birahi baik pada laki-laki maupun wanita. Secara psikis, remaja mulai mengalami rasa cinta dan tertarik pada lawan jenisnya.
Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kekacauan identitas. Itulah fase-fase psikoseksesual yang harus dialami oleh tiap-tiap individu. Dengan mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkan bila gagal ataupun berhasil dalam  melewati tiap fase, maka hendaknya orangtua dan para pendidik dapat mengambil manfaatnya, sehingga kita dapat memberikan kesehatan mental putra-putri kita sedini mungkin.



B.     Gangguan Identitas Gender
Identitas gender adalah bagaimana seseorang merasa bahwa dirinya adalah seorang wanita atau pria. Identitas gender secara normal didasarkan pada anatomi gender. Namun, pada gangguan identitas gender (gender identity disorder) terjadi konflik antara anatomi gender seseorang dengan identitas gendernya.
Gangguan identitas gender dapat berawal dari anak-anak. Anak-anak dengan gangguan ini menemukan bahwa anatomi gender mereka merupakan sumber distress yang terus-menerus dan intensif.
Diagnosis gangguan identitas gender diberikan baik pada anak atau orang dewasa yang mempersepsikan diri mereka secara psikologis sebagai anggota dari gender yang berlawanan dan terus-menerus menunjukan ketidaknyamanan terhadap anatomi gender mereka.
Meskipun belum ada studi yang pasti, namun diyakini bahwa kelainan ini terjadi lima kali lebih banyak pada pria daripada wanita. Gangguan ini memiliki pola yang berbeda pada setiap orang, bisa berakhir atau berkurang pada masa remaja ketika anak ini lebih menerima identitas gender mereka. Atau bisa juga bertahan hingga dewasa dan menyebabkan identitas transeksual, bahkan mereka bisa mengembangkan kelainan tersebut kedalam orientasi gay atau lesbian terutama pada saat remaja.
Banyak orang dewasa transeksual melakukan operasi perubahan gender. Pada operasi ini akan dibentuk alat genital eksternal yang semirip mungkin dengan alat genital gender yang diinginkan. Orang yang telah melakukan operasi tersebut dapat melakukan aktivitas seksual bahkan mencapai orgasme, namun mereka tidak akan mampu melahirkan anak karena tidak memiliki organ reproduksi internal.
Identitas gender berbeda dengan orientasi seksual gay atau lesbian, gangguan identitas gender sangat jarang ditemukan. Orang dengan gangguan identitas gender yang tertarik secara seksual pada anggota dari anatomi gender mereka sendiri tidak menganggap diri mereka gay atau lesbian. Gender yang mereka miliki sebelumnya merupakan kesalahan dimata mereka. Dari sudut pandang mereka, mereka terperangkap pada tubuh dengan gender berbeda.
Tidak ada seorangpun yang mengetahui penyebab terjadinya gangguan identitas gender. Teoritikus psikodinamika menunjuk kedekatan hubungan antara ibu-anak laki-laki yang ekstrem, hubungan yang renggang antara ibu dan ayah, dan ayah yang tidak ada atau jauh dari anaknya. Faktor-faktor keluarga ini dapat menjadi penyebab munculnya identifikasi yang kuat terhadap ibu dari para pria muda, mengakibatkan pembalikan identitas dan peran gender yang diharapkan. Anak perempuan yang memiliki ibu yang lemah dan tidak berpengaruh serta ayah yang kuat dan maskulin dapat mengidentifikasikan dirinya secara berlebihan pada ayah dan mengembangkan prasangka psikologis bahwa dirinya adalah “laki-laki kecil”.
Jika ada pengalaman belajar pada masa awal yang penting dalam hal gangguan identitas gender maka gangguan itu akan terjadi sangat awal di kehidupan. Ketidakseimbangan hormonal di masa-masa prenatal juga berpengaruh. Otak dapat terdiferensiasi pada identitas gender tertentu di satu arah sementara alat genital berkembang di arah yang lain.
Namun, hingga sekarang spekulasi tentang asal-muasal gangguan identitas gender masih sulit dibuktikan.



C.     Kelainan pada Perilaku Seksual
1.      Parafilia


Parafilia (paraphilia) diambil dari akar bahasa Yunani para, yang artinya "pada sisi lain", dan philos artinya "mencintai". Pada parafilia orang menunjukan keterangsangan seksual sebagai stimulus yang tidak biasa. Menurut DSM IV, parafilia melibatkan dorongan dan fantasi seksual yang berulang dan kuat yang bertahan selama 6 bulan atau lebih yang berpusat pada (1) objek bukan manusia seperti pakaian dalam, sepatu, kulit, atau sutra, (2) perasaan merendahkan atau menyakiti diri sendiri atau pasangannya atau (3) anak-anak dan orang lain yang tidak mampu memberikan persetujuan.
Sejumlah parafilia dapat melakukan fungsi seksual tanpa kehadiran stimulus atau fantasi. Sementara yang lainnya menggunakan stimulus parafilia saat berada dibawah stress. Tetapi ada pula yang tidak terangsang kecuali dengan menggunakan stimulus ini baik secara nyata maupun fantasi. Bagi sejumlah individu, parafilia adalah sebuah cara eksklusif untuk mencapai kepuasan seksual.
Sejumlah penderita parafilia secara relatif tidak berbahaya dan tidak menyebabkan jatuh korban. Diantaranya terdapat fethisisme, fethisisme transverstik. Sedangkan yang lain seperti ekshibisionisme dan pedofilia melibatkan orang lain sebagai korban. Parafilia paling berbahaya adalah sadism seksual yang dilakukan dengan pasangan tanpa persetujuannya.

2.      Ekshibisionisme
Ekshibisionisme melibatkan dorongan kuat dan berulang untuk menunjukan alat genital pada orang yang tak dikenal yang tidak menduganya, dengan tujuan agar korban terkejut, syok, atau terangsang secara seksual. Orang tersebut dapat bermasturbasi sambil membayangkan atau benar-benar menunjukan alat genitalnya. Penderita hampir selalu pria dan sasarannya hampir selalu wanita.
Orang yang didiagnosis mengidap ekshibisionisme biasanya tidak tertarik pada kontak seksual actual dengan korban dan karenanya biasanya tidak berbahaya. Namun begitu, korban dapat merasa dirinya dalam bahaya besar dan dapat mengalami trauma karena peristiwa itu. Saran yang paling baik untuk korban adalah untuk tidak menunjukan reaksi apapun pada orang yang mengekspos dirinya dan tetap bersikap biasa saja.
Pria dengan gangguan ini cenderung pemalu, tergantung serta kurang memiliki keterampilan sosial dan seksual, bahkan terhambat secara sosial. Sejumlah orang meragukan maskulinitas mereka dan memiliki perasaan inferior. Rasa jijik dan ketakutan korban membangkitkan rasa menguasai situasi dan meningkatkan keterangsangan seksual mereka.

3.      Fetishisme
Kata Prancis fetiche diduga berasal dari bahasa Portugis feticio yang berarti suatu ‘daya tarik ajaib’. Dalam kasus ini ajaib terletak pada kemampuan objek untuk merangsang secara seksual. Cirri utama dari kelainan ini adalah dorongan seksual yang kuat dan berulang serta membangkitkan fantasi yang melibatkan objek tidak hidup, seperti bagian tertentu dari pakaian. Normal bagi pria untuk menyukai tampilan, rasa dan aroma baju milik kekasih mereka. Namun, pria fethisisme lebih memilih objeknya daripada orang yang memilikinya dan tidak dapat terangsang tanpa objek tersebut. Mereka sering mengalami kepuasan seksual melalui masturbasi sambil membelai, menggosok-gosok atau mencium objek tersebut, atau melihat pasangannya memakai benda tersebut ketika melakukan aktivitas seksual.

4.      Transvestime (Transvestik fethisisme)
Ciri utama dari transvestik fethisisme adalah dorongan yang kuat dan berulang serta fantasi yang berhubungan dan melibatkan memakai pakaian lawan jenis (cross-dressing) dengan tujuan untuk mendapatkan rangsangan seksual. Orang dengan kelainan fethisisme dapat dipuaskan dengan memegang objek seperti pakaian wanita sambil bermasturbasi, sedangkan transvestik ingin mengenakannya. Mereka dapat memakai pakaian feminism dan dandanannya secara lengkap atau lebih menyukai satu bagian dari sebuah pakaian. Kelainan ini dilaporkan hanya terjadi pada pria heteroseksual. Biasanya, pria yang memakai pakaian lawan jenis melakukannya dengan tertutup, dan membayangkan diri mereka adalah wanita yang dicumbunya sambil bermasturbasi.
Pria gay kemungkinan memakai pakaian lawan jenis untuk menarik perhatian pria lain atau karena menyamar sebagai wanita merupakan gaya tersendiri pada beberapa lingkungan sosial bukan karena mereka terangsang secara seksual dengan memakainya. Pria dengan gangguan identitas gender memakai pakaian wanita karena tidak nyaman dengan pakaian pria, bukan karena alasan rangsangan seksual. Sebagian besar penderita transvestik sudah menikah dan terlibat aktivitas seksual dengan istri mereka, namun mereka mencari tambahan kepuasan lain dengan cara berpakaian seperti wanita.

5.      Voyeurisme
Ciri utama dari voyeurisme adalah bertindak berdasarkan atau mengalami distress akibat munculnya dorongan seksual yang kuat dan terus-menerus sehubungan dengan yang melibatkan atau memperhatikan orang, biasanya tidak dikenal, yang sedang berpakaian atau membuka pakaian atau sedang melakukan aktivitas seksual dimana mereka tidak menduganya. Tujuan mengintip ini adalah untuk mencapai kepuasan seksual. Orang voyeurisme biasanya tidak menginginkan hubungan seksual dengan objek yang diobservasi.

6.      Froterisme
Kata prancis frottage mengacu pada teknik artisitk dari membuat gambar dengan cara menggosok pada objek yang timbul. Ciri utama dari parafilia froterisme adalah adanya dorongan seksual yang kuat secara persisten dan fantasi terkait yang melibatkan menggosok atau menyentuh tubuh orang tanpa ijin. Froterisme biasanya terjadi di tempat-tempat ramai, seperti kereta api bawah tanah, bus atau lift. Tindakan menggosok-gosokan atau menyentuhlah, bukan aspek kekerasannya, yang membangkitkan hasrtat seksual seorang pria. Ia mungkin membayangkan dirinya sendiri menikmati hubungan seksual yang eksklusif dan penuh kasih sayang dengan korban. Karena kontak fisik yang terjadi hanya sesaat dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, orang yang melakukan berkemungkinan kecil untuk ditangkap oleh yang berwajib. Bahkan mungkin korban tidak akan menyadari apa yang terjadi pada saat itu atau tidak mengeluarkan banyak protes.

7.      Pedofilia
Pedofilia diambil dari bahasa yunani paidos berarti ‘anak’. Ciri utama dari pedofilia adalah dorongan seksual yang kuat dan berulang serta adanya fantasi terkait yang melibatkan aktivitas seksual dengan seorang anak yang belum puber. Penganiayaan seksual terhadap anak-anak bisa muncul dan bisa juga tidak. Untuk mendiagnosis pedofilia orang itu setidaknya harus berusia 16 tahun, dan setidaknya 5 tahun lebih tua daripada anak yang mereka rasakan ketertarikan secara seksual atau menjadi korban. Pada beberapa kasus orang itu hanya tertarik pada anak-anak namun pada kasus lain penderita tertarik pada anak-anak dan orang dewasa.
Meskipun beberapa orang dengan pedofilia membatasi aktivitas mereka pada atau melucuti pakaian anak-anak, yang lainnya terlibat dalam ekshibisionisme, mencium, membelai, seks oral, hubungan seks anal, dan pada beberapa kasus anak perempuan terjadi hubungan seks vaginal. Beberapa pria dengan pedofilia membatasi aktivitas seksual tersebut pada anak yang masih memiliki hubungan keluarga sedangkan yang lain hanya menganiaya anak-anak yang tidak memiliki hubungan keluarga dengannya. Namun, tidak semua penganiaya anak menderita pedofilia, definisi pedofilia hanya dikemukakan ketika ketertarikan seksual pada anak secara berulang dan terus-menerus.
Terlepas dari streotip yang ada, kebanyakan kasus pedofil tidak melibatkan ‘pria tua kotor’ yang berkeliaran disekitar halaman sekolah dengan menggunakan jas hujan. Pria dengan gangguan ini biasanya (sebaliknya) pengikut hukum yang setia, warga masyarakat yang dihormati, kebanyakan sudah menikah atau bercerai dan memiliki anak.
Penyebab pedofilia kompleks dan bervariasi. Sejumlah kasus cocok dengan streotip orang yang lemah, pemalas, mempunyai hubungan sosial yang canggung dan seorang yang penyendiri yang merasa terancam oleh hubungan dengan orang dewasa dan berbelok pada anak-anak untuk mendapatkan kepuasan seksual karena anak-anak tidak banyak mengkritik dan menuntut. Pada sejumlah kasus lain bisa jadi pengalaman seksual masa kanak-kanak dengan anak lain dirasa sangat menyenangkan sehingga pria tersebut pada saat dewasa berkeinginan untuk merasakan kembali kegembiraan masa lalu. Atau mungkin pada beberapa kasus pedofilia pria yang teraniaya secara seksual pada masa kecilnya membalikan situasi sebagai usaha untuk mendapatkan perasaan kekuasaan.
8.      Masokisme
Masokisme seksual berasal dari nama seorang novelis Australia, Leopard Ritter von Sacher-Masoch yang menulis cerita dan novel tentang pria yang mencari kepuasan seksual dari wanita yang memberikan rasa nyeri/sakit padanya, sering dalam bentuk dipukul atau dicambuk. Masokisme seksual melibatkan dorongan kuat yang terus-menerus dan fantasi yang terkait dengan tindakan seksual yang melibatkan perasaan dipermalukan, diikat, dicambuk, atau dibuat menderita dalam bentuk lainnya. Dorongan ini dapat berupa tindakan yang dapat membuat distress secara personal. Pada sejumlah kasus masokisme seksual, orang tersebut tidak dapat mencapai kepuasan seksual jika tidak ada rasa sakit atau malu.
Pada sejumlah kasus, masokisme seksual melibatkan situasi mengikat atau menyakiti diri sendiri pada saat masturbasi atau berfantasi seksual. Pada kasus lain pasangan diminta untuk mengikat, menutup mata, memukul, atau mencambuk. Ekspresi masokisme yang paling berbahaya adalah hipoksifilia dimana partisipan merasa terangsang secara seksual dengan dikurangi konsumsi oksigennya misalnya dengan jerat, kantung plastik, bahan kimia, atau tekanan pada dada saat melakukan aktivitas seksual.

9.      Sadisme
Sadisme dinamai berdasarkan nama Marquis de Sade, pria Prancis pada abad ke-18 yang terkenal, yang menulis cerita tentang kenikmatan mencapai kepuasan seksual dengan memberikan rasa sakit atau rasa malu pada orang lain. Sadisme seksual melibatkan dorongan yang kuat dan berulang serta fantasi yang terkait untuk melakukan suatu tindakan dimana seseorang dapat terangsang secara seksual dengan menyebabkan penderitaan fisik atau rasa malu pada orang lain. Orang dengan parafilia jenis ini ada yang mewujudkan fantasi mereka atau malah terganggu dengan adanya fantasi tersebut. Mereka dapat mencari pasangan yang sejalan, bisa jadi kekasih atau seorang istri dengan kelainan masokistik, atau bisa juga pekerja seks.



10.  Zoofilia (Bestialitas)
Bestialis adalah bentuk hubungan seksual antara manusia dengan binatang, contohnya manusia dengan kuda, anjing, sapi, kambing, babi, simpanse, maupun makhluk lainnya yang dikategorikan sebagai binatang, baik secara anal, vaginal, maupun oral. Beastilitas lebih sering dilakukan dengan motivasi produksi film porno. Walaupun sebagian kecil manusia memang melakukannya atas dasar nafsu seksual menyimpang dan kecintaan yang berlebihan pada binatang. Sampai hari ini kelegalan beastilitas masih diragukan atau kontroversial karena bertentangan dengan norma agama dan dilarang dalam kitab-kitab agama, beastilitas juga sering dikategorikan sebagai salah satu bentuk penyiksaan hewan oleh sebagian orang.

D.    Disfungsi Seksual
Secara umum, fungsi seksual yang normal memiliki 4 fase respon seksual, yaitu :
Fase 1: Perangsangan
Secara umum karakteristiknya adalah tahap ini bisa berlangsung dari hanya beberapa menit sampai bahkan beberapa jam, termasuk di dalamnya:
·         Meningkatnya tekanan otot-otot
·         Denyut jantung yang semakin cepat dan nafas yang memburu
·         Kulit yang menjadi memerah (terkadang timbul semburat merah di sekitar dada dan punggung)
·         Puting yang mengeras
·         Aliran darah menuju organ genital yang meningkat, yang berakibat klitoris dan labia minora (bibir vagina dalam) pada wanita menjadi basah serta penis pria menegang.
·         Organ intim (vagina) wanita secara umum menjadi basah.
·         Payudara menjadi tegang dan seakan-akan penuh serta organ intim wanita merekah.
·         Testis pria akan mengembang dan scrotum akan penuh cairan yang siap dikeluarkan.

Fase 2: Dataran tinggi (plateau)
Karakteristiknya adalah kelanjutan dan titik sebelum terjadinya orgasme yang ditandai dengan:
·         Organ intim wanita yang semakin mengembang karena meningkatnya aliran darah serta perubahan kulit sekitar organ intim menjadi ke-ungu-an dan menjadi lebih gelap.
·         Klitoris yang menjadi semakin sensitif (bahkan terkadang nyeri bila disentuh) dan terkadang kembali masuk tertutup klitoris untuk menghindari perangsangan oleh penis.
·         Napas, denyut jantung dan tekanan darah yang terus meningkat
·         Otot mengejang di kaki, muka dan tangan
·         Tekanan otot meningkat

Fase 3: Orgasme
Orgasme adalah puncak dari siklus rangsangan seksual. Fase ini adalah fase terpendek dan umumnya hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Tanda-tandanya antara lain:
·         Kontraksi otot yang tak beraturan dan tidak terkontrol
·         Teakan darah, denyut jantung dan nafas berada dalam kondisi puncak dengan kebutuhan oksigen yang masimal.
·         Otot sekitar kaki yang mengejang penuh.
·         Pelepasan yang tiba-tiba dari tekanan seksual
·         Pada wanita organ intim akan berkontraksi, rahim akan terus berkontraksi.
·         Pada pria, kontraksi ritmis otot pada pangkal penis akan mengakibatkan ejakulasi dan pengeluaran semen.
·         Gerakan tubuh tak beraturan akan berlanjut dan keringat akan cenderung keluar dari pori-pori tubuh.

Fase 4: Resolusi
Selama fase ini, tubuh akan kembali pada kondisi normal. Bagian-bagian tubuh yang mengembang dan pmeregang lambat laun akan kembali normal pada ukuran dan warna semula. Tahap ini juga ditandai dengan perasaan puas oleh pasutri, keintiman dan bahkan kelelahan.
Beberapa wanita mampu melanjutkan fase orgasme tersebut dengan sedikit rangsangan dan inilah yang disebut sebagai multiple orgasm. Sebaliknya pria memerlukan waktu setelah orgasme yang disebut dengan periode refraksi, dimana pada waktu ini pria tidak akan mampu orgasme lagi. Periode refraksi ini berlangsung berbeda-beda pada pria, biasanya semakin tua umur maka periode refraksi ini akan berlangsung makin lama.

Disfungsi seksual pada umumnya ditandai dengan hambatan dalam hasrat atau dalam kekuatan (gairah) seksual serta perubahan psikofisiologis khas yang terjadi dalam siklus respon seksual yang lengkap.

Beberapa gangguan seksual atau disfungsi seksual, yaitu :
1.      Gangguan hasrat seksual
Dibagi menjadi dua:
a.       Hipoactive sexual Desire Disorder
Defisiensi atau tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas seksual


b.      Sexual Aversion Disorder
Keengganan terhadap atau menghindari kontak seksual genital dengan pasangan seksual

2.      Gangguan rangsang seksual
1.      Gang Rangsangan Seksual Wanita (Sexual Arousal Disorder)
Ketidakmampuan menetap atau rekuren untuk mencapai atau mempertahankan respon lubrikasi-pembengkakan yang adekuat dari rangsangan seksual, sampai selesainya aktivitas seksual
2.      Gangguan Erektil Laki-laki
Disebut juga disfungsi erektil dan impotensi
Ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang adekuat sampai selesainya aktivitas seksual


3.      Gangguan orgasme
a.       Gang orgasmik wanita
Keterlambatan atau tidak adanya orgasme yang menetap atau rekuren setelah fase rangsangan seksual yang normal
b.      Gang orgasmik Laki-laki
Ejakulasi Prematur
Ejakulasi yang persisten atau rekuren pada stimulasi yang minimal sebelum, pada, atau segera setelah penetrai dan sebelum pasien menginginkan
4.      Gangguan nyeri seksual
a.       Dispareunia
Nyeri genital yang menetap atau rekuren yang berhub dg hubungan seksual baik pada laki-laki ataupun perempuan
b.      Vaginismus
Kontraksi/kekakuan otot pada sepertiga bagian luar vagina yang terjadi secara involunter yang menghalangi insersi penis dan hubungan seks



III.             PENUTUP
Simpulan
·         Perkembangan seksual secara normal terdiri dari, fase oral, fase anal, fase uretral, fase phallus, fase latensi, dan fase genital. Penyimpangan yang terjadi ketika perkembangan seksualitas ini adalah yang paling rentan dalam menyebabkan kelainan seksual dimasa depan
·         Kelainan seksual dapat berupa gangguan identitas gender, parafilia (kelainan dalam memenuhi hasrat seksual), dan disfusngsi seksual (fungsi seksualitas seseorang yang tidak normal secara fisiologis)
·         Gangguan identitas gender adalah ketika terjadi konflik antara anatomi gender dengan identitas gender
·         Parafilia meliputi, ekshibisionisme, fethisisme, pedofilia, sadisme, masokisme, dan lain-lain
·         Disfungsi seksual meliputi hambatan gairah seksual, hambatan rangsang seksual, hambatan orgasme, dan gangguan nyeri seksual.